SKIRINING DAN DETEKSI DINI WANITA SEPANJANG DAUR KEHIDUPANNYA

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Di Indonesia masih dijumpai masalah kesehatan reproduksi yang memerlukan perhatian semua pihak. Masalah-masalah kesehatan reproduksi tersebut muncul dan terjadi akibat pengetahuan dan pemahaman serta tanggung jawab yang rendah. Akses untuk mendapatkan informasi yang benar dan bertanggung jawab mengenai alat-alat dan fungsi reproduksi juga tidak mudah didapatkan (Bambang, 2005).

Secara garis besar periode daur kehidupan wanita melampaui beberapa tahap diantaranya pra konsepsi, konsepsi, pra kelahiran, pra pubertas, pubertas, reproduksi, menopause/klimakterium, pasca menopause dan senium/lansia (Manuaba, 2002). Setelah lahir kehidupan wanita dapat dibagi dalam beberapa masa yaitu masa bayi, masa pubertas, masa reproduksi, masa klimakterium dan masa senium. Masing-masing masa itu mempunyai kekhususan, karena itu gangguan pada setiap masa tersebut juga dapat dikatakan khas karena merupakan penyimpanan dari faal yang khas pula dari masa yang bersangkutan.

Pendekatan yang diterapkan dalam menguraikan ruang lingkup Kesehatan Reproduksi adalah pendekatan siklus hidup, yang berarti memperhatikan kekhususan kebutuhan penannganan sistem reproduksi pada setiap fase kehidupan, serta kesinambungan antar fase kehidupan tersebut. Dengan demikian, masalah kesehatan reproduksi pada setiap fase kehidupan dapat diperkirakan, yang bila tidak ditangani dengan baik maka hal ini dapat berakibat buruk pada masa kehidupan selanjutnya.

 

1.2  Tujuan

  1. Mahasiswi mampu mengetahui proses wanita dalam daur kehidupannya.
  2. Mahasiswi mampu mengetahui pengertian masa bayi, kanak-kanak, pubertas, reproduksi, klimakterium dan menopouse.
  3. Mahasiswi mampu mengetahui asuhan yang diberikan pada wanita dalam daur kehidupannya.

 

1.3  Rumusan Masalah

Dalam makalah ini kami akan menjelaskan mengenai wanita dalam daur kehidupannya (masa bayi, kanak-kanak, pubertas, reproduksi, klimakterium dan menopouse). Mengetahui asuhan yang diberikan, mengetahui skrining pada wanita sepanjang daur kehidupannya.

 

 

 

 

 

BAB II

SKIRINING DAN DETEKSI DINI WANITA SEPANJANG DAUR KEHIDUPANNYA

 

2.1 Skirining

A. Definisi

  1. Skrining (screening): pemeriksaan sekelompok orang untuk memisahkan orang yang sehat dari orang yang mempunyai keadaan patologis yang tidak terdiagnosis atau mempunyai risiko tinggi. (Kamus Dorland ed. 25 : 974 )
  2.  Skrining: pengenalan dini secara pro-aktif pada ibu hamil untuk menemukan adanya masalah atau faktor risiko. ( Rochjati P, 2008 )
  3. Skrining: usaha untuk mengidentifikasi penyakit atau kelainan yang secara klinis belum jelas, dengan menggunakan tes, pemeriksaan atau prosedur tertentu yang dapat digunakan secara cepat untuk membedakan orang yang terlihat sehat, atau benar – benar sehat tapi sesungguhnya menderita kelainan.

 

B. Tujuan Skrining

Untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas dari penyakit dengan pengobatan dini terhadap kasus-kasus yang ditentukan.

C.     Test skrining dapat dilakukan

a)      Pertanyaan/ Quesioner

b)      Pemeriksaan fisik

c)      Pemeriksaan laboratorium

d)     X-ray

e)      Diagnostik imaqina

D.    Jenis Penyakit yang Tepat Untuk Skrining

a)      Merupakan penyakit yang serius

b)      Pengobatan sebelum gejala muncul harus lebih untung dibandingkan dengan setelah gejala muncul

c)      Prevalens penyakit preklinik harus tinggi pada populasi yang di skrening

E.     Syarat-syarat Skrining

a)      Penyakit harus merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting

b)      Harus ada cara pengobatan yang efektif

c)      Tersedia fasilitas pengobatan dan diagnostic

d)     Diketahui stadium prapatogenesis dan patogenesis

e)      Test harus cocok, hanya mengakibatkan sedikit ketidaknyamanan, dapat diterima oleh masyarakat

f)       Telah di mengerti riwayat alamiah penyakit

g)      Biaya harus seimbang, biaya skrining harus sesuai dengan hilangnya konsekuensi kesehatan

 

2.2 Kesehatan Wanita Sepanjang Siklus Kehidupan

1. Konsepsi
a. Perlakuan sama terhadap janin laki-laki/perempuan
b. Pelayanan antenatal, persalinan aman dan nifas serta pelayanan bayi baru lahir.
c. Masalah yang mungkin terjadi pada tahap ini : pengutamaan jenis kelamin, BBLR, kurang gizi (malnutrisi).
d. Pendekatan pelayanan antenatal, promosi kesehatan dan pencegahan penyakit.

  1. Bayi

Pada bayi lahir cukup bulan, pembentukan genetalia internal sudah selesai, jumlah folikel primordial dalam kedua ovarium telah lengkap sebanyak 750.000 butir dan tidak bertambah lagi pada kehidupan selanjutny. Tuba, uterus, vagina, dan genetalia eksternal sudah terbentuk, labia mayora menutupi labia minora, tetapi pada bayi prematur vagina kurang tertutup dan labia minora lebih kelihatan.

Genetalia bayi wanita yang baru lahir itu basah krena sekresi cairan yang jernih. Epitel vgina relative tebal dan pH vagina 5, setelah 2-3 minggu epitel vagina tipis dan pH naik menjadi 7. Pada 1/3 dari bayi wanita, endoserviks tidak terhenti pada ostium uteru eksternum, tetapi menutupi juga sebagian dari porsio servisis uteri, sehingga terdapat apa yang dinamakan pseudoerosio kongenitalis.

  1. Kanak-kanak

Yang khas pada masa kank-kanank ini ialah bahwa perangsangan oleh hormon kelamin sangat kecil, dan memang kadar estrogen dan gonadotropin sangat rendah. Karena itu alat-alat genital dalam masa ini tidak memperlihatkan pertumbuhan yang berarti sampai permulaan pubertas. Dalam masa kanak-kanak pengaruh hipofisis terutama terlihat dalam pertumbuhan badan.

Pada masa kanak-kanak sudah Nampak perbedaan antara anak pria dan wanita, terutama dalam tingkah lakunya, tetapi perbedaan ini ditentukan terutama oleh lingkungan dan pendidikan.

  1. Pubertas

Pubertas merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Secara klinis pubertas mulai dengan timbulnya cirri-ciri kelamin sekunder, dan berakhir kalau sudah ada kemampuan reproduksi. Pubertas pada wnita mulai kira-kira pada umur 8-14 tahun dan berlangsung kurang lebih selama 4 tahun.

Awal pubertas dipengaruhi oleh bangsa, iklim, gizi dan kebudayaan. Kejadian yang penting dalam pubertas ialah pertumbuhan badan yang cepat, timbulnya cirri-ciri kelamin sekunder, menarche dan perubahan psikis. Ovarium mulai berfungsi dibawah pengaruh hormone gonadotropin dan hipofisis, dan hormone ini dikeluarkan atas pegaruh releasing factor dari hipotalamus. Dalam ovarium folikel mulai tumbuh, walaupun folikel-folikel tidak sampai matang, karena sebelumnya mengalami atresia, namun folikel-folikel tersebut sudah mampu mengeluarkan estrogen. Pada saat yang kira-kira bersamaan, korteks kelenjar suprarenal mulai membentuk androgen, dan hormone ini memegang peranan dalam pertumbuhan badn.

  1. Reproduksi

Masa ini merupakan masa terpenting bagi wanita dan berlangsung kira-kira 33 tahun. Haid pada masa ini paling teratur dan siklus pada alat genital bermakna untuk memungkinkan kehamilan. Pada masa ini terjadi ovulasi kurang lebih 450 kali, dalam selama ini wanita berdarah selama 1800 hari. Biarpun pada usia 40 tahun ke atas wanita masih mampu hamil, tetapi fertilitas menurun cepat sesudah usia tersebut.

  1. Klimakterium dan Menopouse

Pegertian

  1. Klimakterium : Bahasa yunani tangga, merupakan masa peralihan antara masa reproduksi dan masa senium
  2. Menopouse : Adalah haid terakhir atau saat terjadinya haid terakhir. Bagian klimakterium sebelum menopause disebut pramenopouse.
  3. Senium : Adalah masa sesudah pasca menopousem ketika telah tercapai keseimbangan baru dalam kehidupan wanita, sehingga tidak ada lagi gangguan vegetative maupun psikis.

Penjelasan :

  1. Klimakterium

Klimakterium bukan suatu keadaan patologik, melainkan suatu masa peralihan yang normal, yang berlagsung beberapa tahun sebelum dan beberapa tahun sesudah menopause. Klimakterium mulai kira-kira 6 tahun sebelum menopause, berdasarkan keadaan endokrinplogik (kadar estrogen mulai turun dan kadar hormone gonadotropin naik), dan jika ada gejala-gejala klinis. Pada klimakterium terdapat penurunan produksi estrogen dan kenaikan hormone gonadropin. Kadar hormone akhir ini tetap tinggi sampai kira-kira 15 tahun setelah menopause, kemudian mulai menurun. Pada wanita dalam klimakterium terjadi perubahan-perubahan tertentu, yang dapat menyebabkan gangguan-gangguan ringan dan kadang-kadang berat. Klimakterium merupakan masa perubahan, umumnya masa itu dilalui oleh wanita tanpa banyak keluhan, hanya pada sebagian kecil ditemukan keluhan yang cukup berat yang menyebabkan wanita bersangkutan minta pertolongan dokter. Gangguan vegetative biasanya berupa rasa panas dengan keluarnya malam dan perasaan jantung berdebar-debar.

  1. Menopouse

Menopouse adalah haid terakhir, atau saat terjadinya haid terakhir. Berhentinya haid bisa didahului oleh siklus haid yang lebih panjang dengan perdarahan yang berkurang. Umur waktu terjadinya menopause dipengaruhi oleh keturunan, kesehatan umum, dan pola kehidupan. Ada kecenderungan dewasa ini untuk terjadinya menopause pada umur yang lebih tua. Terjadinya menopause ada hubungannya dengan menarche. Makin dini menarche terjadi, makin lambat menopause timbul. Menopouse yang artificial karena operasi atau radiasi umumnya menimbulkan keluhan lebih banyak dibandingkan dengan menopause alamiah

  1. Senium

Pada senium telah tercapai keadaan keseimbanganhormonal yang baru, sehingga tidak ada lagi gangguan vegetative maupun psikis. Yang mencolok pada masa ini ialahkemunduran alat-alat tubuh dan kemampuan fisik, seagai proses menjadi tua. Dalam masa senium terjadi pula osteoporosis dengan intensitas berbeda paa masing-masing wanita. Walaupun sebab-sebabnya belum jelas betul, namun berkurangnya pengaruh hormone steroid dan berkurangnya osteo trofoblas memegang peranan dalam hal ini.

 

2.3 Deteksi dini Pada wanita dalam daur kehidupannya.

a. Asuhan Yang Diberikan pada masa menopause

1). Perhatian pada problem menopause
2.). Perhatian pada penyakit utama degenerative, termasuk rabun, gangguan mobilitas dan osteoporosis.
Berkurangnya hormone estrogen pada wanita menopause mungkin menyebabkan berbagai keluhan sebagai berikut :
1).  Penyakit jantung koroner
2).  Kadar estrogen yang cukup, mampu melindungi wanita dari penyakit jantung koroner. Berkurangnya hormone estrogen dapat menurunkan kadar kolesterol baik ( HDL ) dan meningkatnya kadar kolesterol tidak baik ( LDL ) yang meningkatkan kejadian penyakit jantung koroner.
3).  Osteoporosis
4).  Adalah berkurangnya kepadatan tulang pada wanita akibat penurunan kadar hormone estrogen, sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah.
5).  Gangguan mata
6).  Mata terasa kering dan kadang terasa gatal karena produksi air mata berkurang.
7).  Kepikunan ( demensia tipe Alzeimer ).
8).  Kekurangan hormone estrogen juga mempengaruhi susunan saraf pusat dan otak. Penurunan hormone estrogen menyebabkan kesulitan berkonsentrasi, sukar tidur, gelisah, depresi sampai pada kepikunan tipe Alzeimer. Penyakit kepikunan tipe Alzeimer dapat terjadi bilam kekurangan estrogen sudah berlangsung cukup lama dan berat, yang dipengaruhi factor keturunan.

b. Asuhan yang diberikan pada masa Bayi dan kanak-kanak
Asuhan yang diberikan:
1).  ASI Eksklusif
2).  Tumbuh kembang anak dan pemberian makanan dengan gizi seimbang
3).  Imunisasi dan manajemen terpadu balita sakit
4).  Pencegahan dan penanggulangan kekerasan terhadap perempuan (KtP)
5).  Pendidikan dan kesempatan yang sama pada anak laki-laki dan perempuan.

c. Asuhan yang diberikan pada masa remaja

Asuhan apa yang diberikan :
a) Gizi seimbang
b) Informasi tentang kesehatan reproduksi
c) Pencegahan kekerasan seksual (perkosaan)
d) Pencegahan terhadap ketergantungan napza
e) Perkawinan pada usia yang wajar
f) Peningkatan pendidikan, ketrampilan, penghargaan diri dan pertahanan terhadap godaan dan ancaman.

d. Asuhan yang diberikan pada masa pubertas

Asuhan yang diberikan :
a). Kehamilan dan persalinan yang aman

b). Pencegahan kecacatan dan kematian akibat kehamilan pada ibu dan bayi
c). Menjaga jarak kelahiran dan jumlah kehamilan dengan penggunaan alat kontrasepsi ( KB )
d). Pencegahan terhadap PMS/HIV/AIDS
e). Pelayanan kesehatan reproduksi berkualitas
f). Pencegahan dan penanggulangan masalah aborsi
g). Deteksi dini kanker payudara dan leher rahim
h). Pencegahan dan manajemen infertilitas.

2.4 PERAN BIDAN SKRINING UNTUK KEGANASAN DAN PENYAKIT SISTEMIK

a.         Memberikan motivasi pada para wanita untuk melakukan pentingnya melakukan langkah skrining.

b.         Membantu dalam mengidentifikasi orang-orang yang berisikoterkena penyakit atau masalah kesehatan tertentu. Penegakan diagnosis pasti ditindak lanjuti di fasilitas kesehatan

c.         Membantu mengidentifikasi penyakit pada stadium dini,sehingga terapi dapat dimulai secepatnya dan prognosa penyakit dapat diperbaiki

d.        Membantu melindungi kesehatan individual

e.         Membantu dalam pengendalian penyakit infeksi melalui proses identifikasi carrier penyakit di komunitas

f.          Memberikan penyuluhan dalam pemilihan alat kontrasepsi dengan metode barrier (pelindung) seperti diafragma dan kondom karena dapat memberi perlindungan terhadap kanker serviks

g.         Memberikan fasilitas skrining kanker serviks dengan metodepap smear kemudian membantu dalam pengiriman hasil pemeriksaan kelaboratorium.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang bisa kami ambil dari masalah ini ialah Pada masa kanak-kanak sudah Nampak perbedaan antara anak pria dan wanita, terutama dalam tingkah lakunya, tetapi perbedaan ini ditentukan terutama oleh lingkungan dan pendidikan. Pubertas merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Secara klinis pubertas mulai dengan timbulnya cirri-ciri kelamin sekunder, dan berakhir kalau sudah ada kemampuan reproduksi. Masa ini merupakan masa terpenting bagi wanita dan berlangsung kira-kira 33 tahun.  Klimakterium bukan suatu keadaan patologik, melainkan suatu masa peralihan yang normal, yang berlagsung beberapa tahun sebelum dan beberapa tahun sesudah menopause..

 

3.2 Saran

Saran yang dapat kami berikan ialah, kesehatan reproduksi sangatlah memerlukan perhatian semua pihak. Pengetahuan dan pemahaman serta tanggung jawab yang tinggi sangat diperlukan dalam menangani masalah-masalah kesehatan reproduksi. Pendekatan siklus hidup, yang berarti memperhatikan kekhususan kebutuhan penannganan sistem reproduksi pada setiap fase kehidupan, serta kesinambungan antar fase kehidupan sangat perlu diterapkan. Sehingga masalah kesehatan reproduksi pada setiap fase kehidupan dapat kita perkirakan dan dapat kita tangani dengan baik sehingga tidak berakibat buruk pada masa kehidupan selanjutnya. Demikianlah saran dari kami, jika ada kekurangan dari makalah ini kami menerima kritik dan saran yang membangun.