Pembaruan Terkini Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • rikasertiana 4:04 PM on 14 April 2015 Permalink | Balas  

    Hubungan Pemijatan Perut Pada Saat Masa Kehamilan Dengan kejadian Lilitan Tali Pusat Di BPS Dwi Rezeki,Am.Keb Tahun 2011 

    BAB I

    PENDAHULUAN

     

    1. Latar Belakang

           Tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk atau individu agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Salah satu tantangan pembangunan Indonesia di bidang kesehatan adalah masih tingginya angka kematian bayi.(1)

           Sebenarnya lilitan tali pusat tidaklah terlalu membahayakan namun menjadi bahaya ketika memasuki proses persalinan dan terjadi kontraksi rahim dan kepala janin turun memasuki saluran persalinan. Lilitan tali pusat bisa bisa menjadi semakin erat dan menyebabkan penurunan utero – placenter, juga menyebabkan penekanan atau kompresi pada pembuluh – pembuluh darah tali pusat. Akibatnya suplai darah yang mengandung oksigen dan zat makanan berkurang dan janin menjadi hipoksia.(2)

           Sebagian masyarakat beranggapan pijat perut saat hamil perlu dilakukan dengan tujuan agar posisi janin tetap pada tempatnya. Hanya saja perlakuan itu tidak sepenuhnya aman, salah dalam pemijatan bisa membahayakan kondisi ibu dan janin. Banyak risiko yang bisa timbul jika

    melakukan pemijatan pada perut ibu hamil karena pada bagian perut ada kontak langsung pada janin di kandungan. Pertama posisi janin yang semula sudah bagus malah bisa berbalik menjadi tidak normal, tali pusat bisa melilit hingga mengganggu janin, serta keadaan lain yang bisa membahayakan ibu dan janin. Dalam perut, selain rahim juga ada organ – organ lain seperti usus, lambung dan organ penting lainnya. Kesalahan dalam pemijatan juga bisa mempengaruhi organ itu. Pemijatan yang dilakukan oleh tukang pijat berpengalaman tetap tidak dianjurkan, kalaupun ada keluhan sebaiknya diperiksakan ke dokter.(3)

           Indonesia membuat rencana strategi nasional making pregnancy safer (MPS) untuk tahun 2001 – 2010 untuk menurunkan angka kematian maternal menjadi 125/100.000 kelahiran hidup. Target millenium development goal (MDGs) untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) 118/100.000 kelahiran hidup pada tahun 2014. AKI melahirkan belum dapat turun seperti yang diharapkan. Menurut survey demografi kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 AKI 228/100.000 kelahiran hidup.(1)

           AKI dan angka kematian bayi (AKB) merupakan indikator penting untuk menilai tingkat kesejahteraan suatu negara dan status kesehatan masyarakat. Angka kematian bayi sebagian besar adalah kematian neonatal yang berkaitan dengan status kesehatan ibu saat hamil, pengetahuan ibu dan keluarga dengan pentingnya pemeriksaan kehamilan dan peranan tenaga kesehatan serta ketersediaan fasilitas kesehatan. Setiap tahun diperkirakan terjadi 4,3 juta kelahiran mati dan 3,3 juta kematian neonatal di seluruh dunia. Meskipun angka kematian bayi di berbagai dunia telah mengalami penurunan namun kontribusi kematian neonatal pada kematian bayi semakin tinggi.(2)

           Menurut Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002 – 2003 di antara 15.235 kehamilan ditemukan 147 (0,96%) lahir mati dan 224 (1,48%) kematian neonatal dini sehingga menghasilkan angka kematian perinatal 24/1000 kelahiran. AKP menyumbang sekitar 77% dari kematian neonatal, dimana kematian neonatal menyumbang 58% dari total kematian bayi.(2)

    Hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Mahasiswi STIKES Respati Yogyakarta yang bernama Setyaningsih didapatkan hasil bahwa ada hubungan pijat perut pada ibu hamil dengan kejadian posisi sungsang.

    Berdasarkan pada hasil Studi pendahuluan dari bulan januari 2010 – Maret 2011 di BPS Dwi Rezeki didapatkan hasil dari 32 persalinan, 16 atau 50% diantaranya mengalami lilitan tali pusat. Dan berdasarkan pra survei pada bulan Maret 2011 di BPS Dwi Rezeki,Am.Keb dari 10 ibu hamil 8 diantaranya pernah melakukan pemijatan perut pada saat masa kehamilan.

           Beberapa penyebab kematian bayi menurut hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001 dapat bermula dari masa kehamilan 28 minggu sampai hari ke 7 setelah persalinan (masa perinatal). Penyebab kematian bayi yang terbanyak adalah karena pertumbuhan janin yang lambat, kekurangan gizi pada janin, kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah yaitu sebesar 38,85%. Sedangkan penyebab lainnya yang cukup banyak terjadi adalah kejadian kurangnya oksigen dalam rahim (hipoksia intrauterus) karena adanya lilitan tali pusat dan kegagalan nafas secara spontan dan teratur pada saat lahir atau beberapa saat setelah lahir (asfiksia) yaitu 27,97%. Hal ini menunjukkan bahwa 66,82% kematian perinatal dihubungkan pada kondisi ibu saat melahirkan.(2)

           Insidensi hasil penelitian angka kejadian penampilan talipusat di jalan lahir oleh Myles dari Royal Maternity Hospital, Belfaast, Irlandia berkisar antara 0,3 sampai 0,6 persen persalinan. Pengalaman Mount Sinai Hospital melaporkan bahwa insidensi lilitan tali pusat pada presentasi bokong murni, janin aterm, adalah 3 kali lebih besar (1,7 persen) daripada presentasi belakang kepala pada janin aterm, sedangkan untuk presentasi bokong kaki dan presentasi kaki insidensi lilitan tali pusat adalah 20 kali lebih besar (10,9 persen) daripada presentasi belakang kepala pada janin aterm.(2)

                 Berdasarkan latar belakang diatas menarik untuk diketahui hubungan pemijatan perut pada saat masa kehamilan dengan kejadian lilitan tali pusat di BPS Dwi Rezeki,Am.Keb Tahun 2011.

    1. Perumusan Masalah

           Dari uraian latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah ”Apakah ada hubungan pemijatan perut pada saat masa kehamilan dengan kejadian lilitan tali pusat ?”

    1. Tujuan Penelitian
    2. Tujuan umum

           Menganalisa hubungan pemijatan perut pada saat masa kehamilan dengan kejadian lilitan tali pusat

    1. Tujuan khusus

    Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah :

    1. Mengidentifikasi pemijatan perut pada saat masa kehamilan.
    2. Mengidentifikasi kejadian lilitan talipusat
    3. Menganalisis hubungan pemijatan perut pada saat masa kehamilan dengan kejadian lilitan talipusat.
    4. Manfaat Penelitian
    5. Bagi Peneliti

           Menambah pengalaman dan pengetahuan serta memperoleh pengalaman nyata dalam riset tentang hubungan pemijatan perut pada saat masa kehamilan dengan kejadian lilitan talipusat.

    1. Bagi Puskesmas dan Instansi terkait

    Dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi puskesmas dan instansi terkait dalam mengurangi kejadian lilitan tali pusat dengan cara menghindari pemijatan perut pada saat masa kehamilan.

    1. Bagi Institusi Pendidikan

    Untuk menambah khasanah dalam ilmu kebidanan, dapat digunakan sebagai data dasar untuk melaksanakan penelitian dengan hubungan pemijatan perut pada saat masa kehamilan dengan kejadian lilitan talipusat.

    1. Keaslian Penelitian

    Penelitian serupa pernah dilakukan oleh Mahasiswi STIKES Respati Yogyakarta yang bernama Setyaningsih dengan judul penelitian “Hubungan Pijat Perut Pada Ibu Hamil Dengan Kejadian Posisi Sungsang Di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta Tahun 2008”. Dengan variabel bebasnya adalah pijat perut pada ibu hamil dan variabel terikatnya adalah kejadian posisi sungsang menggunakan pendekatan survey analitik. Dengan hasil adanya hubungan pijat perut pada ibu hamil dengan kejadian posisi sungsang.

    Adapun perbedaan dari penelitian ini adalah, judul, waktu serta variabel terikatnya yaitu Hubungan Pemijatan Perut Pada Saat Masa Kehamilan Dengan Kejadian Lilitan Tali Pusat Di BPS Sri Rahayu,Am.Keb Tahun 2014. Adapun persamaan penelitian ini dari sebelumnya adalah variabel bebasnya yaitu pijat perut pada ibu hamil dengan pendekatan survey analitik.

    BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

     

    1. Tinjauan Teori
    1. Pengertian Tali Pusat

    Tali pusat atau funiculus umbilicalis adalah saluran kehidupan bagi janin selama dalam kandungan. Dikatakan saluran kehidupan karena saluran inilah yang selama kehamilan menyuplai zat – zat gizi dan oksigen ke janin. Tetapi begitu bayi lahir, saluran ini sudah tidak diperlukan lagi sehingga harus dipotong dan diikat atau dijepit.(1)

    Letak funiculus umbilicalis terbentang dari permukaan fetal plasenta sampai daerah umbilicus fetus dan berlanjut sebagai kulit fetus pada perbatasan tersebut. Funiculus umbilicalis secara normal berinsersi di bagian tengah plasenta. Bentuk funiculus umbilicalis seperti tali yang memanjang dari tengah plasenta sampai ke umbilicus fetus dan mempunyai sekitar 40 puntiran spiral.(1)

    Ukuran pada saat cukup bulan funiculus umbilicalis panjangnya 40- 50 cm dan diameternya 1 – 2 cm. Hal ini cukup untuk kelahiran bayi tanpa menarik plasenta keluar dari rahim ibu. Tali pusat menjadi lebih panjang jika jumlah air ketuban pada kehamilan trimester pertama dan kedua relatif banyak, disertai dengan mobilitas bayi yang sering. Sebaliknya, jika oligohidramnion dan janin kurang gerak (pada kelainan motorik janin), maka umunya tali pusat lebih pendek. Kerugian apabila tali pusat terlalu panjang adalah dapat terjadi lilitan di sekitar leher atau tubuh janin atau menjadi ikatan yang dapat menyebabkan oklusi pembuluh darah khususnya pada saat persalinan.(1)

    1. Struktur Tali Pusat

          Amnion menutupi funiculus umbilicalis dan merupakan lanjutan amnion yang menutupi permukaan fetal plasenta. Pada ujung fetal amnion melanjutkan diri dengan kulit yang menutupi abdomen. Baik kulit maupun membran amnion berasal dari ektoderm.(4)

    Tiga pembuluh darah setelah struktur lengkung usus, yolk sack dan duktus vitellinus menghilang, tali pusat akhirnya hanya mengandung pembuluh darah umbilikal yang menghubungkan sirkulasi janin dengan plasenta. Ketiga pembuluh darah itu saling berpilin di dalam funiculus umbilicalis dan melanjutkan sebagai pembuluh darah kecil pada vili korion plasenta. Kekuatan aliran darah (kurang lebih 400ml / menit) dalam tali pusat membantu mempertahankan tali pusat dalam posisi relatif lurus dan mencegah terbelitnya tali pusat tersebut ketika janin bergerak – gerak. Ketiga pembuluh darah tersebut yaitu :

    a). Satu vena umbilicalis membawa oksigen dan memberi nutrien ke sistem peredaran darah fetus dari darah maternal yang terletak di dalam spatium choriodeciduale.

    b). Dua arteri umbilicalis mengembalikan produk sisa (limbah) dari fetus ke plasenta dimana produk sisa tersebut diasimilasi ke dalam peredaran darah maternal untuk di ekskresikan.

    c). Jeli wharton merupakan zat yang berkonsistensi lengket yang mengelilingi pembuluh darah pada funiculus umbilicalis. Jeli wharton merupakan suatu ubstansi seperti jeli, juga berasal dari mesoderm seperti halnya pembuluh darah. Jeli ini melindungi pembuluh darah tersebut terhadap kompresi, sehingga pemberian makanan yang kontinyu untuk janin dapat dijamin. Selain itu juga dapat membantu mencegah penekukan tali pusat. Jeli wharton ini akan mengembang jika terkena udara. Jeli wharton ini kadang – kadang terkumpul sebagai gumpalan kecil dan membentuk simpul palsu di dalam funiculus umbilicalis. Jumlah jeli inilah yang menyebabkan funiculus umbilicalis menjadi tebal atau tipis.(4)

    1. Fungsi Tali Pusat

    Fungsi tali pusat yaitu sebagai saluran yang menghubungkan antara plasenta dan bagian tubuh janin sehingga janin mendapat asupan oksigen, makanan dan antibodi dari ibu yang sebelumnya diterima terlebih dahulu oleh plasenta melalui vena umbilicalis.

    Saluran pertukaran bahan – bahan kumuh seperti urea dan gas karbon dioksida yang akan meresap keluar melalui arteri umbilicalis.(5)

    1. Sirkulasi Tali Pusat

         Fetus yang sedang membesar di dalam uterus ibu mempunyai dua keperluan yang sangat penting dan harus dipenuhi, yaitu bekalan oksigen dan nutrien serta penyingkiran bahan kumuh yang dihasilkan oleh sel – selnya. Jika keperluan ini tidak dapat dipenuhi, fetus akan menghadapi masalah dan mungkin maut. Struktur yang bertanggung jawab untuk memenuhi keperluan fetus ialah plasenta. Plasenta yang terdiri dari tisu fetus dan tisu ibu terbentuk dengan lengkapnya pada ujung minggu ke 16.(4)

    Pada plasenta banyak terdapat unjuran seperti jari atau vilus tumbuh dari membran yang menyelimuti fetus dan menembusi dinding uterus, yaitu endometrium. Endometrium pada uterus adalah kaya dengan aliran darah ibu. Di dalam vilus terdapat jaringan kapilari darah fetus. Darah yang kaya oksigen dan nutrien ini dibawa melalui vena umbilikalis yang terdapat di dalam tali pusat ke fetus. Sebaliknya, darah yang sampai ke vilus dari fetus melalui arteri umbilikalis dalam tali pusat mengandung bahan kumuh seperti karbon dioksida dan urea. Bahan kumuh ini akan meresap membran dan memasuki darah ibu yang terdapat di sekeliling vilus. Pertukaran oksigen, nutrien dan bahan kumuh lazimnya berlaku melalui proses resapan. Dengan cara ini keperluan janin dapat terpenuhi.(5)

    Walaupun darah ibu dan darah fetus dalam vilus adalah begitu rapat, tetapi kedua – dua darah tidak bercampur karena dipisahkan oleh suatu membran. Oksigen, air, glukosa, asid amoni, lipid, garam, mineral, vitamin, hormon dan antibodi dari darah ibu perlu menembus membran ini dan memasuki kapilari darah fetus yang terdapat dalam vilus. Selain oksigen dan nutrien, antibodi dari darah ibu juga meresap ke dalam darah fetus melalui plasenta. Antibodi ini melindungi fetus dan bayi yang dilahirkan dari serangan penyakit.(5)

    1. Kelainan Letak Tali Pusat

    Dalam kehamilan trimester akhir atau awal persalinan, talipusat atau bagian – bagian kecil janin (ekstremitas) dapat tampil di jalan lahir melalui bagian terbawah janin atau turun bersama – sama dengannya ke dalam panggul. Prolaps talipusat hendaknya dianggap sebagai suatu keadaan darurat yang cukup serius. Keadaan ini dapat menyebabkan terjadinya penjepitan atau kompresi talipusat, sehingga dapat timbul gangguan sirkulasi utero plasenta. Janin akan kekurangan oksigen atau hipoksia dan dapat mati.(2)

    Bilamana yang tampil di jalan lahir itu talipusat, maka dibedakan atas 3 macam kemungkinan kejadian yang disebut :

    a). Talipusat tersembunyi (occult), bila jerat talipusat berada di samping bagian terbawah janin, pada ketuban yang masih utuh.

    b). Talipusat letak terkemuka (voorliggend), bila jerat talipusat mendahului bagian terbawah janin dan terdapat lebih rendah dari bagian terbawah janin pada ketuban yang masih utuh.

    c). Talipusat menumbung (prolaps), bila jerat talipusat mendahului bagian terbawah janin dan menjulur ke dalam vagina sampai kadang tampak di luar vulva, pada kondisi ketuban yang sudah pecah.

    Talipusat menumbung pada janin dalam presentasi kepala merupakan penyulit obstetrik yang gawat, karena dikaitkan dengan insidensi kematian perinatal yang tinggi. Begitu diagnosis ditegakkan, secepat mungkin bayi harus dilahirkan. Talipusat menumbung pada presentasi sungsang tidak segawat pada presentasi kepala, kecuali kalau talipusat itu dinaiki oleh janin, karena dengan semakin turunnya bokong, talipusat dapat begitu teregang sehingga dapat mengganggu aliran darah talipusat yang akan berakibat fatal bagi janin. Begitu pula talipusat menumbung pada presentasi bahu tidak segawat pada presentasi kepala, kecuali kalau talipusat itu disandang oleh janin seperti orang sedang menyandang senapan, karena dengan semakin turunnya bahu selain janin sendiri semakin tertekuk di jalan lahir, letak janin yang melintang menjadi kasip, juga talipusat akan sangat teregang dan tertekan, sehingga akan mengganggu aliran darah umbilikal yang dapat berakibat fatal bagi janin.(2)

    Pada umunya dapat dikatakan bahwa setiap faktor yang mengganggu adaptasi bagian terendah janin dengan pintu atas panggul akan memberi kecenderungan terjadinya talipusat menumbung.

    Tali pusat secara normal berinsersi di bagian sentral ke dalam permukaan fetal palsenta. Namun, ada beberapa yang memiliki kelainan letak seperti :

    a). Insersi tali pusat Battledore

    Pada kasus ini tali pusat terhubung ke paling pinggir plasenta seperti bentuk bet tenis meja. Kondisi ini tidak bermasalah kecuali sambungannya rapuh.

    b). Insersi tali pusat Velamentous

    Tali pusat berinsersi ke dalam membran agak jauh dari pinggir palsenta. Pembuluh darah umbilikus melewati membran mulai dari tali pusat ke plasenta. Bila letak plasenta normal, tidak berbahaya untuk janin, tetapi tali pusat dapat terputus bila dilakukan tarikan pada penanganan aktif di kala tiga persalinan.

    Tali pusat terlalu panjang memudahkan terjadinya lilitan talipusat, talipusat menumbung dan simpul benar. Lilitan talipusat biasanya terdapat pada leher janin. Lilitan talipusat menyebabkan talipusat menjadi relatif pendek dan mungkin juga menyebabkan letak defleksi. Setelah kepala janin lahir, lilitan perlu segera dibebaskan melalui kepala atau digunting antara 2 kocher.(6)

    1. Penyebab Lilitan Talipusat

    Pada usia kehamilan sebelum 8 bulan umumnya kehamilan janin belum memasuki bagian atas panggul. Pada saat itu ukuran bayi relative kecil dan jumlah air ketuban berlebihan (hidramnion) kemungkinan bayi terlilit talipusat.

    Talipusat yang panjang menyebabkan bayi terlilit. Panjang talipusat bayi rata – rata 50 – 60 cm, namun tiap bayi mempunyai talipusat berbeda – beda. Dikatakan panjang jika melebihi 100 cm dan dikatakan pendek jika kurang dari 30 cm.(5)

    1. Penyebab Bayi Meninggal Karena Lilitan Talipusat

           Puntiran talipusat secara berulang – ulang ke satu arah. Biasanya terjadi pada trimester pertama dan kedua. Ini mengakibatkan arus darah dari ibu ke janin melalui talipusat terhambat total. Karena dalam usia kehamilan umumnya bayi bergerak bebas. Lilitan talipusat pada bayi terlalu erat sampai dua atau tiga lilitan, hal tersebut menyebabkan kompresi talipusat sehingga janin mengalamin hipoksia atau kekurangan oksigen.(7)

    1. Tanda – tanda Bayi Terlilit Talipusat

    Pada bayi dengan usia kehamilan 34 minggu, namun bagian terendah janin (kepala atau bokong) belum memasuki bagian atas rongga panggul. Pada janin letak sungsang atau lintang yang menetap meskipun telah dilakukan usaha memutar janin (versi luar) perlu dicurigai pula adanya lilitan talipusat. Tanda penurunan denyut jantung janin (DJJ) di bawah normal, terutama pada saat kontraksi.(7)

    1. Cara Mengatasi Bayi dengan Lilitan Talipusat

    Memberikan oksigen pada ibu dalam posisi miring, namun bila persalinan masih akan berlangsung lama dengan DJJ yang semakin lambat (Bradikardia), persalinan harus segera diakhiri dengan operasi Caesar. Melalui pemeriksaan teratur dengan bantuan Ultra sonografi (USG) untuk melihat apakah ada gambaran talipusat di sekitar leher, namun tidak dapat dipastikan sepenuhnya bahwa talipusat tersebut melilit leher janin atau tidak. Apalagi untuk menilai erat atau tidaknya lilitan. Namun dengan USG berwarna (Coller Doppen) atau USG tiga dimensi, dan dapat lebih memastikan talipusat tersebut melilit atau tidak di leher, atau sekitar tubuh yang lain pada janin. Serta menilai erat tidaknya lilitan tersebut.(5)

    Dalam pimpinan persalinan terutama kala dua observasi, DJJ sangatlah penting segera setelah his dan refleks mengejan. Kejadian distress janin merupakan indikasi untuk menyelesaikan persalinan sehingga bayi dapat diselamatkan. Jika talipusat melilit longggar di leher bayi, lepaskan melalui kepala bayi, namun jika talipusat melilit erat di leher lakukan penjepitan talipusat dengan klem di dua tempat, kemudian potong diantaranya, kemudian lahirkan bayi dengan segera. Dalam situasi terpaksa bidan adapat melakukan pemotongan talipusat pada waktu pertolongan persalinan bayi.(5)

    1. Manfaat Pijat Pada Ibu Hamil

    Pijat sangat bermanfaat dalam mengurangi stres dan merilekskan badan. Pijat akan membantu meredakan kejang otot dan kram akibat beban ekstra yang harus dibawa oleh perempuan hamil dan perubahan fisik yang terjadi selama kehamilan. Tapi, pastikan menerapkan teknik pijat yang aman untuk perempuan hamil dengan menghindari bagian – bagian tubuh tertentu dan posisi yang berisiko. Pijat berfungsi untuk mengurangi stres dan sekaligus mengajarkan ibu cara rileks. Seperti yang Anda tahu, relaksasi merupakan salah satu kunci utama dalam proses melahirkan. Selain itu, teknik pijat juga membantu menguatkan proses kehamilan dengan cara memperlancar aliran darah, sirkulasi limpa, mengurangi edema, dan membantu menyiapkan kesiapan    mental dan fisik ibu. Selanjutnya, pijat juga berfungsi mengurangi stres persendian akibat beban ekstra dan membantu memaksimalkan kapasitas pernafasan yang sangat diperlukan dalam proses melahirkan.(3)

    1. Bagian Tubuh Yang Perlu Dihindari dari Pijatan

    Jika hendak melakukan pijat, pastikan mencari terapis yang ahli dan berpengalaman memijat perempuan hamil. Tubuh, mulai dari dinding lambung, kulit, payudara hingga sistem pernafasan, akan mengalami perubahan saat kehamilan. Jadi, teknik yang digunakan juga harus sesuai dengan kondisi tubuh Anda. Berikut beberapa bagian tubuh yang memerlukan perhatian khusus:

    a). Perut : Otot dan kulit pada dinding perut akan mengalami peregangan. Karena itu, hindari melakukan pijatan langsung di area perut.

    b). Payudara : Payudara akan membesar dan sensitif sehingga sebaiknya juga dihindari pijatan langsung.

    3 Kaki : Ukuran jantung akan membesar, terjadi perluasan pembuluh darah,            volume darah meningkat hingga 30-50%, terjadi peningkatan sel-sel           darah merah dan darah putih. Selain itu, volume cairan interstitial juga akan meningkat sebanyak 40% pada trimester ke-3, sehingga memicu edema. Di samping itu, perempuan yang mengalami masalah jantung juga berisiko paling besar mengalami gagal jantung pada trimester ke-3.

    Karena itu, berhati-hatilah saat melakukan pijatan di area kaki karena   bisa meningkatkan pengentalan darah. Otot-otot yang perlu direlakskan adalah otot-otot adductor (otot yang menarik kaki dan tangan ke arah          garis pusat tubuh) sehingga otot-otot panggul juga ikut relaks. Selain itu, pastikan Anda berada dalam posisi menyamping.(3)

    1. Landasan Teori

    Tali pusat terlalu panjang memudahkan terjadinya lilitan talipusat, talipusat menumbung dan simpul benar. Lilitan talipusat biasanya terdapat pada leher janin. Lilitan talipusat menyebabkan talipusat menjadi relatif pendek dan mungkin juga menyebabkan letak defleksi. Setelah kepala janin lahir, lilitan perlu segera dibebaskan melalui kepala atau digunting antara 2 kocher.

    Ibu hamil lebih cepat mangalami kelelahan dan hal itu membuat badan menjadi pegal – pegal. Banyak risiko yang bisa timbul jika melakukan pemijatan pada perut ibu hamil. Posisi janin yang semula sudah bagus malah bisa berbalik menjadi tidak normal, lilitan tali pusat hingga mengganggu janin, serta keadaan lain yang bisa membahayakan ibu dan janin.(7)

    Adapun lilitan talipusat dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor, yaitu diantaranya :

    1. 1. Faktor Predisposisi, yang diantaranya adalah letak janin yang tidak normal, posisi janin belum memasuki pintu atas panggul, kehamilan ganda dan hidramnion.(4)
    2. 2. Faktor Eksternal, yang diantaranya adalah pemijatan perut pada saat masa kehamilan.(1)
    1. Kerangka Teori

    Gambar 1 Bagan Kerangka Teori Penelitian

    Sumber : Sarwono,2007 dan http://pijat perutpadakehamilan.net/index.php.

    1. Kerangka Konsep

    Keterangan :

    Diteliti               :

    Tidak diteliti     :

    Gambar 2 Bagan Kerangka Teori Penelitian

    1. Hipotesis

    Ada hubungan pemijatan perut pada saat masa kehamilan dengan kejadian lilitan talipusat.

    BAB III

    METODE PENELITIAN

     

    1. Rancangan Penelitian

    Dalam penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik yaitu menganalisis hubungan pemijatan perut pada saat masa kehamilan dengan kejadian lilitan talipusat dengan model pendekatan Cross Sectional yaitu rancangan penelitian dengan melakukan pengukuran atau pengamatan pada saat yang bersamaan (sekali waktu) antara faktor resiko/paparan dengan penyakit. (8)

    1. Subyek Penelitian
    2. 1. Populasi

    Seluruh ibu nifas di BPS Sri Rahayu,Am.Keb

    1. 2. Sampel

    Seluruh ibu nifas di BPS Sri Rahayu,Am.Keb pada bulan Februari-April 2014, yaitu 30 responden.

    1. 3. Sampling

                       Teknik yang digunakan untuk pengambilan sampel adalah Accidental Sampling yaitu pengambilan sampel secara aksidental ini dilakukan dengan mengambil kasus atau responden yang kebetulan ada atau tersedia. (8)

    1. Instrumen penelitian

             Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan adalah Check list sebagai pedoman wawancara untuk mengetahui riwayat pemijatan perut pada saat masa kehamilan, dengan menggunakan pertanyaan tertutup. Sementara untuk mengetahui kejadian lilitan tali pusat menggunakan laporan persalinan.

     

    1. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

           Variabel adalah Perilaku atau karakteristik yang memberikan nilai beda terhadap sesuatu (benda, manusia, dll).(9) Dalam penelitian ini variabel yang diteliti adalah :

    1. Variabel independen ( bebas ) : pemijatan perut pada saat masa kehamilan.
    2. Variabel dependen ( terikat ) : kejadian lilitan talipusat.
    1. Definisi Operasional

    Tabel 3.1 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

    No. Variabel Definisi Alat Ukur Skala Ukur Hasil
    Bebas
    1. Pemijatan perut pada saat masa kehamilan ·   Kegiatan menekan dengan jari, di bagian perut ibu hamil oleh dukun kampung untuk melemaskan otot sehingga peredaran darah lancar. Check list Nominal 1.      Ya

    2.      Tidak

    Terikat
    2. Kejadian Lilitan talipusat ·   Keadaan dimana tali pusat melilit pada leher atau bagian tubuh lainnya pada janin. Check list Nominal 1.      Ya

    2.      Tidak

    .

    1. Prosedur penelitian
    2. Persiapan

       Sebelum penelitian ini dilakukan, peneliti melakukan tahap-tahap sebagai berikut yaitu melakukan studi pendahuluan, pencarian literatur, penyusunan proposal, penyusunan instrumen, serta ujian proposal sampai dengan selesainya proposal penelitian.

    1. Pelaksanaan

    Sebelum penelitian dilakukan, peneliti mengajukan surat permohonan untuk mendapatkan rekomendasi dari Akbid Kebidanan Martapura dan perijinan penelitian kepada BPS Dwi rezeki, Am.Keb. Setelah mendapatkan persetujuan institusi tempat penelitian, kemudian peneliti melakukan penelitian yang sesuai dengan prinsip-prinsip etis penelitian yaitu meminta persetujuan kepada responden. Kemudian peneliti menjalankan maksud dari penelitian serta dampak yang mungkin terjadi selama dan sesudah pengumpulan data. Pengumpulan data dilakukan dengan cara check list dan melakukan observasi.

    1. Penyelesaian Penelitian/Pembuatan Laporan

       Setelah data terkumpul, kemudian peneliti melakukan tahap pengolahan dan analisis data untuk selanjutnya disajikan dalam bentuk sebuah laporan penelitian.

    1. Teknik Pengumpulan Data

       Pengumpulan data atau sumber data diperoleh dari data primer, dimana data primer diperoleh dengan menggunakan Check list sebagai pedoman wawancara.

    1. Teknik Analisis Data

    Analisis data adalah kegiatan penelitian dengan melakukan analisis data yang meliputi :

    1. Analisis Univariat

    Untuk mengetahui apakah riwayat ibu pada saat hamil pernah dipijat atau tidak dapat diperoleh dari hasil wawancara dengan menggunakan Check list.(9)

    1. Ya = 1
    2. Tidak = 0

    Mengetahui angka kejadian lilitan talipusat dapat diperoleh dengan wawancara menggunakan alat bantu Check list. (9)

    1. Ya = 1
    2. Tidak = 0
    3. Analisis Bivariat

    Analisis ini dilakukan dengan membuat tabel silang antara variabel independen dengan dependen untuk mendapatkan variabel bebas mana yang diduga ada hubungannya pemijatan perut pada saat masa kehamilan dengan kejadian lilitan talipusat. Uji statistik yang digunakan dalam analisis bivariat ini adalah uji chi square untuk menguji kemaknaan hubungan dengan tingkat kepercayaan 95%.

    Apabila nilai p £ 0,05 maka nilai hipotesis diterima yang berarti ada hubungan antara pemijatan perut pada saat masa kehamilan dengan kejadian lilitan talipusat dan sebaliknya.(10)

    1. Lokasi dan Waktu Penelitian
    2. 1. Lokasi Penelitian

       Tempat penelitian dilaksanakan di BPS Sri Rahayu,Am.Keb

    1. Waktu Penelitian

    Waktu penelitian ini akan dilakukan pada bulan Mei sampai dengan Juli 2011. Pelaksanaan penelitian dimulai dengan penyusunan proposal sampai dengan penulisan laporan penelitian.

     

    BAB IV

    HASIL DAN PEMBAHASAN

     

     

    1. Hasi Penelitian
    2. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

    Bidan Praktek Swasta (BPS) Sri Rahayu,Am.Keb berlokasi di jalan Budi Karya Loktabat Utara Banjarbaru Kalimantan Selatan. BPS ini berdiri sejak tahun 2007 dengan Surat Izin Praktek 113/2007/DINKES, terletak di daerah Loktabat Utara. BPS Sri Rahayu,Am.Keb merupakan klinik bersalin swasta yang secara teknis bertanggung jawab kepada Puskesmas Loktabat Utara dan teknis operasional bertanggung jawab kepada Dinas Kesehatan Banjarbaru.

    BPS Sri Rahayu,Am.Keb mempunyai kapasitas 1 ruang pemeriksaan dan 1 ruang bersalin. Di dalam ruang pemeriksaan terdapat 1 buah timbangan dewasa, 1 buah pengukur tinggi badan,1 buah tempat tidur, 1 buah spignomanometer, 1 buah stetoskop, 1 buah meja, 3 buah kursi, 1 buah lemari obat. Sedangkan di dalam ruang bersalin terdapat 1 buah tempat tidur, 1 buah tabung oksigen, 1 buah tiang infus, 2 partus set, 1 timbangan bayi, dan perlengkapan bayi.

    Dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat BPS ini di koordinator langsung oleh bidan Sri Rahayu,Am.Keb. BPS ini melayani pemeriksaan kehamilan, persalinan, imunisasi dan pelayanan KB.

    1. Gambaran Umum Karakteristik Responden

    a). Umur Responden

    Tabel 4.2 Karakteristik umum responden menurut umur pada ibu nifas di BPS Sri Rahayu,Am.Keb bulan Februari – April 2014.

    Kelompok Umur Frekuensi (F) Persentase (%)
    £ 20 tahun 5 16,7 %
    21 – 25 tahun 11 36,7 %
    26 – 30 tahun 10 33,3 %
    31 – 35 tahun 3 10 %
    > 35 tahun 1 3,3 %
    Jumlah 30 100 %

     

    Tabel 2 diatas menunjukkan bahwa kelompok umur terbanyak terdapat pada kelompok umur 21 – 25 tahun yaitu sebanyak 11 responden (36,7 %).

    b). Paritas Responden

    Tabel 4.3 Distribusi jumlah paritas responden pada ibu nifas di BPS Sri Rahayu,Am.Keb bulan Februari – April 2014.

     

    Paritas Frekuensi (F) Persentase (%)
    Primipara 15 50 %
    Multipara 12 40 %
    Grandemulti 3 10 %
    Jumlah 30 100 %

     

    Tabel 3 diatas menunjukkan bahwa paling banyak responden adalah yang primipara yaitu sebanyak 15 responden (50 %).

    1. Analisa Univariat

    a). Pemijatan perut pada saat masa kehamilan

    Tabel 4.4. Distribusi jumlah pemijatan perut pada saat masa kehamilan pada ibu nifas di BPS Dwi Rezeki,Am.Keb bulan Mei – Juni 2011.

     

    Pemijatan Perut Jumlah %
    Pijat 22 73,3%
    Tidak Pijat 8 26,7%

    Berdasarkan tabel di atas mayoritas responden melakukan pijat perut pada saat masa kehamilan yaitu 22 orang (73,3%).

    b). Kejadian lilitan tali pusat

    Tabel 4.5 Frekuensi kejadian lilitan tali pusat pada ibu nifas di BPS Dwi Rezeki,Am.Keb bulan Mei – Juni 2011.

    Lilitan Tali Pusat Jumlah %
    Lilitan 19 63,3%
    Tidak Lilitan 11 36,7%

    Berdasarkan tabel di atas mayoritas responden mengalami lilitan tali pusat saat melahirkan yaitu 19 orang (63,3%).

    1. Analisa Bivariat

    Hasil penelitian pada hubungan pemijatan perut pada saat masa kehamilan dengan kejadian lilitan tali pusat dari 30 responden ibu nifas di BPS Dwi Rezeki,Am.Keb bulan Mei – Juni 2011 disajikan pada tabel 5.

    1. Hubungan pemijatan perut pada saat masa kehamilan dengan kejadian lilitan   tali pusat pada ibu nifas di BPS Dwi Rezeki,Am.Keb bulan Mei – Juni 2011.

    Tabel 4.6 Tabulasi silang antara melakukan pemijatan perut pada saat masa kehamilan dengan kejadian lilitan tali pusat pada ibu nifas di BPS Dwi Rezeki,Am.Keb bulan Mei – Juni 2011.

     

    Pijat Perut Saat Hamil Lilitan Tali Pusat Jumlah
    Ya Tidak
    Ya 17 5 22
    Tidak 2 6 8
    Jumlah 19 11 30

     

    Dari 22 responden yang melakukan pemijatan perut pada saat masa kehamilan ada 17 responden yang mengalami lilitan tali pusat pada saat persalinan dan 5 responden yang tidak mengalami lilitan tali pusat saat persalinan.

    Dari 8 responden yang tidak melakukan pemijatan perut pada saat masa kehamilan ada 2 responden yang mengalami lilitan tali pusat persalinan dan 6 responden yang tidak mengalami lilitan tali pusat saat persalinan.

    Tabel 4.7 Tabulasi uji statistic hubungan pemijatan perut pada saat masa kehamilan dengan kejadian lilitan tali pusat pada ibu nifas di BPS Dwi Rezeki,Am.Keb bulan Mei – Juni 2011.

    Value Df Asymp. Sig. (2-sided) Exact Sig. (2-sided) Exact Sig. (1-sided)
    Pearson Chi-Square 6.903a 1 .009
    Continuity Correctionb 4.836 1 .028
    Likelihood Ratio 6.850 1 .009
    Fisher’s Exact Test .028 .015
    N of Valid Casesb 30

     

    Berdasarkan analisis data di atas dapat diketahui terdapat 1 cells (25,0%) yang nilai expectednya kurang dari 5, maka digunakan uji Fisher Exact Test dengan nilai p = 0,028 < α = 0,05, maka artinya ada hubungan pemijatan perut pada saat masa kehamilan dengan kejadian lilitan tali pusat.

    1. Pembahasan
    2. Pemijatan Perut Pada Saat Masa Kehamilan

    Hasil penelitian dari 30 responden yang terdapat pada tabel 4.3 diketahui bahwa ibu hamil yang melakukan pemijatan perut pada saat masa kehamilan sebanyak 22 responden (73,4 %). Hal ini kemungkinan disebabkan adanya dorongan dari pihak keluarga agar melakukan pemijatan perut pada saat hamil agar posisi janin tetap normal.

    Pemijatan pada ibu hamil memang diperlukan untuk merilekskan organ – organ tubuh dan melancarkan peredaran darah, tetapi pijatan pada bagian perut sangat tidak dianjurkan karena dapat membahayakan keadaan ibu dan janin.

    Pemijatan sudah menjadi tradisi di masyarakat, untuk ibu hamil harus melakukan pijatan pada perut agar posisi janin tetap normal. Pemijatan ini dipengaruhi oleh faktor sosial budaya dan kebiasaan yang dianut oleh masyarakat setempat. Faktor sosial budaya sangat berpengaruh pada kepercayaan masyarakat, dimana masyarakan lebih mempercayai pada dukun kampung untuk memperbaiki letak janin yang abnormal daripada ke tenaga kesehatan. Pemijatan ini juga dipengaruhi oleh kebiasaan yang dianut keluarga secara turun temurun.(11)

    1. Kejadia Lilitan Tali Pusat

    Hasil penelitian dari 30 responden yang terdapat pada tabel 4.3 diketahui bahwa angka kejadian lilitan tali pusat sebanyak 19 responden (63,33 %).

    Faktor – faktor yang mempengaruhi terjadinya lilitan tali pusat pada saat persalinan adalah letak janin yang tidak normal, posisi janin belum memasuki pintu atas panggul, kehamilan ganda, air ketuban yang berlebih, pijat pada bagian perut yang bertujuan untuk memutar posisi janin, serta gerakan janin yang lebih aktif.(12)

    Pada usia kehamilan sebelum 8 bulan umumnya kehamilan janin belum memasuki bagian atas panggul. Pada saat itu ukuran bayi relative kecil dan jumlah air ketuban berlebihan (hidramnion) kemungkinan bayi terlilit talipusat.(2)

    Pijatan pada bagian perut ibu hamil yang bertujuan untuk memperbaiki posisi janin yang abnormal menjadi salah satu penyebab janin terlilit tali pusat karena pijatan yang dilakukan oleh dukun kampung ini benar – benar memutar posisi janin sedangkan dukun kampung sendiri tidak mengetahui dengan pasti apakah posisi janin sudah normal atau belum. Terjadinya putaran pada janin menyebabkan janin jadi terlilit tali pusat dan apabila posisi janin sudah normal menjadi abnormal karena kegiatan memutar janin tersebut.(11)

    Hubungan pemijatan perut pada saat masa kehamilan dengan kejadian lilitan tali pusat.

    Hasil Uji Chi-Square dapat diketahui terdapat 1 cells (25,0%) yang nilai expectednya kurang dari 5, maka digunakan uji Fisher Exact Test dengan nilai p = 0,028 < α = 0,05, maka artinya ada hubungan pemijatan perut pada saat masa kehamilan dengan kejadian lilitan tali pusat.

    Tali pusat terlalu panjang memudahkan terjadinya lilitan talipusat, didukung oleh kebiasaan masyarakat yang sering melakukan pemijatan perut pada saat masa kehamilan bertambahnya angka kejadian lilitan talipusat pada proses persalinan. Pemijatan yang dilakukan oleh dukun kampung mempunyai tujuan untuk memutar posisi janin jadi dapat menyebabkan janin terlilit talipusat. Apabila posisi janin sudah dalam keadaan normal, dilakukan pijatan pada perut dan memutar posisi janin menyebabkan posisi janin menjadi abnormal dan janin terlilit talipusat.(12)

    Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Setyaningsih (2008). Secara statistik hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara penelitian hubungan pijat perut pada ibu hamil dengan kejadian posisi sungsang (P = 0,005) di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta dengan nilai r (rho) = 0,614 yang berarti kekuatan hubungan kedua variabel penelitian adalah kuat.(13)

    BAB V

    KESIMPULAN DAN SARAN

     

    1. Kesimpulan

    Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat dirumuskan kesimpulan sebagai berikut :

    1. Hasil penelitian dari 30 responden diketahui bahwa ibu hamil yang melakukan pemijatan perut pada saat masa kehamilan sebanyak 22 responden (73,4 %).
    2. Hasil penelitian dari 30 responden diketahui bahwa angka kejadian lilitan tali pusat sebanyak 19 responden (63,33 %).
    3. Hasil Uji Chi-Square dengan nilai p = 0,028 < α = 0,05, maka artinya ada hubungan pemijatan perut pada saat masa kehamilan dengan kejadian lilitan tali pusat.
    4. Saran

    Dari kesimpulan di atas, peneliti mengusulkan beberapa saran sebagai berikut :

    1. Bagi Puskesmas dan Instansi terkait

    Hasil penelitian ini diketahui bahwa adanya hubungan antara pemijatan perut pada saat masa kehamilan dengan kejadian lilitan tali pusat, sehingga diharapkan pihak Puskesmas dan Instansi terkait dapat memberikan penyuluhan kepada masyarakat agar menghindari pijat pada bagian perut pada saat masa kehamilan.

    1. Bagi Institusi Pendidikan

    Dapat menambah khasanah dalam ilmu kebidanan, dapat dijadikan data dasar untuk melaksanakan penelitian dengan hubungan pemijatan perut pada saat masa kehamilan dengan kejadian lilitan tali pusat.

    1. Bagi Peneliti Lainnya

    Bagi peneliti selanjutnya, dapat dilakukan penelitian lebih lanjut dengan variabel – variabel lainnya yang berhubungan dengan pemijatan perut pada saat masa kehamilan.

    1. Bagi Masyarakat

    Penelitian ini menunjukkan bahwa adanya hubungan antara pemijatan perut pada saat masa kehamilan dengan kejadian lilitan tali pusat maka diharapkan masyarakat dapat menghindari pemijatan pada bagian perut pada saat masa kehamilan.

     
  • rikasertiana 4:00 PM on 14 April 2015 Permalink | Balas  

    ASUHAN KELUARGA 

    ISI

     
  • rikasertiana 12:57 PM on 18 December 2011 Permalink | Balas  

    Masalah Pemakaian Obat Selama Hamil 

    Oleh : Yudi Hardi Susilo

     

    Kehamilan merupakan anugerah terindah yang diidamkan oleh setiap wanita. Bagi wanita, mengetahui sedini mungkin bahwa dirinya positif hamil adalah sangat penting karena pada beberapa minggu pertama kehamilan, akan terjadi pembentukan organ-organ tubuh yang vital. Perubahan-perubahan fisik dan emosi pada diri ibu hamil biasanya terjadi setiap trimester selama kehamilan. Setiap trimester mempunyai karakteristik yang harus diketahui oleh ibu hamil.

     

    Pada trimester pertama, ibu hamil akan merasa mual pada pagi hari, merasa lelah, dan ingin tidur terus menerus, timbul vena tipis di permukaan kulit, payudara mulai membesar dan daerah sekitar puting susu mulai berwarna gelap, menjadi sering buang air kecil karena perubahan hormon dan bertambah besarnya janin yang menekan kandung kemih. Kemudian secara emosi akan terjadi penurunan libido, perubahan emosi/suasana hati, khawatir dan cemas bentuk tubuh akan berubah dan tidak menarik lagi. Trimester kedua kehamilan, ibu mengalami peningkatan nafsu makan dan terasa lebih berenergi, pengeluaran cairan vagina bertambah, payudara bertambah besar dan nyeri berkurang, perut bagian bawah semakin besar, bayi kadang terasa bergerak, denyut jantung meningkat, kaki dan tumit membengkak, perut terasa gatal karena kulit mulai meregang, timbul tanda bergaris pada perut, sakit pinggang dan kadang hemoroid (ambeien). Perubahan emosi pada trimester kedua sudah mulai berkurang dan stabil, seluruh perhatian tertuju pada anak yang akan dilahirkan, rasa cemas akan meningkat sejalan dengan usia kehamilan.

     

    Pada trimester terakhir, ibu mulai merasakan bayi mulai menendang dengan keras dan gerakannya mulai tampak dari luar, suhu tubuh meningkat sehingga ibu merasa kepanasan, terjadi kontraksi ringan (Braxton-Hicks), mulai keluar cairan putih encer dari payudara (kolostrom), cairan vagina meningkat dan mulai mengental. Secara emosi ibu akan mengalami perasaan gembira bercampur takut karena kelahiran sudah dekat, khawatir akan proses persalinan dan apakah akan melahirkan bayi yang sehat atau tidak.

     

    Perubahan-perubahan yang terjadi selama kehamilan tersebut biasanya merangsang ibu melakukan pengobatan untuk menghilangkan atau mengurangi gejala/rasa sakit yang timbul. Pemakaian obat selama hamil ini akan menimbulkan masalah jika ibu tidak berhati-hati dan melanggar aturan pemakaian obat yang dianjurkan. Hal ini mengingat bahwa dalam pemakaian obat selama kehamilan, tidak saja dihadapi berbagai kemungkinan yang dapat terjadi pada ibu, tetapi juga pada janin. Salah satu contoh kasus obat yang dapat memberikan pengaruh sangat buruk terhadap janin jika diberikan pada periode kehamilan adalah talidomid, yang memberi efek kelainan pada bayi berupa tidak tumbuhnya anggota gerak.

     

    Pengaruh buruk obat terhadap janin, secara umum dapat bersifat toksik, teratogenik, maupun letal tergantung pada sifat obat dan umur kehamilan pada saat minum obat. Pengaruh toksik adalah jika obat yang diminum selama masa kehamilan menyebabkan terjadinya gangguan fisiologik atau bio-kimiawi dari janin yang dikandung, dan biasanya gejalanya baru muncul beberapa saat setelah kelahiran. Pengaruh obat bersifat teratogenik, jika menyebabkan terjadinya malformasi anatomic (kelainan/kekurangan organ tubuh) pada pertumbuhan organ janin. Pengaruh teratogenik ini biasanya terjadi pada dosis subletal. Sedangkan pengaruh obat yang bersifat letal adalah yang mengakibatkan kematian janin dalam kandungan.

     

    Dalam upaya mencegah terjadinya efek yang tidak diharapkan dari obat-obat yang diberikan selama kehamilan, maka oleh U.S. Food and drug Administration (FDA-USA) maupun Australian Drug Evalution Committee, obat-obatan dikategorikan menjadi 5 (lima), yaitu kategori A, kategori B, kategori C, kategori D dan kategori X. Yang termasuk kategori A adalah obat-obat yang telah banyak digunakan oleh wanita hamil tanpa disertai kenaikan frekuensi malformasi janin atau pengaruh buruk lainnya. Contoh obatnya adalah parasetamol, penisilin, eritromisin, glikosida jantung, isoniazid serta bahan-bahan hemopoetik seperti besi dan asam folat. Obat kategori B meliputi obat-obat yang pengalaman pemakaiannya pada wanita hamil masih terbatas, tetapi tidak terbukti meningkatkan frekuensi malformasi atau pengaruh buruk lainnya pada janin. Contoh obatnya adalah simetidin, dipiridamol, spektninomisin, tikasilin, amfoterisin, dopamine, asetilkistein, alkaloid belladonna, karbamazepin, pirimetamin, griseofulvin, trimetoprim dan mebendazol.

     

    Obat kategori C merupakan obat-obat yang dapat memberi pengaruh buruk pada janin tanpa disertai malformasi anatomic, semata-mata karena efek obat didalam tubuh. Umumnya bersifat reversible (membaik kembali). Sebagai contoh adalah obat analgetik-narkotik, fenotiazin, rifampisin, aspirin, antiinflamasi non-steroid dan diuretika. Obat kategori D merupakan obat-obat yang terbukti menyebabkan meningkatnya kejadian malformasi janin pada manusia atau menyebabkan kerusakan janin yang bersifat irreversible (tidak dapat membaik kembali). Obat-obat ini mempunyai efek merugikan bagi janin. Misalnya androgen, fenitoin, pirimidon, fenobarbiton, kini, klonazepam, valproat, steroid anabolic, dan anti koagulansia. Sedangkan obat kategori X adalah obat yang telah terbukti mempunyai resiko tinggi terjadinya pengaruh buruk yang menetap (irreversible) pada janin jika diminum pada masa kehamilan. Obat dalam kategori ini merupakan kontraindikasi mutlak selama kehamilan. Sebagai contoh isotretionin dan dietilbestrol.

     

    Salah satu contoh kasus di masyarakat bahwa tidak jarang dijumpai seorang wanita yang dalam masa kehamilannya menderita hipertensi. Dalam hal ini yang harus diperhatikan adalah apakah wanita tersebut memang penderita hipertensi atau hipertensi yang dialami hanya terjadi selama kehamilan. Meskipun pendekatan terapi antara keduanya berbeda, tetapi tujuan terapinya adalah sama yaitu mencegah terjadinya hipertensi yang lebih berat agar kehamilannya dapat dipertahankan hingga cukup bulan, serta menghindari kemungkinan terjadinya kematian maternal karena eklamsia terutama saat melahirkan. Sejauh mungkin juga diusahakan agar tidak terjadi komplikasi atau kelainan pada yang dilahirkan, baik karena hipertensinya maupun komplikasi yang menyertainya.

     

    Obat-obat antihipertensi yang tidak dianjurkan selama kehamilan meliputi verapamil, nifedipin dan diltiazem karena menunjukkan kecenderungan terjadinya hipoksia pada bayi jika terjadi hipotensi pada ibunya. Diuretika sangat tidak dianjurkan selama masa kehamilan karena di samping mengurangi volume plasama juga mengakibatkan berkurangnya tekanan pada plasma. Obat-obat seperti reserpin sebaiknya tidak diberikan pada wanita hamil karena dapat menyebabkan hilangnya fungsi pengaturan suhu tubuh pada bayi jika dikonsumsi selama trimester III. Sedangkan pemakaian kaptopril dan enalapril sangat tidak dianjurkan selama kehamilan karena meningkatkan kejadian mortalitas janin.

     

    Informasi tentang obat-obat yang memberikan pengaruh buruk selama kehamilan seharusnya dimiliki oleh ibu-ibu yang sedang hamil. Hal ini supaya bisa menjadi pedoman saat keadaan sakit yang terpaksa diderita dan mengharuskan memakai obat-obatan. Untuk obat-obat yang diperoleh melalui apotek, biasanya petugas atau Apoteker akan memberitahu kemungkinan-kemungkinan bahaya yang timbul akibat mengkonsumsi obat tersebut. Sangat penting bagi ibu hamil untuk memberikan informasi umur kehamilannya pada petugas atau Apoteker agar mereka dapat memberi konseling yang tepat sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.

     

    Pemakaian obat selama hamil sebaiknya memang dihindari, akan tetapi bagi tubuh yang sakit dan kondisi sakit tersebut akan bertambah para jika terus dibiarkan, maka pengobata adalah jalan yang terbaik. Ketepatan dalam pemilihan obat diperlukan untuk mengurangi sekecil mungkin efek samping merugikan yang dapat timbul. Selain benar dalam memilih jebis obat, hati-hati dengan obat-obat murah yang ditawarkan di pasaran. Bagi ibu hamil, sakit yang diderita akan mempengaruhi dirinya dan janin yang dikandungnya, maka jangan sekali-kali mengambil resiko menerima obat murah yang ternyata kualitasnya tidak bisa dijamin walaupun kemasan obatnya sama.

    -end-

    • Pernah dimuat pada Koran Banjarmasin Post

     

     
  • rikasertiana 12:54 PM on 18 December 2011 Permalink | Balas  

    Sistem Imun 

    BAB I

    PENDAHULUAN

     

    1.1     Latar Belakang

    Sistem kekebalan tubuh sangat mendasar peranannya bagi kesehatan, Sistem imun membentuk sistem pertahanan badan terhadap bahan asing seperti mikroorganisme, molekul-molekul berpotensi toksik, atau sel-sel tidak normal (sel terinfeksi virus atau malignan). Sistem ini menyerang bahan asing atau antigen dan juga mewujudkan peringatan tentang kejadian tersebut supaya pendedahan yang berkali-kali terhadap bahan yang sama akan mencetuskan gerak balas yang lebih cepat dan bertingkat.Oleh karena itu tentunya harus disertai dengan pola makan sehat, cukup berolahraga, dan terhindar dari masuknya senyawa beracun ke dalam tubuh. Sekali senyawa beracun hadir dalam tubuh, maka harus segera dikeluarkan.

    Kondisi sistem kekebalan tubuh menentukan kualitas hidup. Dalam tubuh yang sehat terdapat sistem kekebalan tubuh yang kuat sehingga daya tahan tubuh terhadap penyakit juga prima. Pada bayi yang baru lahir, pembentukan sistem kekebalan tubuhnya belum sempurna dan memerlukan ASI yang membawa sistem kekebalan tubuh sang ibu untuk membantu daya tahan tubuh bayi. Semakin dewasa, sistem kekebalan tubuh terbentuk sempurna. Namun, pada orang lanjut usia, sistem kekebalan tubuhnya secara alami menurun. Itulah sebabnya timbul penyakit degeneratif atau penyakit penuaan.

    Terlebih bila Anda sedang hamil, karena ibu yang sistem imunnya kurang baik, sering kali mengalami kegagalan dalam kehamilannya. Baik itu keguguran, kehamilan dengan berat badan bayi rendah, kehamilan prematur (kurang bulan), keracunan kehamilan (preeklampsia atau eklampsia), ataupun kematian bayi di dalam kandungan. Tentulah hal ini tidak Anda inginkan.Penelitian dari Potter (1992) menyebutkan terjadinya kegagalan awal dari kehamilan 40% disebabkan karena faktor kekebalan tubuh, 6% karena faktor kromosom, 5% karena abnormalitas fungsi reproduksi, 10% karena penyakit sistemik dari ibu, 29% karena gangguan hormon, sedangkan 10% karena faktor yang tidak diketahui (unexplained).

     
    Perlu diketahui bahwa saat kehamilan memasuki umur empat bulan biasanya terjadi “morning sickness”, yang ditandai dengan tubuh lemas, pusing, mual bahkan muntah di pagi hari hingga sepanjang hari. Namun, mabuk pagi ini sifatnya hanya individual dan gejala ini hanya dialami 50-90% wanita. Ketika morning sickness muncul, banyak calon ibu sering atau tak sengaja mengabaikan kebutuhan gizi. Padahal, pada trimester pertama ini kebutuhan gizi justru perlu perhatian lebih, baik dari segi jumlah maupun mutu makanan. Bila asupan gizi tidak terpenuhi akan menyebabkan sistem imun menurun.

    Pola hidup modern menuntut segala sesuatu dilakukan serba cepat dan instan. Hal ini berdampak juga pada pola makan. Sarapan di dalam kendaraan, makan siang serba tergesa, dan malam karena kelelahan tidak ada nafsu makan. Belum lagi kualitas makanan yang dikonsumsi, polusi udara, kurang berolahraga, dan stres. Apabila terus berlanjut, daya tahan tubuh akan menurun, lesu, cepat lelah, dan mudah terserang penyakit. Karena itu, banyak orang yang masih muda mengidap penyakit degeneratif.

    Kondisi stres dan pola hidup modern sarat polusi, diet tidak seimbang, dan kelelahan menurunkan daya tahan tubuh sehingga memerlukan kecukupan antibodi. Gejala menurunnya daya tahan tubuh sering kali terabaikan sehingga timbul berbagai penyakit infeksi, penuaan dini pada usia produktif.

     

    1.2    Rumusan masalah

    1.      Bagaimana sejarah imunologi?

    2.      Apa pengertian imunologi?

    3.      Apa fungsi sistem imun?

    4.      Bagaimana respon imun?

    5.      Apa saja jenis-jenis imun?

    6.      Apa yang dimaksud dengan antigen dan antibody?

    7.      Apa yang dimaksud sistem komplemen?

    8.      Apa saja sel-sel sistem imun?

    9.      Bagaimana reaksi hipersensitivitas?

    10.   Pengertian Imunisasi ?

    11.   Bagaimana Perkembangan Imunologi pada  janin ?

     

    1.3     Tujuan

    1.      Untuk mengetahui bagaimana sejarah imunologi

    2.      Untuk mengetahui  pengertian imunologi

    3.      Untuk mengetahui fungsi sistem imun

    4.      Untuk mengetahui bagaimana respon imun

    5.      Untuk mengetahui apa saja jenis-jenis imun

    6.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan antigen dan antibody

    7.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud sistem komplemen

    8.      Untuk mengetahui apa saja sel-sel sistem imun

    9.      Untuk mengetahui bagaimana reaksi hipersensitivitas

    10.    Untuk mengetahui pengertian imunisasi

    11.    Untuk mengetahui Perkembangan Imunologi pada janin

     

     

     

     

    BAB II

    PEMBAHASAN

     

    2.1 Sejarah Imunologi

    Pada mulanya imunologi merupakan cabang mikrobiologi yang mempelajari respons tubuh, terutama respons kekebalan, terhadap penyakit infeksi. Pada tahun 1546, Girolamo Fracastoro mengajukan teori kontagion yang menyatakan bahwa pada penyakit infeksi terdapat suatu zat yang dapat memindahkan penyakit tersebut dari satu individu ke individu lain, tetapi zat tersebut sangat kecil sehingga tidak dapat dilihat dengan mata dan pada waktu itu belum dapat diidentifikasi.

    1. Edwar Jenner       

    Pada tahun 1798, Edward Jenner mengamati bahwa seseorang dapat terhindar dari infeksi variola secara alamiah, bila ia telah terpajan sebelumnya dengan cacar sapi (cow pox). Sejak saat itu, mulai dipakailah vaksin cacar walaupun pada waktu itu belum diketahui bagaimana mekanisme yang sebenarnya terjadi. Memang imunologi tidak akan maju bila tidak diiringi dengan kemajuan dalam bidang teknologi, terutama teknologi kedokteran. Dengan ditemukannya mikroskop maka kemajuan dalam bidang mikrobiologi meningkat dan mulai dapat ditelusuri penyebab penyakit infeksi. Penelitian ilmiah mengenai imunologi baru dimulai setelah Louis Pasteur pada tahun 1880 menemukan penyebab penyakit infeksi dan dapat membiak mikroorganisme serta menetapkan teori kuman (germ theory) penyakit. Penemuan ini kemudian dilanjutkan dengan diperolehnya vaksin rabies pada manusia tahun 1885. Hasil karya Pasteur ini kemudian merupakan dasar perkembangan vaksin selanjutnya yang merupakan pencapaian gemilang di bidang imunologi yang memberi dampak positif pada penurunan morbiditas dan mortalitas penyakit infeksi pada anak.

     

    2. Robert Koch

    Pada tahun 1880, Robert Koch menemukan kuman penyebab penyakit tuberkulosis. Dalam rangka mencari vaksin terhadap tuberkulosis ini, ia mengamati adanya reaksi tuberkulin (1891) yang merupakan reaksi hipersensitivitas lambat pada kulit terhadap kuman tuberkulosis. Reaksi tuberkulin ini kemudian oleh Mantoux (1908) dipakai untuk mendiagnosis penyakit tuberkulosis pada anak. Imunologi mulai dipakai untuk menegakkan diagnosis penyakit pada anak. Vaksin terhadap tuberkulosis ditemukan pada tahun 1921 oleh Calmette dan Guerin yang dikenal dengan vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guerin). Kemudian diketahui bahwa tidak hanya mikroorganisme hidup yang dapat menimbulkan kekebalan, bahan yang tidak hidup pun dapat menginduksi kekebalan.

    3. Alexander Yersin Dan Roux

    Setelah Roux dan Yersin menemukan toksin difteri pada tahun 1885, Von Behring dan Kitasato menemukan antitoksin difteri pada  binatang (1890). Sejak itu dimulailah pengobatan dengan serum kebal yang diperoleh dari kuda dan imunologi diterapkan dalam pengobatan penyakit infeksi pada anak. Pengobatan dengan serum kebal ini di kemudian hari berkembang menjadi pengobatan dengan imunoglobulin spesifik atau globulin gama yang diperoleh dari manusia.

    4. Clemens von pirquet

    Dengan pemakaian serum kebal, muncullah secara klinis kelainan akibat pemberian serum ini. Dua orang dokter anak, Clemens von pirquet dari Austria dan Bela Shick dari Hongaria melaporkan pada tahun 1905, bahwa anak yang mendapat suntikan serum kebal berasal dari kuda terkadang menderita panas, pembesaran kelenjar, dan eritema yang dinamakan penyakit serum (serum sickness). Selain itu peneliti Perancis, Charles Richet dan Paul Portier (1901) menemukan bahwa reaksi kekebalan yang diharapkan timbul dengan menyuntikkan zat toksin pada anjing tidak terjadi, bahkan yang terjadi adalah keadaan sebaliknya yaitu kematian sehingga dinamakan dengan istilah anafilaksis (tanpa pencegahan). Mulailah imunologi dilibatkan dalam reaksi lain dari kekebalan akibat pemberian toksin atau antitoksin. Clemens von pirquet dari Austria (1906) memakai istilah reaksi alergi untuk reaksi imunologi ini. Pada tahun 1873 Charles Blackley mempelajari penyakit hay fever, yaitu penyakit dengan gejala klinis konjungtivitis dan rinitis, serta melihat bahwa ada hubungan antara penyakit ini dengan serbuk sari (pollen). Oleh Wolf Eisner (1906) dan Meltzer (1910), penyakit ini dinamakan anafilaksis pada manusia (human anaphylaxis).

    Pada tahun 1911-1914, Noon dan Freeman mencoba mengobati penyakit hay fever dengan cara terapi imun yaitu menyuntikkan serbuk sari subkutan sedikit demi sedikit. Dasarnya pada waktu itu dianggap bahwa serbuk sari mengeluarkan toksin, dengan harapan agar terbentuk antitoksin netralisasi. Sejak itu cara tersebut masih dipakai untuk mengobati penyakit alergi terhadap antigen tertentu yang dikenal dengan cara desensitisasi. Akan tetapi mekanisme yang sekarang dianut adalah berdasarkan pembentukan antibodi penghambat (blocking antibody).

    Dengan penemuan reaksi tuberkulin, Schloss (1912) dan von Pirquet (1915) melakukan uji gores (scratch test) pada kulit untuk diagnosis penyakit alergi pada anak. Talbot (1914), seorang dokter anak, dengan uji gores melihat adanya hu- bungan antara asma anak dengan telur. Cooke (1915) memodifikasi uji gores dengan uji intrakutan, dan melaporkan juga bahwa faktor keturunan memegang peranan pada penyakit alergi. Pada tahun 1913, Shick juga memperkenalkan uji kulit untuk menentukan kepekaan seseorang terhadap kuman difteri, sehingga makin banyak fenomena imun diterapkan dalam uji diagnostik penyakit anak.

    Pada tahun 1923, Cooke dan Coca mengajukan konsep atopi (strange disease) terhadap sekumpulan penyakit alergi yang secara klinis mempunyai manifestasi sebagai hay fever, asma, dermatitis, dan mempunyai predisposisi diturunkan. Mulailah ilmu alergi-imunologi diterapkan dalam kelainan dan penelitian di bidang alergi klinis. Rackemann (1918) melihat bahwa sebagian besar asma pada anak mempunyai dasar alergi dan dinamakan asma tipe ekstrinsik. Prausnitz dan Kustner (1921) menyatakan bahwa zat yang menimbulkan sensitisasi kulit pada uji kulit dapat ditransfer melalui serum penderita. Memang pada waktu itu mekanisme alergi yang tepat belum diketahui. Kini berkat penelitian yang telah dilakukan, proses selular dan molekular yang terjadi pada penyakit alergi dapat dijabarkan. Berbagai macam bentuk kelainan klinis berdasarkan reaksi alergi-imunologi makin banyak ditemukan, terutama dengan bertambah banyaknya obat yang dipakai untuk pengobatan dan diagnosis penyakit.

    Dengan ditemukannya komplemen oleh Bordet (1894), uji diagnostik yang memakai fenomena imun berkembang lagi dengan uji fiksasi komplemen (1901), seperti pada penyakit sifilis. Pada tahun 1896, Widal secara in vitro mendemonstrasikan bahwa serum penderita demam tifoid dapat mengaglutinasi basil tifoid.

    Setelah Landsteiner (1900) menemukan golongan darah ABO, dan disusul dengan golongan darah rhesus oleh Levine dan Stenson (1940) , maka kelainan klinis berdasarkan reaksi imun semakin dikenal. Pada masa itu, fenomena imun yang terjadi baru dapat dijabarkan dengan istilah imunologi saja. Baru pada tahun 1939, 141 tahun setelah penemuan Jenner, Tiselius dan Kabat menemukan secara elektroforesis bahwa antibodi terletak dalam spektrum globulin gama yang kemudian dinamakan imunoglobulin (Ig). Dengan cara imunoelektroforesis diketahui bahwa imunoglobulin terdiri atas 5 kelas yang diberi nama IgA, IgG, IgM, IgD dan IgE (WHO, 1964), dan kemudian diketahui bahwa masing-masing kelas tersebut mempunyai subkelas. Pada tahun 1959 Porter dan Edelman menemukan struktur imunoglobulin, dan tahun 1969 Edelman pertama kali melaporkan urutan asam amino molekul imunoglobulin yang lengkap. Reagin, yaitu faktor yang dianggap berperan pada penyakit alergi, baru ditemukan strukturnya oleh Kimishige dan Teneko Ishizaka pada tahun 1967 dan merupakan kelas imunoglobulin E (IgE). Sekarang banyak penelitian dilakukan mengenai regulasi sintesis IgE, dengan harapan dapat menerapkannya dalam mengendalikan penyakit atopi.

    5. Metchnikoff

    Pada tahun 1883, Metchnikoff sebenarnya telah mengatakan bahwa pertahanan tubuh tidak saja diperankan oleh faktor humoral, tetapi leukosit juga berperan dalam pertahanan tubuh terhadap penyakit infeksi. Pada waktu itu peran leukosit baru dikenal fungsi fagositosisnya. Beliaulah yang menemukan sel makrofag. Sekarang kita mengetahui bahwa sel makrofag aktif berperan pada imunitas selular untuk eliminasi antigen. Baru pada tahun 1964, Cooper dan Good dari penelitiannya pada ayam menyatakan bahwa sistem limfosit terdiri atas 2 populasi, yaitu populasi yang perkembangannya bergantung pada timus dan dinamakan limfosit T, serta populasi yang perkembangannya bergantung pada bursa fabricius dan dinamakan limfosit B. Tetapi pada waktu itu belum dapat dibedakan antara limfosit T dan limfosit B. Limfosit T berperan dalam hipersensitivitas lambat pada kulit dan penolakan jaringan, sedangkan limfosit B dalam produksi antibodi.

     

    2.2  Pengertian

    Sistem imun adalah sistem perlindungan pengaruh luar biologis yang dilakukan oleh sel dan organ khusus pada suatu organisme. Jika sistem kekebalan bekerja dengan benar, sistem ini akan melindungi tubuh terhadap infeksi bakteri dan virus, serta menghancurkan sel kanker dan zat asing lain dalam tubuh. Jika sistem kekebalan melemah, kemampuannya melindungi tubuh juga berkurang, sehingga menyebabkan patogen, termasuk virus yang menyebabkan demam dan flu, dapat berkembang dalam tubuh. Sistem kekebalan juga memberikan pengawasan terhadap sel tumor, dan terhambatnya sistem ini juga telah dilaporkan meningkatkan resiko terkena beberapa jenis kanker.

    2.3 Fungsi Sistem Imun

    1. Melindungi tubuh dari invasi penyebab penyakit dengan menghancurkan dan menghilangkan mikroorganisme atau substansi asing (bakteri, parasit, jamur, dan virus, serta tumor) yang masuk ke dalam tubuh.

    2. Menghilangkan jaringan atau sel yg mati atau rusak untuk perbaikan jaringan.

    3. Mengenali dan menghilangkan sel yang abnormal.

    Sasaran utama yaitu bakteri patogen dan virus. Leukosit merupakan sel imun utama (disamping sel plasma, makrofag, dan sel mast).

     

     

    2.4 Respons Imun

    Tahap:
    1. Deteksi dan mengenali benda asing

    2. Komunikasi dengan sel lain untuk berespons

    3. Rekruitmen bantuan dan koordinasi respons

    4. Destruksi atau supresi penginvasi

     

    2.5 Jenis-Jenis Sistem Imun

    1. Sistem imun non spesifik ,natural atau sudah ada dalam tubuh (pembawaan )

    Merupakan pertahanan tubuh terdepan dalam melawan mikroorganisme. Disebut nonspesifik karena tidak ditujukan terhadap mikroorganisme tertentu.

    Terdiri dari:

    a) Pertahanan fisik/mekanik

    Kulit, selaput lendir , silia saluran pernafasan, batuk, bersin akan mencegah masuknya berbagai kuman patogen kedalam tubuh. Kulit yang rusak misalnya oleh luka bakar dan selaput lendir yang rusak oleh asap rokok akan meninggikan resiko infeksi.

     

    b) Pertahanan biokimia

    Bahan yang disekresi mukosa saluran nafas, kelenjar sebaseus kulit, kel kulit, telinga, spermin dalam semen, mengandung bahan yang berperan dalam pertahanan tubuh secara biokimiawi. asam HCL dalam cairan lambung , lisozim dalam keringat, ludah , air mata dan air susu dapat melindungi tubuh terhadap berbagai kuman gram positif  dengan menghancurkan dinding selnya. Air susu ibu juga mengandung laktoferin dan asam neuraminik yang mempunyai sifat antibacterial terhadap E. coli dan staphylococcus.

    Lisozim yang dilepas oleh makrofag dapat menghancurkan kuman gram negatif dan hal tersebut diperkuat oleh komplemen. Laktoferin dan transferin dalam serum dapat mengikat zan besi yang dibutuhkan untuk kehidupan kuman pseudomonas.

    c) Pertahanan humoral

    Berbagai bahan dalam sirkulasi berperan pada pertahanan tubuh secara humoral. Bahan-bahan tersebut adalah:

     

    Komplemen

    Komplemen mengaktifkan fagosit dan membantu destruktif bakteri dan parasit karena:

     Komplemen dapat menghancurkan sel membran bakteri

      Merupakan faktor kemotaktik yang mengarahkan makrofag ke tempat bakteri

      Komponen komplemen lain yang mengendap pada permukaan bakteri memudahkan makrofag untuk mengenal dan memfagositosis (opsonisasi).

    Interferon

    Adalah suatu glikoprotein yang dihasilkan oleh berbagai sel manusia yang mengandung nukleus dan dilepaskan sebagai respons terhadap infeksi virus. Interveron mempunyai sifat anti virus dengan jalan menginduksi sel-sel sekitar sel yang terinfeksi virus sehingga menjadi resisten terhadap virus. Disamping itu, interveron juga dapat mengaktifkan Natural Killer cell (sel NK). Sel yang diinfeksi virus atau menjadi ganas akan menunjukkan perubahan pada permukaannya. Perubahan tersebut akan dikenal oleh sel NK yang kemudian membunuhnya. Dengan demikian penyebaran virus dapat dicegah.

    C-Reactive Protein (CRP)

    Peranan CRP adalah sebagai opsonin dan dapat mengaktifkan komplemen. CRP dibentuk oleh badan pada saat infeksi. CRP merupakan protein yang kadarnya cepat meningkat (100 x atau lebih) setelah infeksi atau inflamasi akut.

    CRP berperanan pada imunitas non spesifik, karena dengan bantuan Ca++ dapat mengikat berbagai molekul yang terdapat pada banyak bakteri dan jamur.

    d)      Pertahanan seluler

    Fagosit/makrofag dan sel NK berperanan dalam sistem imun non spesifik seluller.

     

     

    Fagosit

    Meskipun berbagai sel dalam tubuh dapat melakukan fagositosis tetapi sel utama yang berperaan dalam pertahanan non spesifik adalah sel mononuclear (monosit dan makrofag) serta sel polimorfonuklear seperti neutrofil.

    Dalam kerjanya sel fagosit juga berinteraksi dengan komplemen dan sistem imun spesifik. Penghancuran kuman terjadi dalam beberapa tingakt sebagai berikut:

    Kemotaksis, menangkap, memakan (fagosistosis), membunuh dan mencerna. Kemotaksis adalah gerakan fagosit ketempat infekis sebagai respon terhadap berbagai factor sperti produk bakteri dan factor biokimiawi yang dilepas pada aktivasi komplemen. Antibody seperti pada halnya dengan komplemen C3b dapat meningkatkan fagosistosis (opsonisasi). Antigen yang diikat antibody akan lebih mudah dikenal oleh fagosit untuk kemudian dihancurkan. Hal tersebut dimungkinkan oleh adanya reseptor untuk fraksi Fc dari immunoglobulin pada permukaan fagosit.

     

    Natural Killer cell (sel NK)

    Sel NK adalah sel limfoid yang ditemukan dalam sirkulasi dan tidak mempunyai cirri sel limfoid dari siitem imun spesifik, maka karenan itu disebut sel non B non T (sel NBNT) atau sel poplasi ketiga.

    Sel NK dapat menghancurkan sel yang mengandung virus atau sel neoplasma dan interveron meempunyai pengaruh dalam mempercepat pematangan dan efeksitolitik sel NK.


    2.   Sistem imun spesifik atau adaptasi

    Mempunyai kemampuan untuk mengenal benda asing. Benda asing yang pertama kali muncul dikenal oleh sistem imun spesifik sehingga terjadi sensitiasi sel-sel imun tersebut. Bila sel imun tersebut berpapasan kembali dengan benda asing yang sama, maka benda asing yang terakhir ini akan dikenal lebih cepat, kemudian akan dihancurkan olehnya. Oleh karena sistem tersebut hanya mengahancurkan benda asing yang sudah dikenal sebelumnya, maka sistem itu disebut spesifik.sistem imun spesifik dapat bekerja sendiri untuk menghancurkan benda asing yang berbahaya, tetapi umumnya terjalin kerjasama yang baik antara antibodi, komplemen , fagosit dan antara sel T makrofag.

    Sistem imun spesifik ada 2 yaitu;

    a)      Sistem imun spesifik humoral

    Yang berperanan dalam sistem imun humoral adalah limfosit B atau sel B. sel B tersebut berasal dari sel asal multipoten. Bila sel B dirangsang oleh benda asing maka sel tersebut akan berproliferasi dan berkembang menjadi sel plasma yang dapat menbentuk zat anti atau antibody. Antibody yang dilepas dapat ditemukan didalam serum. Funsi utama antibody ini ialah untuk pertahanan tehadap infeksi virus, bakteri (ekstraseluler), dan dapat menetralkan toksinnya.

    b)      Sistem imun spesifik selular

    Yang berperanan dalam sistem imun spesifik seluler adalah limfosit T atau sel T. sel tersebut juga berasal dari sel asal yang sama dari sel B. factor timus yang disebut timosin dapat ditemukan dalam peredaran darah sebagai hormon asli dan dapat memberikan pengaruhnya terhadap diferensiasi sel T diperifer. Berbeda dengan sel B , sel T terdiri atas beberapa sel subset yang mempunyai fungsi berlainan. Fungsi utama sel imun spesifik adalah untuk pertahanan terhadap bakteri yang hidup intraseluler, virus, jamur, parasit, dan keganasan.

    Imunitas spesifik dapat terjadi sebagai berikut:

    Alamiah

     Pasif

    Imunitas alamiah pasif ialah pemindahan antibody atau sel darah putih yang disensitisasi dari badan seorang yang imun ke orang lain yang imun, misalnya melalui plasenta dan kolostrum dari ibu ke anak.

     

     

     Aktif

    Imunitas alamiah katif dapat terjadi bila suatu mikoorgansme secara alamiah masuk kedalam tubuh dan menimbulkan pembentukan antibody atau  sel yang tersensitisasi.

    Buatan

     Pasif

    Imunitas buatan pasif dilakukan dengan memberikan serum, antibody, antitoksin misalnya pada tetanus, difteri, gangrengas, gigitan ular dan difesiensi imun atau pemberian sel yang sudah disensitisasi pada tuberkolosis dan hepar.

     Aktif

    Imunitas buatan aktif dapat ditimbulkan dengan vaksinasi melalui pemberian toksoid tetanus, antigen mikro organism baik yang mati maupun yang hidup.

    2.6 Antigen Dan Antibodi

     

    1. Antigen

    a) Pengertian

    Antigen molekul asing yang dapat menimbulkan respon imun spesifik dari limfosit pada manusia dan hewan.  Antigen meliputi molekul yang dimilki virus, bakteri, fungi, protozoa dan cacing parasit.  Molekul antigenic juga ditemukan pada permukaan zat-zat asing seperti serbuk sari dan jaringan yang dicangkokkan.  Sel B dan sel T terspesialisasi bagi jenis antigen yang berlainan dan melakukan aktivitas pertahanan yang berbeda namun saling melengkapi (Baratawidjaja 1991: 13; Campbell,dkk 2000: 77).

    b) Letak Antigen

    Antigen ditemukan di permukaan seluruh sel, tetapi dalam keadaan normal, sistem kekebalan seseorang tidak bereaksi terhadap sel-nya sendiri. Sehingga dapat dikatakan antigen merupakan sebuah zat yang menstimulasi tanggapan imun, terutama dalam produksi antibodi. Antigen biasanya protein atau polisakarida, tetapi dapat juga berupa molekul Iainnya. Permukaan bakteri mengandung banyak protein dan polisakarida yang bersifat antigen, sehingga antigen bisa merupakan bakteri, virus, protein, karbohidrat, sel-sel kanker, dan racun.

     

    c) Karakteristik

    Karakteristik antigen yang sangat menentukan imunogenitas respon imun adalah sebagai berikut:

     Asing (berbeda dari self )

    Pada umumnya, molekul yang dikenal sebagai self tidak bersifat imunogenik, jadi untuk menimbulkan respon imun, molekul harus dikenal sebagai nonself.

     Ukuran molekul

    Imunogen yang paling poten biasanya merupakan protein berukuran besar.  Molekul dengan berat molekul kurang dari 10.000 kurang bersifat imunogenik dan yang berukuran sangat kecil seperti asam amino tidak bersifat imunogenik.

     Kompleksitas kimiawi dan struktural

    Jumah tertentu kompleksitas kimiawi sangat diperlukan, misalnya homopolimer asam amino kurang bersifat munogenik dibandingkan dengan heteropolimer yang mengandung dua atau tiga asam amino yang berbeda.

     Determinan antigenic (epitop)

    Unit terkecil dari antigen kompleks yang dapat dikat antibody disebut dengan determinan antigenic atau epitop.  Antigen dapat mempunyai satu atau lebih determinan.  Suatu determinan mempunyai ukuran lima asam amino atau gula.

     Tatanan genetic penjamu

    Dua strain binatang dari spesies yang sama dapat merespon secara berbeda terhadap antigen yang sama karena perbedaan komposisi gen respon imun.

      Dosis, cara dan waktu pemberian antigen

    Respon imun tergantung kepada banyaknya natigen yang diberikan, maka respon imun tersebut dapat dioptmalkan dengan cara menentukan dosis antigen dengan cermat (termasuk jumlah dosis), cara pemberian dan waktu pemberian (termasuk interval diantara dosis yang diberikan)

     

     

    d)     Pembagian Antigen

    Secara fungsional

      Imunogen, yaitu molekul besar (disebut molekul pembawa).

      Hapten, yaitu kompleks yang terdiri atas molekul kecil.

     

    Pembagian antigen menurut epitop

      Unideterminan, univalent yaitu hanya satu jenis determinan atau epitop pada satu molekul.

      Unideterminan, multivalent yaitu hanya satu determinan tetapi dua atau lebih determian tersebut ditemukan pada satu molekul.

      Multideterminan, univalent yaitu banyak epitop yang bermacam-macam tetapi hanya satu dari setiap macamnya (kebanyakan protein).

      Multideterminan, multivalent yaitu banyak macam determinan dan banyak  dari setiap macam pada satu molekul (antigen dengan berat molekul yang tinggi dan kompleks secara kimiawi). (Baratawidjaja 1991: 14).

     

    Pembagian antigen menurut spesifisitas

      Heteroantigen, yaitu antigen yang terdapat pada jaringan dari spesies yang berbeda.

      Xenoantigen yaitu antigen yang hanya dimiliki spesies tertentu.

      Alloantigen (isoantigen) yaitu antigen yang spesifik untuk individu dalam satu spesies.

      Antigen organ spesifik, yaitu antigen yang dimilki oleh organ yang sama dari spesies yang berbeda.

      Autoantigen, yaitu antigen yang dimiliki oleh alat tubuh sendiri (Baratawidjaja 1991: 14-15; Sell      : 9–10).

     

    Pembagian antigen menurut ketergantungan terhadap sel T

      T dependent yaitu antigen yang memerlukan pengenalan oleh sel T dan sel B untuk dapat menimbulkan respons antibodi.  Sebagai contoh adalah antigen protein.

      T independent yaitu antigen yang dapat merangsang sel B tanpa bantuan sel Tuntuk membentuk antibodi.  Antigen tersebut berupa molekul besar polimerik yang dipecah di dalam badan secara perlahan-lahan, misalnya lipopolisakarida, ficoll, dekstran, levan, dan flagelin polimerik bakteri.(Baratawidjaja 1991: 15).

     

    Pembagian antigen menurut sifat kimiawi

      Hidrat arang (polisakarida)

    Hidrat arang pada umumnya imunogenik.  Glikoprotein dapat menimbulkan respon imun terutama pembentukan antibodi.  Respon imun yang ditimbulkan golongan darah ABO, mempunyai sifat antigen dan spesifisitas imun yang berasal dari polisakarida pada permukaan sel darah merah.

      Lipid

    Lipid biasanya tidak imunogenik, tetapi menjadi imunogenik bila diikat oleh protein carrier.  Lipid dianggap sebagai hapten, sebagai contoh adalah sphingolipid.

      Asam nukleat

    Asam nukleat tdak imunogenik, tetapi menjadi imunogenik bila diikat oleh protein carrier.  DNA dalam bentuk heliksnya biasanya tidak imunogenik.  Respon imun terhadap DNA terjadi pada penderita dengan SLE.

      Protein

    Kebanyakan protein adalah imunogenik dan pada umunya multideterminan univalent.(Baratawidjaja 1991: 15)

     

    e) Reaksi Antigen dan Antibodi

    Dalam lingkungan sekitar kita terdapat banyak substansi bermolekul kecil yang bisa masuk ke dalam tubuh. Substansi kecil tersebut bisa menjadi antigen bila dia melekat pada protein tubuh kita yang dikenal dengan istilah hapten. Substansi-substansi tersebut lolos dari barier respon non spesifik (eksternal maupun internal), kemudian substansi tersebut masuk dan berikatan dengan sel limfosit B yang akan mensintesis pembentukan antibodi.

    Sebelum pertemuan pertamanya dengan sebuah antigen, sel-sel-B menghasilkan molekul immunoglobulin IgM dan IgD yang tergabung pada membran plasma untuk berfungsi sebagai reseptor antigen. Sebuah antigen merangsang sel untuk membuat dan menyisipkan dalam membrannya molekul immunoglobulin yang memiliki daerah pengenalan spesifik untuk antigen itu. Setelah itu, limfosit harus membentuk immunoglobulin untuk antigen yang sama. Pemaparan kedua kali terhadap antigen yang sama memicu respon imun sekunder yang segera terjadi dan meningkatkan titer antibodi yang beredar sebanyak 10 sampai 100 kali kadar sebelumnya. Sifat molekul antigen yang memungkinkannya bereaksi dengan antibodi disebut antigenisitas. Kesanggupan molekul antigen untuk menginduksi respon imun disebut imunogenitas.

    Terdapat berbagai kategori Interaksi antigen-antibodi, kategori tersebut antara lain:

     Primer
    Interaksi tingkat primer adalah saat kejadian awal terikatnya antigen dengan antibodi pada situs identik yang kecil, bernama epitop.

     Sekunder
    Interaksi tingkat sekunder terdiri atas beberapa jenis interaksi, di antaranya:

     Netralisasi
    Adalah jika antibodi secara fisik dapat menghalangi sebagian antigen menimbulkan effect yang merugikan. Contohnya adalah dengan mengikat toksin bakteri, antibody mencegah zat kimia ini berinteraksi dengan sel yang rentan.

     Aglutinasi
    Adalah jika sel-sel asing yang masuk, misalnya bakteri atau transfusi darah yang tidak cocok berikatan bersama-sama membentuk gumpalan

     Presipitasi
    Adalah jika komplek antigen-antibodi yang terbentuk berukuran terlalu besar, sehingga tidak dapat bertahan untuk terus berada di larutan dan akhirnya mengendap.

     Fagositosis
    Adalah jika bagian ekor antibodi yang berikatan dengan antigen mampu mengikat reseptor fagosit (sel penghancur) sehingga memudahkan fagositosis korban yang mengandung antigen tersebut.

     Sitotoksis
    Adalah saat pengikatan antibodi ke antigen juga menginduksi serangan sel pembawa antigen oleh killer cell (sel K). Sel K serupa dengan natural killer cell kecuali bahwa sel K mensyaratkan sel sasaran dilapisi oleh antibodi sebelum dapat dihancurkan melalui proses lisis membran plasmanya.

     Tersier
    Interaksi tingkat tersier adalah munculnya tanda-tanda biologik dari interaksi antigen-antibodi yang dapat berguna atau merusak bagi penderitanya.

     

     

    2. Antibodi

    a)   Pengertian

    Antibodi adalah protein immunoglobulin yang disekresi oleh sel B yang teraktifasi oleh antigen. Antibodi merupakan senjata yang tersusun dari protein dan dibentuk untuk melawan sel-sel asing yang masuk ke tubuh manusia. Senjata ini diproduksi oleh sel-sel B, sekelompok prajurit pejuang dalam sistem kekebalan. Antibodi akan menghancurkan musuh-musuh penyerbu.

     

     

    b)     Fungsi

             Untuk mengikatkan diri kepada sel-sel musuh, yaitu antigen.

             Membusukkan struktur biologi antigen tersebut lalu menghancurkannya.

     

    c)      Sifat Antibodi

    Antibodi mempunyai sifat yang sangat luar biasa, karena untuk membuat antibodi spesifik untuk masing-masing musuh merupakan proses yang luar biasa, dan pantas dicermati. Proses ini dapat terwujud hanya jika sel-sel B mengenal struktur musuhnya dengan baik. Dan, di alam ini terdapat jutaan musuh (antigen). Dia mengetahui polanya berdasarkan perasaan. Sulit bagi seseorang untuk mengingat pola kunci, walau cuma satu, Akan tetapi, satu sel B yang sedemikian kecil untuk dapat dilihat oleh mata, menyimpan jutaan bit informasi dalam memorinya, dan dengan sadar menggunakannya dalam kombinasi yang tepat.

     

    d)     Proses Pembentukan Antibodi

             Antibodi terbentuk secara alami di dalam tubuh manusia dimana substansi tersebut diwariskan dari ibu ke janinnya melalui inntraplasenta. Antibody yang dihasilkan pada bayi yang baru lahir titier masih sangat rendah, dan nanti antibody tersebut berkembang seiring perkembangan seseorang.

             Pembentukan antibody karena keterpaparan dengan antigen yang menghasilkan reaksi imunitas, dimana prosesnya adalah:

    Misalnya bakteri salmonella. Saat antigen (bakteri salmonella) masuk ke dalam tubuh, maka tubuh akan meresponnya karena itu dianggab sebagai benda asing. karena bakteri ini sifatnya interseluler maka dia tidak sanggup untuk di hancurkan dalam makrofag karena bakteri ini juga memproduksi toksinsebagai pertahanan tubuh. Oleh karena itu makrofag juga memproduksi APC yang berfungsi mempresentasikan antigen terhadap limfosit.agar respon imun berlangsung dengan baik.Ada dua limfosit yaitu limfosit B dan limfosit T.

     

     

     

     

     

     

    e)      Klasifikasi Antibodi

    1. IgG (Imuno globulin G)

    IgG merupakan antibodi yang paling umum. Dihasilkan hanya dalam waktu beberapa hari, ia memiliki masa hidup berkisar antara beberapa minggu sampai beberapa tahun. IgG beredar dalam tubuh dan banyak terdapat pada darah, sistem getah bening, dan usus. Mereka mengikuti aliran darah, langsung menuju musuh dan menghambatnya begitu terdeteksi. Mereka mempunyai efek kuat anti-bakteri dan penghancur antigen. Mereka melindungi tubuh terhadap bakteri dan virus, serta menetralkan asam yang terkandung dalam racun.

    Selain itu, IgG mampu menyelip di antara sel-sel dan menyingkirkan bakteri serta musuh mikroorganis yang masuk ke dalam sel-sel dan kulit. Karena kemampuannya serta ukurannya yang kecil, mereka dapat masuk ke dalam plasenta ibu hamil dan melindungi janin dari kemungkinan infeksi. Jika antibodi tidak diciptakan dengan karakteristik yang memungkinkan mereka untuk masuk ke dalam plasenta, maka janin dalam rahim tidak akan terlindungi melawan mikroba. Hal ini dapat menyebabkan kematian sebelum lahir. Karena itu, antibodi sang ibu akan melindungi embrio dari musuh sampai anak itu lahir.

    2. IgA (Imuno globulin A)

    Antibodi ini terdapat pada daerah peka tempat tubuh melawan antigen seperti air mata, air liur, ASI, darah, kantong-kantong udara, lendir, getah lambung, dan sekresi usus. Kepekaan daerah tersebut berhubungan langsung dengan kecenderungan bakteri dan virus yang lebih menyukai media lembap seperti itu. Secara struktur, IgA mirip satu sama lain. Mereka mendiami bagian tubuh yang paling mungkin dimasuki mikroba. Mereka menjaga daerah itu dalam pengawasannya layaknya tentara andal yang ditempatkan untuk melindungi daerah kritis.

    Antibodi ini melindungi janin dari berbagai penyakit pada saat dalam kandungan. Setelah kelahiran, mereka tidak akan meninggalkan sang bayi, melainkan tetap melindunginya. Setiap bayi yang baru lahir membutuhkan pertolongan ibunya, karena IgA tidak terdapat dalam organisme bayi yang baru lahir. Selama periode ini, IgA yang terdapat dalam ASI akan melindungi sistem pencernaan bayi terhadap mikroba. Seperti IgG, jenis antibodi ini juga akan hilang setelah mereka melaksanakan semua tugasnya, pada saat bayi telah berumur beberapa minggu.

     

    3. IgM (Imuno globulin M)

    Antibodi ini terdapat pada darah, getah bening, dan pada permukaan sel B. Pada saat organisme tubuh manusia bertemu dengan antigen, IgM merupakan antibodi pertama yang dihasilkan tubuh untuk melawan musuh. Janin dalam rahim mampu memproduksi IgM pada umur kehamilan enam bulan. Jika musuh menyerang janin, jika janin terinfeksi kuman penyakit, produksi IgM janin akan meningkat. Untuk mengetahui apakah janin telah terinfeksi atau tidak, dapat diketahui dari kadar IgM dalam darah.

    4.  IgD (Imuno globulin D): IgD juga terdapat dalam darah, getah bening, dan pada permukaan sel B. Mereka tidak mampu untuk bertindak sendiri-sendiri. Dengan menempelkan dirinya pada permukaan sel-sel T, mereka membantu sel T menangkap antigen.

    5.   IgE (Imuno globulin E)

    IgE merupakan antibodi yang beredar dalam aliran darah. Antibodi ini bertanggung jawab untuk memanggil para prajurit tempur dan sel darah lainnya untuk berperang. Antibodi ini kadang juga menimbulkan reaksi alergi pada tubuh. Karena itu, kadar IgE tinggi pada tubuh orang yang sedang mengalami alergi.

     

    2.7 Sistem Komplemen

    Sistem komplemen adalah suatu sistem yang terdiri dari seperangkat kompleks protein yang satu dengan lainnya sangat berbeda. Pada kedaan normal komplemen beredar di sirkulasi darah dalam keadaan tidak aktif, yang setiap saat dapat diaktifkan melalui dua jalur yang tidak tergantung satu dengan yang lain, disebut jalur klasik dan jalur alternatif. Aktivasi sistem komplemen menyebabkan interaksi berantai yang menghasilkan berbagai substansi biologik aktif yang diakhiri dengan lisisnya membran sel antigen. Aktivasi sistem komplemen tersebut selain bermanfaat bagi pertahanan tubuh, sebaliknya juga dapat membahayakan bahkan mengakibatkan kematian, hingga efeknya disebut seperti pisau bermata dua. Bila aktivasi komplemen akibat endapan kompleks antigen-antibodi pada jaringan berlangsung terus-menerus, akan terjadi kerusakan jaringan dan dapat menimbulkan penyakit.

    Komplemen sebagian besar disintesis di dalam hepar oleh sel hepatosit, dan juga oleh sel fagosit mononuklear yang berada dalam sirkulasi darah. Komplemen C l juga dapat di sintesis oleh sel epitel lain diluar hepar. Komplemen yang dihasilkan oleh sel fagosit mononuklear terutama akan disintesis ditempat dan waktu terjadinya aktivasi. Sebagian dari komponen protein komplemen diberi nama dengan huruf C: Clq, Clr, CIs, C2, C3, C4, C5, C6, C7, C8 dan C9 berurutan sesuai dengan urutan penemuan unit tersebut, bukan menurut cara kerjanya

    1.      Aktivasi Komplemen

    a)      Aktivasi komplemen jalur klasik

    Aktivasi komplemen melalui jalur klasik atau disebut pula jalur intrinsik, dibagi menjadi 3 tahap. 

             Regulasi jalur klasik, terjadi melalui 2 fase, yaitu melalui aktivitas C1 inhibitor dan penghambatan C3 konvertase.

             Aktivitas C1 inhibitor

    Aktivitas proteolitik C1 dihambat oleh C1 inhibitor (C1 INH). Sebagian besar C1 dalam peredaran darah terikat pada C1 INH. Ikatan antara C1 dengan kompleks antigen-antibodi akan melepaskan C1 dari hambatan C1 INH.

             Penghambatan C3 konvertase Pembentukan C3 konvertase dihambat oleh beberapa regulator.

    b)     Aktivasi komplemen jalur alternatif

    Aktivasi jalur alternatif atau disebut pula jalur properdin, terjadi tanpa melalui tiga reaksi pertama yang terdapat pada jalur klasik (C1 ,C4 dan C2) dan juga tidak memerlukan antibodi IgG dan IgM.  Pada keadaan normal ikatan tioester pada C3 diaktifkan terus menerus dalam jumlah yang sedikit baik melalui reaksi dengan H2O2 ataupun dengan sisa enzim proteolitik yang terdapat sedikit di dalam plasma. Komplemen C3 dipecah menjadi frclgmen C3a dan C3b. Fragmen C3b bersama dengan ion Mg++ dan faktor B membentuk C3bB. Fragmen C3bB diaktifkan oleh faktor D menjadi C3bBb yang aktif (C3 konvertase) (Lihat Gambar 5-2). Pada keadaan normal reaksi ini berjalan terus dalam jumlah kecil sehingga tidak terjadi aktivasi komplemen selanjutnya. Lagi pula C3b dapat diinaktivasi oleh faktor H dan faktor I menjadi iC3b, dan selanjutnya dengan pengaruh tripsin zat yang sudah tidak aktif ini dapat dilarutkan  dalam plasma (lihat Gambar 5-3 ) . Tetapi bila pada suatu saat ada bahan atau zat yang dapat mengikat dan melindurlgi C3b dan menstabilkan C3bBb sehingga jumlahnya menjadi banyak, maka C3b yang terbentuk dari pemecahan C3 menjadi banyak pula, dan terjadilah aktivasi komplemen selanjutnya. Bahan atau zat tersebut dapat berupa mikroorganisme, polisakarida (endotoksin, zimosan), dan bisa ular. Aktivasi komplemen melalui cara ini dinamakan aktivasi jalur alternatif. Antibodi yang tidak dapat mengaktivasi jalur klasik misalnya IgG4, IgA2 dan IgE juga dapat mengaktifkan komplemen melalui jalur alternatif. Jalur alternatif mulai dapat diaktifkan bila molekul C3b menempel pada sel sasaran. Dengan menempelnya C3b pada permukaan sel sasaran tersebut, maka aktivasi jalur alternatif dimulai; enzim pada permukaan C3Bb akan lebih diaktifkan, untuk selanjutnya akan mengaktifkan C3 dalam jumlah yang besar dan akan menghasilkan C3a dan C3b dalam jumlah yang besar pula. Pada reaksi awal ini suatu protein lain, properdin dapat ikut beraksi menstabilkan C3Bb; oleh karena itu seringkali jalur ini juga disebut sebagai jalur properdin. Juga oleh proses aktivasi ini C3b akan terlindungi dari proses penghancuran oleh faktor H dan faktor I. Tahap akhir jalur alternatif adalah aktivasi yang terjadi setelah lingkaran aktivasi C3. C3b yang dihasilkan dalam jumlah besar akan berikatan pada permukaan membran sel. Komplemen C5 akan berikatan dengan C3b yang berada pada permukaan membran sel dan selanjutnya oleh fragmen C3bBb yang aktif akan dipecah menjadi C5a dan C5b. Reaksi selanjutnya seperti yang terjadi pada jalur altematif (kompleks serangan membran).

     

    2.      Efek Biologik Komplemen

    Fungsi sistem komplemen pada pertahanan tubuh dapat dibagi dalam dua golongan besar, 1) lisis sel sasaran oleh kompleks serangan membran, dan 2) sifat biologik aktif fragmen yang terbentuk selama aktivasi.

     

     

     

     

    a)      Sitolisis

    Pada aktivasi sitolisis ini (kompleks serangan membran) yang berfungsi adalah C5-C9. Mekanisme ini sangat penting bagi pertahanan tubuh melawan mikrooorganisme. Proses lisis ini dapat melalui jalur alternatif maupun jalur klasik.

     

    b)     Sifat biologik aktif

    Opsonisasi dan peningkatan fungsi fagositosis

    Fagositosis yang diperkuat oleh proses opsonisasi C3b dan iC3b mungkin merupakan mekanisme pertahanan utama terhadap infeksi bakteri dan jamur secara sistemik Fagositosis ini juga lebih meningkat bilamana bakteri disamping berikatan dengan komplemen juga berikatan dengan antibodi IgG atau IgM. Melekatnya antibodi dan fragmen komplemen pada reseptor spesifik yang terdapat pada sel fagosit tidak hanya menyebabkan opsonisasi, tetapi juga memacu untuk terjadinya fagositosis.

     

    Anafilaksis dan kemotaksis

    C3a, C4a dan C5a disebut anafilatoksin oleh karena dapat memacu sel mast dan sel basofil untuk melepaskan mediator kimia yang dapat meningkatkan permeabilitas dan kontraksi otot polos vaskular. Reseptor C3a dan C4a terdapat pada permukaan sel mast, sel basofil, otot polos dan limfosit. Reseptor C5a terdapat pada permukaan sel mast, basofil, netrofil, monosit, makrofag, dan sel endotelium.

    Melekatnya anafilatoksin pada reseptor yang terdapat pada otot polos menyebabkan kontraksi otot polos tersebut. Untuk mekanisme ini C5a adalah yang paling poten dan C4a adalah yang paling lemah.

    C5a juga mempunyai sifat yang tidak dimiliki oleh C3a dan C4a; oleh karena C5a juga mempunyai reseptor yang spesifik pada permukaan sel-sel fagosit maka C5a dapat menarik sel-sel fagosit tersebut bergerak ke tempat mikroorganisme, benda asing atau jaringan yang rusak; proses ini disebut kemotaksis. Juga setelah melekat C5a dapat merangsang metabolisme oksidatif dari sel fagosit tersebut sehingga dapat meningkatkan daya untuk memusnahkan mikroorganisme atau benda asing tersebut

     

     

    Proses peradangan

    Kombinasi dari semua fungsi yang tersebut diatas mengakibatkan terkumpulnya sel-sel dan serum protein yang diperlukan untuk terjadinya proses dalam rangka memusnahkan mikroorganisme atau benda asing tersebut; proses ini disebut peradangan.

     

    Pelarutan dan eliminasi kompleks imun

    Kompleks imun dalam jumlah kecil selalu terbentuk dalam sirkulasi, dan dapat meningkat secara dramatis bilamana terdapat peningkatan antigen. Kompleks imun ini bilamana berlebihan dapat membahayakan oleh karena dapat mengendap pada dinding pembuluh darah, mengaktivasi komplemen dan menimbulkan kerusakan jaringan. Pembentukan kompleks imun bilamana berlebihan, tidak hanya membutuhkan Fab dari imunoglobulin tetapi juga interaksi dengan Fc. Oleh karena itu pengikatan komplemen pada Fc immunoglobulin suatu kompleks imun dapat membuat ikatan antigen-antibodi yang sudah terbentuk menjadi lemah.

    Untuk menetralkan terbentuknya kompleks imun yang berlebihan ini, sistem komplemen dapat meningkatkan fungsi fagosit. Fungsi ini terutama oleh reseptor yang terdapat pada permukaan eritrosit. Kompleks imun yang beredar mengaktifkan komplemen dan mengaktifkan fragmen C3b yang menempel pada antigen. Kompleks tersebut akan berikatan dengan reseptor pada permukaan eritrosit. Pada waktu sirkulasi eritrosit melewati hati dan limpa, maka sel fagosit dalam limpa dan hati (sel Kupffer) dapat membersihkan kompleks imun yang terdapat pada permukaan sel eritrosit tersebut.

     

    3.      Regulasi

    Aktivasi komplemen dikontrol melalui tiga mekanisme utama, yaitu

    a)      komponen komplemen yang sudah diaktifkan biasanya ada dalam bentuk yang tidak stabil sehingga bila tidak berikatan dengan komplemen berikutnya akan rusak,

    b)      adanya beberapa inhibitor yang spesifik misalnya C1 esterase inhibitor, faktor I dan faktor H,

    c)      pada permukaan membran sel terdapat protein yang dapat merusak fragmen komplemen yang melekat.

     

    Regulasi jalur klasik Regulasi jalur klasik terutama terjadi melalui 2 fase, yaitu melalui aktivitas C1 inhibitor dan penghambatan C3 konvertase.

     

    Regulasi jalur alternatif

    Jalur altematif juga di regulasi pada berbagai fase oleh beberapa protein dalam sirkulasi maupun yang terdapat pada permukaan membran. Faktor H berkompetisi dengan faktor B dan Bb untuk berikatan dengan C3b. Juga CR1 dan DAF dapat berikatan dengan C3b sehingga berkompetisi dengan faktor B. Dengan adanya hambatan ini maka pembentukan C3 konvertase juga dapat dihambat. Faktor I, menghambat pembentukan C3bBb; dalam fungsinya ini faktor I dibantu oleh kofaktor H, CR1 dan MCP. Faktor I memecah C3b dan yang tertinggal melekat pada permukaan sel adalah inaktif C3b (iC3b), yang tidak dapat membentuk C3 konvertase, selanjutnya iC3b dipecah menjadi C3dg dan terakhir menjadi C3d.

     

    2.8 Sel-Sel Sistem Imun

     

    1.   Sel-Sel Sistem Imun Nonspesifik

    Sel sistem imun non spesifik bereaksi tanpa memandang apakah agen pencetus pernah atau belum pernah dijumpai. Reaksinya pun tidak perlu diaktivasi terlebih dahulu seperti pada sistem imun spesifik. Lebih jauh lagi respon imun non spesifik merupakan lini pertama pertahanan terhadap berbagai faktor yang mengancam. Sel-sel yang berperan dalamnsistem imun nonspesifik adalah sel fagosit, sel nol, dan sel mediator.

    a)      Sel Fagosit

    Sel fagosit terbagi dua jenis, yaitu fagosit mononuclear dan fagosit polimorfonuklear. Fagosit mononuclear terdiri dari sel monosit dan sel makrofag, sedangkan fagosit polimorfonuclear terdiri dari neutrofil dan eusinofil.

    Sel Monosit dan Sel Makrofag

    Persentase sel monosit dalam sel darah putih berkisar 5 %. Monosit bersirkulasi dalam darah hanya selama beberapa jam, kemudian bermigrasi ke dalam jaringan, dan berkembang menjadi makrofaga (macrophage) besar (pemangsa besar). Makrofaga jaringan, yang merupakan sel-sel fagositik terbesar, adalah fagosit yang sangat efektif dan berumur panjang. Sel-sel ini menjulurkan kaki semu (psedopodia) yang panjang yang dapat menempel ke polisakarida pada permukaan mikroba dan menelan mikroba itu, sebelum kemudian dirusak oleh enzim-enzim di dalam lisosom makrofaga itu.

    Beberapa makrofaga bermigrasi ke seluruh tubuh, sementara yang lain tetap tinggal secara permanen dalam jaringan tertentu: dalam paru-paru (makrofaga alveoli), hati (sel-sel Kupffer), ginjal (sel-sel mesangial), otak (sel-sel mikroglia), jaringan ikat (histiosit), dan pada limpa, nodus limfa, serta jaringan limfatik. Mikroorganisme, fragmen mikroba, dan molekul asing yang memasuki darah menghadapi makrofaga ketika mereka terjerat dalam bangun limpa yang mirip dengan jarring, sementara yang berada dalam cairan jaringan mengalir ke dalam limfa dan disaring melalui nodus limfa.

    Namun, beberapa mikroba telah mengevolusikan mekanisme untuk menghindari perusakan oleh sel fagositik. Beberapa bakteri mempunyai kapsul bagian luar yang tidak dapat ditempeli makrofaga. Contoh bakteri tersebut adalah Mycobacterium tuberculosis, yang bersifat resisten terhadap perusakan oleh lisosom dan bahkan dapat bereproduksi di dalam makrofaga.

     

    Sel Neutrofil

    Neutrofil merupakan sel fagosit yang berasal dari sel bakal myeloid dalam sumsum tulang. Jumlahnya sekitar 60-70% dari semua sel darah putih (leukosit). Neutrofil adalah fagosit pertama yang tiba, diikuti oleh monosit darah, yang berkembang menjadi makrofaga besar dan aktif. Sel-sel yang dirusak oleh mikroba yang menyerang membebaskan sinyal kimiawi yang menarik neutrofil dari darah untuk datang. Neutrofil itu akan memasuki jaringan yang terinfeksi, lalu menelan dan merusak mikroba yang ada disana. (Migrasi menuju sumber zat kimia yang mengundang ini disebut kemotaksis). Di dalam neutrofil terdapat enzim lisozim dan laktoferin untuk menghancurkan bakteri atau benda asing lainnya yang telah difagositosis. Setelah memfagositosis 5-20 bakteri, neutrofil mati dengan melepaskan zat-zat limfokin yang mengaktifasi makrofag. Biasanya, neutrofil hanya berada dalam sirkulasi kurang dari 48 jam karena neutrofil cenderung merusak diri sendiri ketika mereka merusak penyerang asing.

     

    Sel Eusinofil

    Sama seperti sel fagosit lainnya, sel eosinofil berasal dari sel bakal myeloid. Ukuran sel ini sedikit lebih besar daripada neutrofil dan berfungsi juga sebagai fagosit. Eosinofil berjumlah 2-5% dari sel darah putih. Peningkatan eosinofil di sirkulasi darah dikaitkan dengan keadaan-keadaan alergi dan infeksi parasit internal (contoh, cacing darah atau Schistosoma mansoni). Walaupun kebanyakan parasit terlalu besar untuk dapat difagositosis oleh eosinofil atau oleh sel fagositik lain, namun eosinofil dapat melekatkan diri pada parasit melalui molekul permukaan khusus, dan melepaskan bahan-bahan yang dapat membunuh banyak parasit. Selain itu, eosinofil juga memiliki kecenderungan khusus untuk berkumpul dalam jaringan yang memiliki reaksi alergi. Kecendrungan ini disebabkan oleh faktor kemotaktik yang dilepaskan oleh sel mast dan basofil yang menyebabkan eosinofil bermigrasi kearah jaringan yang meradang. Sel fagosit terutama makrofag dan neutrofil; memiliki peran besar dalam proses peradangan. Untuk melaksanakan fungsi tersebut sel fagosit juga berinteraksi dengan komplemen dan sistem imun spesifik lainnya.

    b)      Sel Nol

    Sel Natural Killer (Sel NK) merupakan golongan limfosit tapi tidak mengandung petanda seperti pada permukaan sel B dan sel T. Oleh karena itu disebut sel nol. Sel ini beredar dalam pembuluh darah sebagai limfosit besar yang khusus, memiliki granular spesifik yang memiliki kemampuan mengenal dan membunuh sel abnormal, seperi sel tumor dan sel yang terinfeksi oleh virus. Sel NK berperan penting dalam imunitas nonspesifik pada patogen intraseluler. Sel jenis khusus mirip limfosit yang diproduksi di dalam sumsum tulang ini juga tersedia di limpa, nodus limfa, dan timus dan merupakan 10 % – 20 % bagian dari limfosit perifer. Bentuknya lebih besar dari limfosit B dan limfosit T.

     

     

    c)      Sel Mediator

    Sel yang termasuk sel mediator adalah sel basofil, sel mast, dan trombosit. Sel tersebut disebut sebagai mediator dikarenakan melepaskan berbagai mediator yang berperan dalam sistem imun.

     

     

    Sel basofil dan sel mast

    Basofil adalah jenis leukosit yang paling sedikit jumlahnya dan diduga juga dapat berfungsi sebagai fagosit. Sel basofil secara struktural dan fungsional mirip dengan sel mast, yang tidak pernah beredar dalam darah tapi tersebar di jaringan ikat di seluruh tubuh. Awalnya sel basofil dianggap berubah menjadi sel mast dengan bermigrasi dari sistem sirkulasi, tapi para peneliti membuktikan bahwa basofil berasal dari sumsum tulang sedangkan sel mast berasal dari sel prekursor yang terletak di jaringan ikat. Ada dua macam sel mast yaitu terbanyak sel mast jaringan dan sel mast mukosa. Yang pertama ditemukan di sekitar pembuluh darah dan mengandung sejumlah heparin dan histamine. Sel mast yang kedua ditemukan di slauran cerna dan napas. Proliferasinya dipacu IL-3 dan IL-4 dan ditingkatkan pada infeksi parasit. Baik sel basofil maupun sel mast memiliki reseptor untuk IgE dan karenanya dapat diaktifkan oleh alergen spesifik yang berkaitan dengan antibodi IgE. Kemudian bila terdapat alergen spesifik berikutnya yang bereaksi dengan antibodi, maka perlekatan keduanya menyebabkan sel mast atau basofil rupture dan melepaskan banyak sekali histamin, bradikinin, serotonin, heparin, substansi anafilaksis yang bereaksi lambat, dan sejumlah enzim lisosomal. Bahan-bahan inilah yang menyebabkan manifestasi alergi. Selain itu keduanya pun dapat membentuk dan menyimpan heparin dan histamin.

     

    Trombosit

    Trombosit adalah fragmen sel yang berasal dari megakariosit besar di sumsum tulang belakang. Trombosit berperan dalam pembatasan daerah yang meradang, dimana apabila terpajan ke tromboplastin jaringan di jaringan yang cedera maka fibrinogen, yang telah diaktifkan melalui proses berjenjang yang melibatkan pengaktifan suksesif faktor-faktor pembekuan, diubah menjadi fibrin. Fibrin inilah yang membentuk bekuan cairan interstitiumdi ruang-ruang di sekitar bakteri dan sel yang rusak.

     

     

     

     

     

     

    2. Sel-sel Sistem Imun Spesifik

    a)   Sel T

    Karakteristik Sel T

             Sel T tidak mengeluarkan antibodi. Sel –sel ini harus berkontak langsung dengan sasaran suatu proses yang dikenal sebagai immunitas yang diperantarai oleh sel (cell-mediated immunity, imunitas seluler).

             Bersifat klonal dan sangat spesifik antigen. Di membran plasmanya, setiap Sel T memiliki protein-protein reseptor unik.

             Sel T diaktifkan oleh antigen asing apabila antigen tersebut disajikan di permukaan suatu sel yang juga membawa penanda identitas individu yang bersangkutan, yaitu, baik antigen asing maupun antigen diri harus terdapat di permukaan sel sebelum sel T dapat mengikuti keduanya.

             Tidak semua turunan sel T yang teraktivasi menjadi sel T efektor. Sebagian kecil tetap dorman, berfungsi sebagai cadangan sel T pengingat yang siap merespon secara lebih cepat dan kuat apabila antigen asing tersebut muncul kembali di sel tubuh.

             Selama pematangan di timus, sel T mengenal antigen asing dalam kombinasi dengan antigen jaringan individu itu sendiri, suatu pelajaran yang diwariskan ke semua turunan sel T berikutnya

             Diperlukan waktu beberapa hari setelah pajanan antigen tertentu sebelum sel T teraktivasi besiap untuk melancarkan serangan imun seluler.

    Subpopulasi sel T

    Ketika sel T terpajan ke kombinasi antigen spesifik, sel-sel dari sel klon sel T komplementer berproliferisai dan berdiferensiasi selama beberapa hari, menghasilkan sejumlah besar sel T teraktivasi yang melaksanakan berbagai respons imunitas seluler. Terdapat tiga subpopulasi sel T, tergantung pada peran mereka setelah diaktifkan oleh antigen.

             Sel Tc (cytotocic)

    Sel T yang menghancurkan sel penjamu yang memiliki antigen asing, misalnya sel tubuh yang dimasuki oleh virus, sel kanker, dan sel cangkokan.

     

             Sel Th (helper)

    Berperan menolong sel B dalam memproduksi antibodi, memperkuat aktivitas sel T sitotoksik dan sel T penekan (supresor) yang sesuai, dan mengaktifkan makrofag.

     

             Sel Ts (supperssor)

    Sel T yang menekan produksi antibodi sel B dan aktivitas sel T sitotoksik dan penolong. Sebagian besar dati milyaran Sel T diperkirakan tergolong dalam subpopulasi penolong dan penekan, yang tidak secara langsung ikut serta dalam destruksi patogen secara imunologik. Kedua subpopulasi tersebut disebut sel T regulatorik, karena mereka memodulasi aktivitas sel B dan Sel T sitotoksik serta aktivitas mereka sendiri dan aktivitas makrofag.

     

             Sel Tdh (delayed hypersensitivity)

    Merupakan sel yang berperan pada pengerahan makrofag dan sel inflamasi lainnya ketempat terjadinya reaksi hipersensitivitas tipe lambat. Dalam fungsinya, sel Tdh sebenarnya menyerupai sel Th.

     

             Limfokin

    Dalam biakan sel limfosit T dapat ditemukan berbagai bahan yang mempunyai efek biologic. Bahan-bahan tersebut disebut limfokin dan dilepas sel T yang disensitisasi. Beberapa jenis limfokin yaitu: interleukin, interferon, factor supresor, factor penolong , dan sebagainya.

     

    b)   Sel B

          Sel B merupakan 5-15 % dari jumlah seluruh limfosit dalam sirkulasi. Fungsi utamanya ialah memproduksi antibodi. Sel B ditandai dengan adanya immunoglobulin yang dibentuk didalam sel dan kemudian dilepas, tetapi sebagian menempel pada permukaan sel yang selanjutnya berfungsi sebagai reseptor antigen. Kebanyakan sel perifer mengandung IgM dan IgD dan hanya beberapa sel yang mengandung IgG, IgA, dan IgE, pada permukaannya. Sel B dengan IgA banyak ditemukan dalam usus. Antibody permukaan tersebut dapat ditemukan dengan teknik imunofluoresen.

     

     

    2.9 Reaksi Hipersensitivitas

     

    Pada keadaan normal, mekanisme pertahanan tubuh baik humoral maupun selular tergantung pada aktivasi sel B dan sel T. Aktivasi berlebihan oleh antigen atau gangguan mekanisme ini, akan menimbulkan suatu keadaan imunopatologik yang disebut reaksi hipersensitivitas.

    Menurut Gell dan Coombs, reaksi hipersensitivitas dapat dibagi menjadi 4 tipe, yaitu tipe I hipersensitif anafilaktik, tipe II hipersensitif sitotoksik yang bergantung antibodi, tipe III hipersensitif yang diperani kompleks imun, dan tipe IV hipersensitif cell-mediated (hipersensitif tipe lambat). Selain itu masih ada satu tipe lagi yang disebut sentivitas tipe V atau stimulatory hipersensitivity. Pembagian reaksi hipersensitivitas oleh Gell dan Coombs adalah usaha untuk mempermudah evaluasi imunopatologi suatu penyakit. Dalam keadaan sebenarnya seringkali keempat mekanisme ini saling mempengaruhi. Aktivasi suatu mekanisme akan mengaktifkan mekanisme yang lainnya.

     

    1. Reaksi Hipersentivitas Tipe I

    Reaksi hipersensitivitas tipe I atau anafilaksis atau alergi yang timbul segera sesudah badan terpajan dengan alergen. Semula diduga bahwa tipe I ini berfungsi untuk melindungi badan terhadap parasit tertentu terutama cacing. Istilah alergi pertama kali diperkenalkan oleh Von Pirquet pada tahun 1906, yang diartikan sebagai reaksi pejamu yang berubah. Pada reaksi ini allergen yang masuk ke dalam tubuh akan menimbulkan respon imun dengan dibentuknya Ig E.

     

    Urutan kejadian reaksi tipe I adalah sebagai berikut :

    a)      Fase Sensitasi

    Waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan IgE sampai diikatnya oleh reseptor spesifik pada permukaan sel mastosit dan basofil.

    b)      Fase Aktivasi

    Waktu selama terjadi pajanan ulang dengan antigen yang spesifik, mastosit melepas isinya yang berisikan granul yang menimbulkan reaksi.

    c)      Fase Efektor

    Waktu terjadi respon yang kompleks (anafilaksis) sebagai efek bahan- bahan yang dilepas mastosit dengan aktivasi farmakologik.IgE yang sudah dibentuk, biasanya dalam jumlah sedikit, segera diikat oleh mastosit/basofil. IgE yang sudah ada permukaan mastosit akan menetap untuk beberapa minggu. Sensitasi dapat juga terjadi secara pasif apabila serum (darah) orang yang alergik dimasukkan ke dalam kulit atau sirkulasi orang normal.

     

    2. Reaksi Hipersensitivitas Tipe II

    Reaksi hipersensitivitas tipe II atau Sitotoksis terjadi karena dibentuknya antibodi jenis IgG atau IgM terhadap antigen yang merupakan bagian sel pejamu. Reaksi ini dimulai dengan antibodi yang bereaksi baik dengan komponen antigenik sel, elemen jaringan atau antigen atau hapten yang sudah ada atau tergabung dengan elemen jaringan tersebut. Kemudian kerusakan diakibatkan adanya aktivasi komplemen atau sel mononuklear. Mungkin terjadi sekresi atau stimulasi dari suatu alat misalnya thyroid. Contoh reaksi tipe II ini adalah distruksi sel darah merah akibat reaksi transfusi, penyakit anemia hemolitik, reaksi obat dan kerusakan jaringan pada penyakit autoimun. Mekanisme reaksinya adalah sebagai berikut :

    a)      Fagositosis sel melalui proses apsonik adherence atau immune adherence

    b)      Reaksi sitotoksis ekstraseluler oleh sel K (Killer cell) yang mempunyai reseptor untuk Fc

    c)      Lisis sel karena bekerjanya seluruh sistem komplemen

     

    3. Reaksi Hipersensitivitas Tipe III

     

    Reaksi tipe III disebut juga reaksi kompleks imun adalah reaksi yang terjadi bila kompleks antigen-antibodi ditemukan dalam jaringan atau sirkulasi/ dinding pembuluh darah dan mengaktifkan komplemen. Antibodi yang bisa digunakan sejenis IgM atau IgG sedangkan komplemen yang diaktifkan kemudian melepas faktor kemotatik makrofag. Faktor kemotatik yang ini akan menyebabkan pemasukan leukosit-leukosit PMN yang mulai memfagositosis kompleks-kompleks imun. Reaksi ini juga mengakibatkan pelepasan zat-zat ekstraselular yang berasal dari granula-granula polimorf, yakni berupa enzim proteolitik, dan enzim-enzim pembentukan kinin.

    Antigen pada reaksi tipe III ini dapat berasal dari infeksi kuman patogen yang persisten (malaria), bahan yang terhirup (spora jamur yang menimbulkan alveolitis alergik ekstrinsik) atau dari jaringan sendiri (penyakit autoimun). Infeksi dapat disertai dengan antigen dalam jumlah berlebihan, tetapi tanpa adanya respons antibodi yang efektif.

     

     

    4. Reaksi Hipersensitivitas Tipe IV

    Reaksi tipe IV disebut juga reaksi hipersensitivitas lambat, cell mediatif immunity (CMI), Delayed Type Hypersensitivity (DTH) atau reaksi tuberculin yang timbul lebih dari 24 jam setelah tubuh terpajan dengan antigen. Reaksi terjadi karena sel T yang sudah disensitasi tersebut, sel T dengan reseptor spesifik pada permukaannya akan dirangsang oleh antigen yang sesuai dan mengeluarkan zat disebut limfokin. Limfosit yang terangsang mengalami transformasi menjadi besar seperti limfoblas yang mampu merusak sel target yang mempunyai reseptor di permukaannya sehingga dapat terjadi kerusakan jaringan.

    Antigen yang dapat mencetuskan reaksi tersebut dapat berupa jaringan asing (seperti reaksi allograft), mikroorganisme intra seluler (virus, mikrobakteri, dll). Protein atau bahan kimia yang dapat menembus kulit dan bergabung dengan protein yang berfungsi sebagai carrier. Selain itu, bagian dari sel limfosit T dapat dirangsang oleh antigen yang terdapat di permukaan sel di dalam tubuh yang telah berubah karena adanya infeksi oleh kuman atau virus, sehingga sel limfosit ini menjadi ganas terhadap sel yang mengandung antigen itu (sel target). Kerusakan sel atau jaringan yang disebabkan oleh mekanisme ini ditemukan pada beberapa penyakit infeksi kuman (tuberculosis, lepra), infeksi oleh virus (variola, morbilli, herpes), infeksi jamur (candidiasis, histoplasmosis) dan infeksi oleh protozoa (leishmaniasis, schitosomiasis).

    2.10 Imunisasi

    Imunisasi berasal dari kata imun yang berarti keba atau resisten. Imunisasi adalah pemberian kekebalaan tubuh terhadaap suatu penyakit dengan memasukkan sesuatu kedalam tubuh agar tubuh tahan terhadap penyakit yang sedang mewabah atau berbahaya bagi seseorang. Imunisasi terhadap suatu penyakit hanya akan memberikan kekebalan atau resistensi pada penyakit itu saja, sehingga untuk terhindar dari penyakit lain diperlukan imunisasi lainnya.

    Imunisasi biasanya lebih fokus diberikan pada anak-anak karena sistem kekebalan tubuh mereka masih belum sebaik orang dewasa,sehingga rentang terhadap serangan penyakit berbahaya. Imunisasi tidak cukup hanya dilakukan satu kali tetapi harus dilakukan secara bertahap dan lengkap terhadap berbagai penyakit yang sangat membahayakan kesehatan dan hidup anak. Tujuan dari diberikannya suatu imunitas dari immunisasi adalah untuk mengurangi angka penderita suatu penyakit yang sangat membahayakan kesehatan bahkan bisa menyebabkan kematian pada penderitanya. Beberapa penyakit yang dapat dihindari dengan imunisasi yaitu seperti Hepatitis B, campak, polio, difteri, tetanus, batuk rejan, gondongan, cacar air, dan TBC. Imunisasi pada balita atau anak – anak dapat kita lakukan untuk membuat system imun dalam tubuh anak menjadi lebih baik. Teknik atau cara pemberian imunisasi umumnya dilakukan dengan melemahkan virus atau bakteri penyebab penyakit lalu diberikan kepada seseorang dengan cara suntik atau minum. Telah bibit penyakit masuk pada tubuh kita maka tubuh akan terangsang untuk melawan penyakit tersebut dengan membentuk antibodi.Imunisasi dapat dibagi jadi 2 jenis, yakni imunisasi pasif dan imunisasi aktif.

    a. imunisasi pasif

    imunisasi ini terjadi bila seseorang menerima antibodi atau produk sel lainnya dari orang lain yang telah mendapat imunisasi aktif atau dengan kata lain merupakan kekebalan bawaan dari ibu terhadap penyakit.

    b. imunisasi aktif

    pada imunisasi aktif, respon imun dapat terjadi setelah seseorang terpasang dengan antigen. Imunisasi aktif kekebalanya didapat dari pemberian bibit penyakit lemah yang mudah dikalahkan oleh kekebalan tubuh biasaa guna membentuk antibodi terhadap penyakit yang sama baik yang lemah maupun yang kuat.Transfer sel yang imunokompeten kepala pejamu yang sebelumnya imuninkompeten, disebut transfer adaptif Imunisasi dapat terjadi. secara alamiah dan buatan ( aktif dan pasif )

     

     

     

    2.11 Perkembangan Imunologi janin

    Pada kehamilan dini, antibodi yang dihasilkan janin jauh sangat kurang untuk merespon invasi antigen ibu/invasi bakteri. Dari minggu ke 20 kehamilan, respon imun janin terhadap antigen mulai meningkat. Respon janin dibantu oleh pemindahan molekul antibodi dari ibu (asalkan ukurannya tidak terlalu besar) ke janin sehingga memberikan perlindungan pasif yang menetap sampai beberapa minggu. Proses kelahiran sendiri, mulai dari pecahnya kantong amnion yang tersegel dan seterusnya akan membuat janin terpajan dengan mikroorganisme baru. Candida alicans, gonococcus dan herpes virus dapat dijumpai pada vagina. Pada kasus infeksi herpes yang diketahui, pelahiran pervaginam tidak diperbolehkan. Begitu lahir, bayi cenderung akan bertemu dengan Staphylococcus aureus, suatu mikroorganisme dimana resisten bayi tehadapnya sangat kecil.

    Untuk mengimbangi status imunologi yang belum berkembang dengan baik pada bayi baru lahir, maka pengawasan antenatal yang cermat, pemeriksaan untuk menyingkirkan kemungkinan infeksi atau terapi untuk mengatasi infeksi, teknik-teknik melahirkan yang aseptik tanpa memasukkan mikroorganisme dan perawatan yang cermat dengan memperhatikan segala aspek dalam penanganan bayi baru lahir, semuanya ini merupakan tindakan yang sangat penting.

    • Sistem Imun Pasif pada Janin

    Dalam perkembangannya, Janin dapat terlindung dari lingkungan yang berbahaya selama dalam kandungan. Umumnya kuman patogen atau bibit penyakit tidak dapat menembus barier placenta. Bayi yang baru lahir, tanpa adanya antibodi, akan sangat mudah terinfeksi. Bayi yang mature telah memperoleh antigen dan imunitas pasif dari ibu terhadap jenis-jenis tertentu dalam waktu 6 minggu atau lebih sebelum dilahirkan. Namun demikian, bayi yang meninggalkan lingkungan yang steril untuk kemudian secara tiba-tiba bertemu dengan banyak mikroorganisme dan antigen lainnya. Diperlukan waktu beberapa minggu sebelum imunitas aktif terbentuk.

    Proses penyaluran imun pasif dari maternal : Sistem imun janin diperkuat oleh penyaluran imunoglobulin menembus plasenta dari ibu kepada janinnya melalui aliran darah yang membawa antibodi serta penyaluran melalui air susu. Profil imunoglobulin yang disalurkan melalui plasenta dan disekresikan melalui air susu bergantung pada mekanisme transportasi spesifik untuk berbagai kelas imunoglobulin. IgG ibu menembus plasenta ke dalam sirkulasi janin melalui mekanisme aktif spesifik, yang efektif dari sekitar usia gestasi 20 minggu, tetapi aktivitasnya meningkat pesat sejak usia gestasi 34 minggu. Ibu akan menghasilkan respons imun terhadap antigen yang ia temui dengan menghasilkan IgG, yang dapat melewati plasenta. Bahkan kadar IgG ibu rendah, IgG akan tetap di salurkan melalui plasenta. Hal ini berarti janin akan mendapat imunisasi pasif terhadap patogen yang besar ditemukan di lingkungan setelah lahir. Imunitas pasif ini memberikan perlindungan temporer penting pascanatal sampai sistem bayi sendiri matang dan menghasilkan sendiri antibodi.

    Asupan gizi yang diperlukan Ibu hamil untuk menjaga sistem imun agar tidak gampang sakit:

    Protein Berfungsi untuk membangun sel-sel baru, termasuk sel darah, kulit dan jaringan otot. Protein juga dibutuhkan plasenta untuk membawa makanan ke janin. Protein terdapat pada daging, keju, ikan, telur, kacamg-kacangan, tahu, tempe dan oncom.

    Kalori
    Kalori dibutuhkan untuk perubahan dalam tubuh ibu hamil. Meliputi pembentukan sel-sel baru. Pengalihan makanan dari pembuluh darah ibu janin melalui plasenta dan pembentukan enzim dan hormon yang mengatur pertumbuhan bayi.

    Vitamin dan Mineral Diperlukan vitamin dan mineral yang merupakan zat gizi penting selama hamil. Vitamin A dengan jumlah optimal sangat diperlukan unruk pertumbuhan janin. Vitamin B1,B2 dan Niasin berguna untuk proses metabolisme tubuh. Sedangkan B6 dan B12 berguna untuk penggunaan protein dalam tubuh. Vitamin C penting untuk menyerapan zat besi dalam tubuh untuk mencegah anemia. Untuk pembentukan tulang dan sendi janin diperlukan vitamin D, namun tentu saja kalsium juga berperan penting. Vitamin E berguna untuk pembentukan sel darah merah serta melindungi lemak dari kerusakan. Asam folat dan seng berguna untuk pembentukan saraf pusat. Mengonsumsi makanan yang mengandung asam folat dapat mengurangi risiko kelainan sistem saraf pusat dan otak janin. Makanan yang kaya asam folat yaitu jeruk, pisang, brokoli, wortel dan tomat.

    Serat
    Konsumsi serat banyak terdapat pada buah-buahan dan sayuran, membantu kerja sistem ekskresi sehingga mudah buang air besar.

    Air
    Dalam keaadan normal saja kita dianjurkan meminum air putih sehari, apalagi bagi wanita hamil yang mengalami morning sickness diharuskan minum lebih banyak air untuk mengurangi dehidrasi.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    BAB III

    PENUTUP

     

    3.1 Kesimpulan

    Respon imun terjadi sebagai akibat peristiwa yang menyangkut antigen, limfosit, antibodi, limfokin, mediator kimia & sel efektor untuk melindungi manusia dari bahan-bahan asing yang merugikan serta menyingkirkan jaringan mati atau rusak.

    Sistem imun terbagi dua berdasarkan perolehannya atau asalnya, yaitu

    1.      Sistem imun Non Spesifik (Sistem imun alami)

    2.      Sistem imun Spesifik (Sistem imun yang didapat/hasil adaptasi)

    Berdasarkan mekanisme kerjanya, sistem imun terbagi, yaitu:

    1.      Sistem imun humoral (sistem imun jaringan atau diluar sel, yang berperan adalah Sel B “antibodi”

    2.      Sistem imun cellular (sistem imun yang bekerja pada sel yang terinfeksi antigen, yang berperan adalah sel T (Th, Tc, Ts)

    Selain itu dalam sistem imun juga dikenal:

    1.      Komplemem (zat glikoprotein yang berperan membantu kerja sel imun yaitu sebagai aktivator, mediator, penghancur)

    2.      Sitokine/limfokim (zat yang dihasilkan oleh sel sel limfosit dan beberapa sel sistem imun yang mana berperan sebagao motivator dalam sistem imun.

     

    3.2 Saran

    Sistem imun merupakan hal yang sangat penting bagi tubuh kita. Terganggunya sistem imun akan menimbulkan masalah kesehatan bagi kita. Oleh karena itu, kita perlu mengembangkan pengetahuan tentang imunitas ini demi terjaganya kesehatan, terutama tugas kita sebagai perawat yang tidak hanya sekedar mengobati tapi juga melakukan langkah preventif/pencegahan. Salah satunya dengan cara menngkatkan daya imunitas.

     

     

     

     
  • rikasertiana 12:51 PM on 18 December 2011 Permalink | Balas  

    SKIRINING DAN DETEKSI DINI WANITA SEPANJANG DAUR KEHIDUPANNYA 

    BAB I

    PENDAHULUAN

     

    1.1  Latar Belakang

    Di Indonesia masih dijumpai masalah kesehatan reproduksi yang memerlukan perhatian semua pihak. Masalah-masalah kesehatan reproduksi tersebut muncul dan terjadi akibat pengetahuan dan pemahaman serta tanggung jawab yang rendah. Akses untuk mendapatkan informasi yang benar dan bertanggung jawab mengenai alat-alat dan fungsi reproduksi juga tidak mudah didapatkan (Bambang, 2005).

    Secara garis besar periode daur kehidupan wanita melampaui beberapa tahap diantaranya pra konsepsi, konsepsi, pra kelahiran, pra pubertas, pubertas, reproduksi, menopause/klimakterium, pasca menopause dan senium/lansia (Manuaba, 2002). Setelah lahir kehidupan wanita dapat dibagi dalam beberapa masa yaitu masa bayi, masa pubertas, masa reproduksi, masa klimakterium dan masa senium. Masing-masing masa itu mempunyai kekhususan, karena itu gangguan pada setiap masa tersebut juga dapat dikatakan khas karena merupakan penyimpanan dari faal yang khas pula dari masa yang bersangkutan.

    Pendekatan yang diterapkan dalam menguraikan ruang lingkup Kesehatan Reproduksi adalah pendekatan siklus hidup, yang berarti memperhatikan kekhususan kebutuhan penannganan sistem reproduksi pada setiap fase kehidupan, serta kesinambungan antar fase kehidupan tersebut. Dengan demikian, masalah kesehatan reproduksi pada setiap fase kehidupan dapat diperkirakan, yang bila tidak ditangani dengan baik maka hal ini dapat berakibat buruk pada masa kehidupan selanjutnya.

     

    1.2  Tujuan

    1. Mahasiswi mampu mengetahui proses wanita dalam daur kehidupannya.
    2. Mahasiswi mampu mengetahui pengertian masa bayi, kanak-kanak, pubertas, reproduksi, klimakterium dan menopouse.
    3. Mahasiswi mampu mengetahui asuhan yang diberikan pada wanita dalam daur kehidupannya.

     

    1.3  Rumusan Masalah

    Dalam makalah ini kami akan menjelaskan mengenai wanita dalam daur kehidupannya (masa bayi, kanak-kanak, pubertas, reproduksi, klimakterium dan menopouse). Mengetahui asuhan yang diberikan, mengetahui skrining pada wanita sepanjang daur kehidupannya.

     

     

     

     

     

    BAB II

    SKIRINING DAN DETEKSI DINI WANITA SEPANJANG DAUR KEHIDUPANNYA

     

    2.1 Skirining

    A. Definisi

    1. Skrining (screening): pemeriksaan sekelompok orang untuk memisahkan orang yang sehat dari orang yang mempunyai keadaan patologis yang tidak terdiagnosis atau mempunyai risiko tinggi. (Kamus Dorland ed. 25 : 974 )
    2.  Skrining: pengenalan dini secara pro-aktif pada ibu hamil untuk menemukan adanya masalah atau faktor risiko. ( Rochjati P, 2008 )
    3. Skrining: usaha untuk mengidentifikasi penyakit atau kelainan yang secara klinis belum jelas, dengan menggunakan tes, pemeriksaan atau prosedur tertentu yang dapat digunakan secara cepat untuk membedakan orang yang terlihat sehat, atau benar – benar sehat tapi sesungguhnya menderita kelainan.

     

    B. Tujuan Skrining

    Untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas dari penyakit dengan pengobatan dini terhadap kasus-kasus yang ditentukan.

    C.     Test skrining dapat dilakukan

    a)      Pertanyaan/ Quesioner

    b)      Pemeriksaan fisik

    c)      Pemeriksaan laboratorium

    d)     X-ray

    e)      Diagnostik imaqina

    D.    Jenis Penyakit yang Tepat Untuk Skrining

    a)      Merupakan penyakit yang serius

    b)      Pengobatan sebelum gejala muncul harus lebih untung dibandingkan dengan setelah gejala muncul

    c)      Prevalens penyakit preklinik harus tinggi pada populasi yang di skrening

    E.     Syarat-syarat Skrining

    a)      Penyakit harus merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting

    b)      Harus ada cara pengobatan yang efektif

    c)      Tersedia fasilitas pengobatan dan diagnostic

    d)     Diketahui stadium prapatogenesis dan patogenesis

    e)      Test harus cocok, hanya mengakibatkan sedikit ketidaknyamanan, dapat diterima oleh masyarakat

    f)       Telah di mengerti riwayat alamiah penyakit

    g)      Biaya harus seimbang, biaya skrining harus sesuai dengan hilangnya konsekuensi kesehatan

     

    2.2 Kesehatan Wanita Sepanjang Siklus Kehidupan

    1. Konsepsi
    a. Perlakuan sama terhadap janin laki-laki/perempuan
    b. Pelayanan antenatal, persalinan aman dan nifas serta pelayanan bayi baru lahir.
    c. Masalah yang mungkin terjadi pada tahap ini : pengutamaan jenis kelamin, BBLR, kurang gizi (malnutrisi).
    d. Pendekatan pelayanan antenatal, promosi kesehatan dan pencegahan penyakit.

    1. Bayi

    Pada bayi lahir cukup bulan, pembentukan genetalia internal sudah selesai, jumlah folikel primordial dalam kedua ovarium telah lengkap sebanyak 750.000 butir dan tidak bertambah lagi pada kehidupan selanjutny. Tuba, uterus, vagina, dan genetalia eksternal sudah terbentuk, labia mayora menutupi labia minora, tetapi pada bayi prematur vagina kurang tertutup dan labia minora lebih kelihatan.

    Genetalia bayi wanita yang baru lahir itu basah krena sekresi cairan yang jernih. Epitel vgina relative tebal dan pH vagina 5, setelah 2-3 minggu epitel vagina tipis dan pH naik menjadi 7. Pada 1/3 dari bayi wanita, endoserviks tidak terhenti pada ostium uteru eksternum, tetapi menutupi juga sebagian dari porsio servisis uteri, sehingga terdapat apa yang dinamakan pseudoerosio kongenitalis.

    1. Kanak-kanak

    Yang khas pada masa kank-kanank ini ialah bahwa perangsangan oleh hormon kelamin sangat kecil, dan memang kadar estrogen dan gonadotropin sangat rendah. Karena itu alat-alat genital dalam masa ini tidak memperlihatkan pertumbuhan yang berarti sampai permulaan pubertas. Dalam masa kanak-kanak pengaruh hipofisis terutama terlihat dalam pertumbuhan badan.

    Pada masa kanak-kanak sudah Nampak perbedaan antara anak pria dan wanita, terutama dalam tingkah lakunya, tetapi perbedaan ini ditentukan terutama oleh lingkungan dan pendidikan.

    1. Pubertas

    Pubertas merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Secara klinis pubertas mulai dengan timbulnya cirri-ciri kelamin sekunder, dan berakhir kalau sudah ada kemampuan reproduksi. Pubertas pada wnita mulai kira-kira pada umur 8-14 tahun dan berlangsung kurang lebih selama 4 tahun.

    Awal pubertas dipengaruhi oleh bangsa, iklim, gizi dan kebudayaan. Kejadian yang penting dalam pubertas ialah pertumbuhan badan yang cepat, timbulnya cirri-ciri kelamin sekunder, menarche dan perubahan psikis. Ovarium mulai berfungsi dibawah pengaruh hormone gonadotropin dan hipofisis, dan hormone ini dikeluarkan atas pegaruh releasing factor dari hipotalamus. Dalam ovarium folikel mulai tumbuh, walaupun folikel-folikel tidak sampai matang, karena sebelumnya mengalami atresia, namun folikel-folikel tersebut sudah mampu mengeluarkan estrogen. Pada saat yang kira-kira bersamaan, korteks kelenjar suprarenal mulai membentuk androgen, dan hormone ini memegang peranan dalam pertumbuhan badn.

    1. Reproduksi

    Masa ini merupakan masa terpenting bagi wanita dan berlangsung kira-kira 33 tahun. Haid pada masa ini paling teratur dan siklus pada alat genital bermakna untuk memungkinkan kehamilan. Pada masa ini terjadi ovulasi kurang lebih 450 kali, dalam selama ini wanita berdarah selama 1800 hari. Biarpun pada usia 40 tahun ke atas wanita masih mampu hamil, tetapi fertilitas menurun cepat sesudah usia tersebut.

    1. Klimakterium dan Menopouse

    Pegertian

    1. Klimakterium : Bahasa yunani tangga, merupakan masa peralihan antara masa reproduksi dan masa senium
    2. Menopouse : Adalah haid terakhir atau saat terjadinya haid terakhir. Bagian klimakterium sebelum menopause disebut pramenopouse.
    3. Senium : Adalah masa sesudah pasca menopousem ketika telah tercapai keseimbangan baru dalam kehidupan wanita, sehingga tidak ada lagi gangguan vegetative maupun psikis.

    Penjelasan :

    1. Klimakterium

    Klimakterium bukan suatu keadaan patologik, melainkan suatu masa peralihan yang normal, yang berlagsung beberapa tahun sebelum dan beberapa tahun sesudah menopause. Klimakterium mulai kira-kira 6 tahun sebelum menopause, berdasarkan keadaan endokrinplogik (kadar estrogen mulai turun dan kadar hormone gonadotropin naik), dan jika ada gejala-gejala klinis. Pada klimakterium terdapat penurunan produksi estrogen dan kenaikan hormone gonadropin. Kadar hormone akhir ini tetap tinggi sampai kira-kira 15 tahun setelah menopause, kemudian mulai menurun. Pada wanita dalam klimakterium terjadi perubahan-perubahan tertentu, yang dapat menyebabkan gangguan-gangguan ringan dan kadang-kadang berat. Klimakterium merupakan masa perubahan, umumnya masa itu dilalui oleh wanita tanpa banyak keluhan, hanya pada sebagian kecil ditemukan keluhan yang cukup berat yang menyebabkan wanita bersangkutan minta pertolongan dokter. Gangguan vegetative biasanya berupa rasa panas dengan keluarnya malam dan perasaan jantung berdebar-debar.

    1. Menopouse

    Menopouse adalah haid terakhir, atau saat terjadinya haid terakhir. Berhentinya haid bisa didahului oleh siklus haid yang lebih panjang dengan perdarahan yang berkurang. Umur waktu terjadinya menopause dipengaruhi oleh keturunan, kesehatan umum, dan pola kehidupan. Ada kecenderungan dewasa ini untuk terjadinya menopause pada umur yang lebih tua. Terjadinya menopause ada hubungannya dengan menarche. Makin dini menarche terjadi, makin lambat menopause timbul. Menopouse yang artificial karena operasi atau radiasi umumnya menimbulkan keluhan lebih banyak dibandingkan dengan menopause alamiah

    1. Senium

    Pada senium telah tercapai keadaan keseimbanganhormonal yang baru, sehingga tidak ada lagi gangguan vegetative maupun psikis. Yang mencolok pada masa ini ialahkemunduran alat-alat tubuh dan kemampuan fisik, seagai proses menjadi tua. Dalam masa senium terjadi pula osteoporosis dengan intensitas berbeda paa masing-masing wanita. Walaupun sebab-sebabnya belum jelas betul, namun berkurangnya pengaruh hormone steroid dan berkurangnya osteo trofoblas memegang peranan dalam hal ini.

     

    2.3 Deteksi dini Pada wanita dalam daur kehidupannya.

    a. Asuhan Yang Diberikan pada masa menopause

    1). Perhatian pada problem menopause
    2.). Perhatian pada penyakit utama degenerative, termasuk rabun, gangguan mobilitas dan osteoporosis.
    Berkurangnya hormone estrogen pada wanita menopause mungkin menyebabkan berbagai keluhan sebagai berikut :
    1).  Penyakit jantung koroner
    2).  Kadar estrogen yang cukup, mampu melindungi wanita dari penyakit jantung koroner. Berkurangnya hormone estrogen dapat menurunkan kadar kolesterol baik ( HDL ) dan meningkatnya kadar kolesterol tidak baik ( LDL ) yang meningkatkan kejadian penyakit jantung koroner.
    3).  Osteoporosis
    4).  Adalah berkurangnya kepadatan tulang pada wanita akibat penurunan kadar hormone estrogen, sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah.
    5).  Gangguan mata
    6).  Mata terasa kering dan kadang terasa gatal karena produksi air mata berkurang.
    7).  Kepikunan ( demensia tipe Alzeimer ).
    8).  Kekurangan hormone estrogen juga mempengaruhi susunan saraf pusat dan otak. Penurunan hormone estrogen menyebabkan kesulitan berkonsentrasi, sukar tidur, gelisah, depresi sampai pada kepikunan tipe Alzeimer. Penyakit kepikunan tipe Alzeimer dapat terjadi bilam kekurangan estrogen sudah berlangsung cukup lama dan berat, yang dipengaruhi factor keturunan.

    b. Asuhan yang diberikan pada masa Bayi dan kanak-kanak
    Asuhan yang diberikan:
    1).  ASI Eksklusif
    2).  Tumbuh kembang anak dan pemberian makanan dengan gizi seimbang
    3).  Imunisasi dan manajemen terpadu balita sakit
    4).  Pencegahan dan penanggulangan kekerasan terhadap perempuan (KtP)
    5).  Pendidikan dan kesempatan yang sama pada anak laki-laki dan perempuan.

    c. Asuhan yang diberikan pada masa remaja

    Asuhan apa yang diberikan :
    a) Gizi seimbang
    b) Informasi tentang kesehatan reproduksi
    c) Pencegahan kekerasan seksual (perkosaan)
    d) Pencegahan terhadap ketergantungan napza
    e) Perkawinan pada usia yang wajar
    f) Peningkatan pendidikan, ketrampilan, penghargaan diri dan pertahanan terhadap godaan dan ancaman.

    d. Asuhan yang diberikan pada masa pubertas

    Asuhan yang diberikan :
    a). Kehamilan dan persalinan yang aman

    b). Pencegahan kecacatan dan kematian akibat kehamilan pada ibu dan bayi
    c). Menjaga jarak kelahiran dan jumlah kehamilan dengan penggunaan alat kontrasepsi ( KB )
    d). Pencegahan terhadap PMS/HIV/AIDS
    e). Pelayanan kesehatan reproduksi berkualitas
    f). Pencegahan dan penanggulangan masalah aborsi
    g). Deteksi dini kanker payudara dan leher rahim
    h). Pencegahan dan manajemen infertilitas.

    2.4 PERAN BIDAN SKRINING UNTUK KEGANASAN DAN PENYAKIT SISTEMIK

    a.         Memberikan motivasi pada para wanita untuk melakukan pentingnya melakukan langkah skrining.

    b.         Membantu dalam mengidentifikasi orang-orang yang berisikoterkena penyakit atau masalah kesehatan tertentu. Penegakan diagnosis pasti ditindak lanjuti di fasilitas kesehatan

    c.         Membantu mengidentifikasi penyakit pada stadium dini,sehingga terapi dapat dimulai secepatnya dan prognosa penyakit dapat diperbaiki

    d.        Membantu melindungi kesehatan individual

    e.         Membantu dalam pengendalian penyakit infeksi melalui proses identifikasi carrier penyakit di komunitas

    f.          Memberikan penyuluhan dalam pemilihan alat kontrasepsi dengan metode barrier (pelindung) seperti diafragma dan kondom karena dapat memberi perlindungan terhadap kanker serviks

    g.         Memberikan fasilitas skrining kanker serviks dengan metodepap smear kemudian membantu dalam pengiriman hasil pemeriksaan kelaboratorium.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    BAB III

    PENUTUP

    3.1 Kesimpulan

    Kesimpulan yang bisa kami ambil dari masalah ini ialah Pada masa kanak-kanak sudah Nampak perbedaan antara anak pria dan wanita, terutama dalam tingkah lakunya, tetapi perbedaan ini ditentukan terutama oleh lingkungan dan pendidikan. Pubertas merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Secara klinis pubertas mulai dengan timbulnya cirri-ciri kelamin sekunder, dan berakhir kalau sudah ada kemampuan reproduksi. Masa ini merupakan masa terpenting bagi wanita dan berlangsung kira-kira 33 tahun.  Klimakterium bukan suatu keadaan patologik, melainkan suatu masa peralihan yang normal, yang berlagsung beberapa tahun sebelum dan beberapa tahun sesudah menopause..

     

    3.2 Saran

    Saran yang dapat kami berikan ialah, kesehatan reproduksi sangatlah memerlukan perhatian semua pihak. Pengetahuan dan pemahaman serta tanggung jawab yang tinggi sangat diperlukan dalam menangani masalah-masalah kesehatan reproduksi. Pendekatan siklus hidup, yang berarti memperhatikan kekhususan kebutuhan penannganan sistem reproduksi pada setiap fase kehidupan, serta kesinambungan antar fase kehidupan sangat perlu diterapkan. Sehingga masalah kesehatan reproduksi pada setiap fase kehidupan dapat kita perkirakan dan dapat kita tangani dengan baik sehingga tidak berakibat buruk pada masa kehidupan selanjutnya. Demikianlah saran dari kami, jika ada kekurangan dari makalah ini kami menerima kritik dan saran yang membangun.

     
  • rikasertiana 1:04 PM on 15 December 2011 Permalink | Balas  

    Perawatan BBL 

    STANDAR 13

     
  • rikasertiana 2:01 PM on 13 December 2010 Permalink | Balas  

    Format asuhan kebidanan 

    FORMAT ASUHAN KEBIDANAN

    I. PENGKAJIAN

    Tanggal              :

    Ruang                 :

    Oleh                     :

    Jam                      :

    No register         :

    A.    DATA SUBJEKTIF

    1.                  Biodata klien

    Nama klien     :                                                  Nama suami            :

    Umur                 :                                                 Umur              :

    Agama            :                                                 Agama                     :

    Bangsa/suku  :                                                 Bangsa/suku           :

    Pendidikan      :                                                  Pendidikan   :

    Pekerjaan        :                                                  Pekerjaan     :

    Alamat            :                                                 Alamat                     :

    2.                  Keluhan utama

    3.                  Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang  lalu

    No Suami

    Ke-

    Kehamilan Persalinan Nifas KB
    Uk Pe

    nyulit

    Jenis persalinan Peno

    long

    L/p Bb H/m Pe

    nyulit

    Pe

    nyulit

    Me

    Neteki

    Me

    Tode

    Pe

    nyulit

    1 HAMIL INI

     

    4.                  Riwayat kehamilan dan perslinan

    Ø      Antenatal care

    Pemeriksaan di bidan

    §         Pada TM 1

    Keluhan

    Terapi yang diberikan

    Penyuluhan yang didapat

    §         Pada TM 2

    Keluhan

    Terapi yang di berikan

    Penyuluhan yang di dapat

    §         Pada TM 3

    Keluhan

    Terapi yang di berikan

    Penyuluhan yang di dapat

    Ø      Riwayat persalinan

    5.                  Riwayat kesehatan

    a.     Riwayat kesehatan

    b.     Riwayat penyakit keluarga

    6.                  Latar belakang social budaya

    7.                  Pola kehidupan sehari-hari

    a.     Pola nutrisi

    Ø      Sebelum MRS    :

    Ø      Selama MRS      :

    b.     Pola eliminasi

    Ø      Sebelum MRS    :

    Ø      Selama   MRS    :

    c.     Pola aktivitas

    Ø      Sebelum MRS    :

    Ø      Selama   MRS    :

    d.     Pola istirahat

    Ø      Sebelum MRS    :

    Ø      Selama   MRS    :

    e.     Pola perawatan diri

    Ø      Sebelum MRS    :

    Ø      Selama   MRS    :

     

    B.      DATA OBJEKTIF

    1.      Pemeriksaan umum

    Kesadaran

    Keadaan umum

    BB/TB

    Postur tubuh

    TTV

    T:       MmHg                       N:        x/menit

    S:       C                    RR:     x/menit

    2.      Pemeriksaan fisik

    a.     Kepala

    Inspeksi               :

    Palpasi                 :

    Pekusi                  :

    Auskultasi           :

    b.     Muka

    Inspeksi               :

    Palpasi                 :

    Pekusi                   :

    Auskultasi            :

    c.     Mata

    Inspeksi               :

    Palpasi                 :

    Pekusi                   :

    Auskultasi            :

    d.     Hidung

    Inspeksi               :

    Palpasi                 :

    Pekusi                   :

    Auskultasi            :

    e.     Mulut

    Inspeksi               :

    Palpasi                 :

    Pekusi                   :

    Auskultasi            :

    f.        Telinga

    Inspeksi               :

    Palpasi                 :

    Pekusi                   :

    Auskultasi           :

    g.     Leher

    Inspeksi               :

    Palpasi                 :

    Pekusi                   :

    Auskultasi                       :

    h.     Dada dan payudara

    Dada

    Inspeksi               :

    Palpasi                 :

    Pekusi                   :

    Auskultasi                       :

    Payudara

    Inspeksi               :

    Palpasi                 :

    Pekusi                   :

    Auskultasi                       :

    i.         Abdomen

    Inspeksi

    Palpasi                 :

    Perkusi                 :

    Auskultasi                       :

    j.         Genetalia

    Inspeksi               `:

    Palpasi                 :

    Pekusi                   :

    Auskultasi                       :

    k.      Ekstermitas atas dan bawah

    Inspeksi               :

    Palpasi                 :

    Pekusi                    :

    Auskultasi            :

    3        Pemeriksaan penunjang

     

    II.                  DIAGNOSA MASALAH

    S          :

    O         :

    A         :

    P          :

    DX       :

    III.                ANTISIPASI MASALAH POTENSIAL

    IV.               IDENTIFIKASI TINDAKAN SEGERA

    V.                 INTERVENSI

    DX                   :

    Kriteria hasil :

    • TTV normal
    • TD :120/80 MmHg, S:36,5-37,5, RR:18-24x/menit, N:80-120/menit
    • Keadaan umum : baik
    • Masa nifas normal tidak terjadi infeksi
    • UC baik, Keras
    • BAB / BAK +/+
    • Asi lancar kanan da kiri
    • TFU 2 jari di bawah pusat
    • Perdarahan tidak lebih dari 500 cc
    • Lokea rubra
    • Colostrums sudah keluar
    • Jahitan luka episiotomy tidak terjadi infeksi

     

    Intervensi dengan Rasional

    1.      Lakukan pendekatan dengan pasien dan keluarga

    Rasional : membina hubungan baik, dan menjalin kerjasama antara petugas dengan keluarga klien

    2.      Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan

    Rasional :  proteksi diri dan pasien, mencegah terjadinya infeksi silang

    3.      Ajarkan teknik relaksasi

    Rasional : Merelaksasi otot dan meningkatkankenyamanan

    4.      Ubah posisi dan berikan gerakan pada punggung serta anjurkan klien

    Rasional : Memberikan rasa nyaman pada klien

    5.      Lakukan rawat luka jahitan episiotomy

    Rasional : Menjaga kebersihan luka dan mencegah infeksi

    6.      Anjurkan klien untuk menjaga kebersihan diri

    Rasional : Menjaga kebersihan tubuh

    7.      Anjurkan ibu untuk melakukan perawatan payudara

    Rasional : Memperlancar produksi ASI

    8.      Anjurkan ibu untuk membrikan AS Eksklusif

    Rasional : Memenuhi kebutuhan gizi

    9.      Ajarkan cara meneteki yang benar

    Rasional : Meneteki yang benar, bayi akan memperoleh asupan gizi yang seimbang karena ASI merupakan makanan pokok bagi bayi

    10. Anjurkan untuk makan-makan yang bergizi

    Rasional : Mempercepat proses penyembuahan

    11. Observasi TTV

    Rasional : deteksi dini adanya komplikasi, mengetahui perkembangan kesehatan klien

    12. Observasi Lochea, TFU, dan UC

    Rasional : Mengetahui masa nifas, involusi berjalan normal, serta untuk mengetahui adanya komplikasi

    13. Kolaborasi dengan tim medis

    Rasional : pemberian terapi

     

    VI.               IMPLEMENTASI

    –         Lakukan sesuai intervensi

     

    VII. EVALUASI

    Tanggal  :                                                                       Jam    :

    S                :

    O               :

    A               :

    P                :

     

    VIII.           CATATAN PERKEMBANGAN

    Tanggal  :                                                                       Jam    :

    S                :

    O               :

    A               :

    P                :

     

    IX.               HE

    –         Jika terjadi komplikasi segera konsultasikan pada bidan atau dokter

    –         Beri tau tanda dan gejala kompliksi nifas

     

     

     
  • rikasertiana 1:54 PM on 13 December 2010 Permalink | Balas  

    contoh asbid nifas normal 

    ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS

    TERHADAP Ny. SUSANTI G2P1A0

    DI BPS TUMINAH LANDASAN ULINBANJARBARU

    TAHUN 2010

     

    I. PENGUMPULAN DATA DASAR

    A. Anamnesa

    1.      Biodata

    Nama           : Ny. Susanti                 Nama suami : Tn. Mulyadi

    Umur           : 23 tahun                      umur              : 25 tahun

    Pendidikan : SMA                           Pendidikan    : SMA

    Suku            : Jawa                            Suku              : Jawa

    Agama         : Islam                           Agama           : Islam

    Pekerjaan     : IRT                              Pekerjaan       : Wiraswasta

    Alamat        : Jl. Garuda km 25         Alamat          : Jl. Garuda km 25

     

     

    2.      Keluhan utama

    Ibu post partum 2 jam yang lalu mengeluh perut terasa mules dan perih pada alat kelamin, karena luka bekas jahitan pada perineum.

     

    3.      Riwayat persalinan

    a. Status GPA                                     :  G2P1A0

    b. Usia kehamilan saat bersalin           : 38 minggu

    c. ANC                                                : 5 x di BPS

    d. Tempat persalinan                           : BPS Tuminah

    e. Ditolong oleh                                  : Bidan Herliyani

    f. Keadaan ibu dan bayi                      : Baik

    g. cara persalinan                                 : spontan, pervaginam

    i. Anak lahir tanggal                            : 14 november 2010

    Jenis kelamin                                    : Laki-laki

    BB/PB                                              : 3200 gr/49cm

    j. Plasenata

    Lahir spontan pukul                         : 20.15 WITA

    Keadaan plasenta                             : Lengkap

    Jumlah perdarahan      Kala I              :   50 cc blood slym

    Kala II             : 150 cc

    Kala III           : 150 cc

    Kala IV           : 150 cc

    500 cc

    Jumlah persalinan        Kala I              : 11 jam

    Kala II             : 1 jam

    Kala III           : 10 menit

    Kala IV           : 2 jam

    14 jam 10 menit

    4.      Pola istirahat dan nutrisi

    a.       Istirahat

    1) Sebelum melahirkan      :  Ibu mengatakan tidur 8-9 jam sehari

    Ibu mengatakan tidur siang 1 jam

    2) Sesudah melahirkan      :  Ibu mengatakan tidur + 6-8 jam sehari

    Ibu mengatakan tidur siang 2 jam

    b.      Nutrisi

    1) Sebelum melahirkan      :   Ibu makan 3 x sehari dengan nasi, lauk, sayur, dengan porsi sedang, ibu minum 6-8 gelas / hari

    2) Sesudah melahirkan      :   Ibu makan 2 x sehari dengan nasi, lauk, sayur, dengan porsi sedang, ibu minum 6-8 gelas / hari

     

     

     

     

    c.       Data psikologis

    1)      Sebelum melahirkan    :

    a)       Ibu merasa takut akan mengahadapi persalinan; apakah persalinannya berjalan lancar

    b)       Ibu merasa takut tidak bisa merawat anaknya

    c)       Ibu merasa takut apakah yang akan terjadi pada anaknya setelah keluar dari perutnya

    d)      Bertanya-tanya dalam hati apakah jenis kelamin anaknya

    2)      Sesudah melahirkan    :

    a)      Ibu merasa lega karena persalinan berjalan dengan lancar

    b)      Ibu merasa cemas dengan keadaan saat ini

    5.      Pemeriksaan

    a)      Pemeriksaan umum

    Keadaan umum                 : Baik

    TD                                     : 110/80 mmHg

    Nadi                                  : 80 x/menit

    RR                                     : 24 x/menit

    Temp                                 : 370C

    b)      Pemeriksaan fisik

    1)      Kepala             :   rambut hitam, tidak kotor, tidak rontok, tidak ada ketombe, lurus.

    2)      Muka               :   tidak ada oedema, conjungtiva merah muda, sclera tidak ikterik, tidak ada cloasma grvidarum.

    3)      Gigi dan mulut:   tidak ada caries, mulut bersih, lidah bersih,  simetris

    4)      Telinga            :   simetris, tidak ada caries, mulut bersih, lidah bersih

    5)      Hidung            :   tidak ada pembesaran dihidung atau polip.

    6)      Leher               :   tidak ada pembesaran vena jugularis dan kelenjar tiroid.

    7)      Payudara         : colostrum keluar sedikit, ada hyperpigmentasi

    8)      Abdomen        :   tidak terdapat luka operasi, tidak ada pembesaran yang abdomal

    TFU pertengahan antara simpisis dan pusat kontraksi uterus baik

    9)      Genetalia         :   tidak ada oedema dan varises, pengeluran pervaginam lochea rubra, tidak ada luka bekas jahitan, pada anus tidak terdapat hemoroid.

    10)  Ekstremitas

    Atas                 :   fungsi penggerakan baik, simetris kiri dan kanan, jari-jari tangan lengkap

    Bawah             :   fungsi pergerakan baik, simetris kiri dan kanan tidak ada oedema, tidak ada varises

     

    II. INTERPRESTASI DATA DASAR

    1.      Diagnosa

    Ibu postpartum hari ke 1

    Ds : – P1A0 telah melahirkan pukul 20.15 wita

    • Ibu mengatakan perutnya terasa sakit

    Do : – Partus spontan pukul 20.15 wita

    • TFU 2 jari di bawah pusat
    • Konsistensi uterus baik
    • Perdarahan saat ini + 150 cc

     

    2.      Masalah

    Keterbatasan aktivitas

    DS : – Ibu menyatakan masih takut/khawatir dengan luka jahitannya bila beraktivitas miring kiri / kanan.

    DO : – Ibu tampak lelah

    • Terdapat luka perineum + 3-4 cm, dengan 4 heating

    3.      Kebutuhan

    Kebutuhan personal hygiene

    Dasar : keadaan bokong dan genitalia kotor oleh darah dan lendir

    III. IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH POTENSIAL

    Potensial terjadi perdarahan post partum

    a. KEBUTUHAN TERHADAP INTERVENSI DAN KOLABORASI SEGERA

    Kolaborasi segera dengan Obgin bila terjadi masalah yang memerlukan penanganan segera.

     

    b. PERENCANAAN MANAJEMENT

    1. Jelaskan kondisi ibu

    2. Observasi keadaan umum ibu dan keadaan post partum, seperti (kontraksi, pengeluaran lochea, TFU)

    3. Bantu ibu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan personal hygiene

    4. Anjurkan early amburation

    5. Lakukan perawatan luka perineum

    6. Bersihkan tubuh ibu

    7. Memberikan informasi kepada ibu tentang:

    a. Tanda-tanda bahaya post partum

    b. Cara melakukan perawatan perineum

    8. Lakukan rooming in.

    9. Anjurkan ibu untuk menyusui bayinya dan beritahu teknik menyusui yang baik dan pentingnya ASI eksklusif.

     

    c. IMPLEMENTASI

    1. Menjelaskan pada ibu tentang kondisi ibu yang seharusnya dan tanda-tanda bahaya pada ibu post partum.

    2. Mengobservasi proses involusi dan tanda-tanda vital

    •    Melakukan pengukuran tinggi fundus uteri
    • Melakukan observasi terhadap kontraksi uterus dan pengeluaran pervaginam setiap 1 jam sekali.

    3. Mengobservasi keadaan umum ibu tiap 6 jam meliputi tanda-tanda vital.

    4. Membantu ibu dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari dengan melibatkan keluarganya. Dalam pemenuhan nutrisi, personal hygine dan kebutuhan lain.

    5. Menganjurkan ibu untuk erly ambulation dengan cara miring kiri, miring kanan, duduk dan berjalan tiap 2 jam.

    6. Melakukan perawatan luka perinium dengan teknik dan aseptik.

    • Melakukan perawatan luka prinium dengan cara stril dan bethadine.
    • Mengajarkan pada ibu tentang perawatan luka pirinium terutama dilakukan saat mandi dan setelah BAK.

    7. Membersihkan ibu dengan memandikan ibu di atas tempat tidur dengan memakai waslap dan mengganti pakaian ibu yang telah basah oleh lendir dan darah.

    8. Mengajarkan pada ibu tentang teknik-teknik menyusui yang baik dan pentingnya ASI eksklusif.

    9. Mengajarkan pada ibu tentang perawatan bayi yang benar seperti perawatan tali pusat dan mencegah ruam popok.

    10. Melakukan bonding asement dengan cara roming in

    11.Menjelaskan pada ibu tentang tanda-tanda bahaya nifas seperti perdarahan, demam, tidak nafsu makan yang lama, lochea berbagau busuk, sakit kepala dan lain-lain Menganjurkan ibu untuk segera menghubungi petugas kesehatan segera bila menemukan tanda-tanda bahaya tersebut.

     

    d. EVALUASI

    1. Ibu mengerti tentang kondisinya dan tanda-tanda bahaya yang mungkin terjadi.

    2. Tinggi fundus uteri 2 jari di bawah pusat

    Kontraksi uterus baik, pengeluaran pervaginam lochea rubra + 600 cc

    3. Pengukuran vital sign pukul 02.00 wita

    K/U : baik

    RR : 20 x/mnt

    TD : 110/70

    Temp : 370C

    Nadi : 76 x/mnt

    Infus : (-)

    4. Kebutuhan sehari – sehari ibu seperti : nutrisi, personal hygine dan eliminasi terpenuhi dengan bantuan bidan dan keluarganya.

    5. Ibu sudah dapat miring ke kanan dan ke kiri serta duduk perlahan-lahan.

    6. Luka perinium terawat dengan baik dan tidak ada tanda-tanda infeksi. Ibu mengerti tentang perawatan luka pirinium yang dilakukan saat mandi dan setelah BAK.

    7. Ibu sudah dimandikan, ibu sudah bersih dari keringat dan ibu merasa nyaman.

    8. Ibu sudah mengerti tentang teknik menyusui dengan baik dan fungsi ASI eksklusif.

    9. Ibu mengerti cara perawatan bayi yang benar seperti perawatan tali pusat dan mencegah ruam popok

    10. Ibu mengerti manfaat bonding attecment

    11. Ibu selalu menyusui bayi bila bayinya membutuhkan.


    CATATAN PERKEMBANGAN 6-8 jam postpartum

    Tanggal 15 November 2010

     

    S : – Ibu merasa sangat senang atas kehadiran anak yang sangat diharapkan olehnya dan suami

    • Ibu mengatakan masih takut untuk miring kanan dan kiri serta duduk
    • Ibu mengatakan perut masih terasa mulas
    • Ibu mengatakan masih belum dapat menyusui bayinya

    O : – Pemeriksaan tanda-tanda vital

    Keadaan umum ibu baik

    TD : 110/70 mmHg

    RR : 22 x/mnt

    Nadi : 80 x/mnt

    Temp : 370C

    • Involusi TFU sepusat
    • Pengeluaran lochea rubra
    • ASI belum keluar

    A : a. Diagnosa

    Ibu P1A0 post partum 6-8 jam yang lalu

    Dasar :

    Ds : – Ibu mengatakan perutnya masih terasa mulas

    • Pengeluaran pervaginam lochea rubra

    Do : – Ibu post partum tanggal 15 Januari 2006 pukul 14.15 Wib

    • Tinggi fundus uteri sepusat
    • Konsistensi abdomen keras, kontraksi uterus baik.

    b. Masalah

    1. ASI belum keluar

    Dasar :

    Ds : Ibu mengatakan masih belum dapat menyusui bayinya

    Do : – Ibu post partum 6-8 jam yang lalu

    • Colustrum belum keluar

    2. Gangguan aktivitas

    Dasar :

    Ds : Ibu mengatakan masih takut untuk miring kanan dan kiri apalagi duduk

    Do : Ibu tampak takut bila disuruh miring kanan/kiri serta duduk

    c. Kebutuhan

    1. Penyuluhan tentang post natal breast care

    Dasar :

    Ds : Ibu mengatakan masih belum dapat menyusui bayinya

    Do : Ibu post partum 6-8 jam yang lalu colustrum belum keluar

    2. Penyuluhan tentang mobilisasi dini

    Dasar :

    Ds : Ibu mengatakan takut untuk miring ke kanan dan kiri serta duduk

    Do : Ibu tampak takut untuk miring ke kanan dan kiri serta duduk

     

    P : – Observasi keadaan umum ibu

    • Observasi proses involusi
    • Anjurkan pada ibu untuk tetap berusaha menyusui bayinya walau ASI belum keluar
    • Ajarkan ibu untuk mobilisasi dini miring ke kanan dan kiri serta duduk, perlahan-lahan

     

    Catatan Perkembangan 6 hari Setelah Persalinan

    Tanggal 21 November 2010

    S : – Ibu mengatakan perutnya sudah tidak sakit lagi, kontraksi uterus baik, masih dirasakan oleh ibu.

    • Ibu mengatakan ia sudah dapat menyusui bayinya dengan baik
    • Ibu mengatakan tali pusat bayinya sudah tampak kering

    O : – Pemeriksaan tanda-tanda vital

    Keadaan umum ibu baik :

    TD : 110/70 mmHg

    RR : 20 x/mnt

    Nadi : 80 x/mnt

    Temp : 36,80C

    • Involusi TFU 3 jari diatas sympisis
    • Pengeluaran lochea sangoelenta
    • ASI belum keluar

     

    A : a. Diagnosa

    Ibu P1A0 post partum hari ke – 7

    Dasar :

    Ds : Pengeluaran pervaginam lochea songoelenta

    Do : – Tinggi fundus uteri 3 jari di atas sympisis

    • Konsistensi abdomen lembek, kontraksi uterus baik

    b. Masalah

    Untuk sementara tidak ada

    c. Kebutuhan

    Informasi tentang nutrisi yang adekuat bagi ibu menyusui

    Dasar :

    Ds : Ibu sudah dapat menyusui bayinya

    Do : ASI sudah keluar

     

    P : – Observasi keadaan umum ibu

    • Observasi proses involusi dan perdarahan
    • Ajarkan pada ibu cara perawatan tali pusat yang benar
    • Ajarkan pada ibu cara perawatan bayi sehari-hari
    • Anjurkan pada ibu untuk tetap menyusui bayinya
    • Anjurkan ibu untuk makan sayur-sayuran hijau agar ASI nya bayi, buah-buahan dan susu.

     

     

     

    Catatan Perkembangan 2 minggu setelah Persalian

    Tanggal 5 Desember 2010

     

    S : Ibu mengatakan tidak ada kesulitan dalam mengurus bayinya hanya saja ibu tidak dapat tidur nyenyak pada malam hari karena bayi sering terbangun.

    O : – Keadaan umum ibu baik

    TD : 120/70 mmHg

    RR : 22 x/mnt

    Nadi : 800 C

    Temp : 370C

    • TFU sudah tidak teraba lagi
    • Pengeluaran pervaginam, lochea alba

    A : a. Diagnosa

    Ibu P1A0 post partum 2 minggu

    Dasar :

    Ds : Pengeluaran pervaginam lochea alba

    Do : TFU sudah tidak teraba lagi

     

    b. Masalah

    Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat dan tidur

    Dasar :

    Ds : Ibu mengatakan tidak dapat tidur nyenyak pada malam hari karena bayi sering terbangun.

    Do : Ibu terlihat mengantuk dan lelah

    c. Kebutuhan

    1. Konseling tentang pola istirahat dan tidur

    Dasar :

    Ds : Ibu mengatakan tidak dapat tidur nyenyak pada malam hari

    Do : Mata terlihat mengantuk

    2. Informasi tentang alat kontrasepsi

    Ds : Ibu mengatakan tidak dapat tidur nyenyak pada malam hari

    Do : Ibu mengatakan ingin menjarangkan kehamilan

    P : – Observasi keadaan umum ibu

    • Observasi proses involusi dan perdarahan
    • Anjurkan pada ibu untuk dapat beristirahat walau sebentar disiang hari
    • Anjurkan ibu untuk tetap menyusui bayinya dan melakukan perawatan sehari – hari pada bayinya.
    • Jelaskan jenis-jenis alat kontrasepsi yang dapat menjarangkan kehamilan
    • Jelaskan keuntungan dan kerugian dari tiap alat kontrasepsi
    • Anjurkan ibu untuk mendiskusikan kepada suami alat kontrasepsi apa yang akan dipilih

     

     

     

     

     
  • rikasertiana 1:50 PM on 13 December 2010 Permalink | Balas  

    askeb III nifas 

    LANDASAN TEORI

    I.     DEFINISI

    a.       Masa nifas (puerperium) adalah masa pulih kembali mulai dari dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra hamil, lama masa nifas ini 6-8 minggu(Sinopsis obstetric, edisi 2: 115)

    b.      Masa puerperium atau masa nifaas mulai dari setelah partus selesai dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu, akan tetapi alat genetalianya baru  pulih kembali seperti sebelum hamil dalam waktu 3 bulan (sarwono: 235)

    c.       Masa puerperium adalah masa setelah partus selesai dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu (Kapita selekta kedokteran  jilid 1; 316)

    II.  TUJUAN ASUHAN MASA NIFAS

    1.      Menjaga kesehatan ibu dan bayinya baik fisik maupun psikologik

    2.      Melaksanakan screening yang komprehensif, mendeteksi masalah, mengobati. Dan merujuk, jika terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya

    3.      Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasikepada bayinya dan perawaatan bayi sehat

    4.      Pemberian pelayanan KB

     

     

     

     

    III. PERIODE NIFAS

    1.      Puerperium dini

    Kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan .

    2.      Puerperium intemedial

    Kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang waktunya 6-8 minggu

    3.      Remote Puerperium

    Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempuyai komplikasi waktu untuk sehat bisa bulanan hingga tahunan

    IV.  PERUBAHAN FISIOLOGIS PADA IBU NIFAS

    1.   Uterus

    Secara berangsur- angsur uterusnya mengecil, sehingga akhirnya kembali seperti sebelum hamil

    Tinggi fundus uterus dan berat uterus menurut masa involusi

     

     

     

     

    INVOLUSI TINGGI FUNDUS UTERI BERAT UTERUS
    Bayi lahir Setinggi pusat 1000 gr
    Uri lahir 2 jari dibawah pusat 750 gr
    1 minggu Perterngahan pusat dan simphisis 500 gr
    2 minngu Tidak teraba di simpisis 350 gr
    6 minggu Mertambah kecil 50 gr
    8 minggu Sebesar normal 30 gr

     

    2.      Luka pada jalan lahir

    Jika tidak disertai dengan infeksi akan sembuh dalam waktu  6-7 hari

    3.      Lochea

    Adalah cairan secret yang berasal dari cavum uteri dan vagina dalam masa nifas

    Macam lochea:

    a)   Lochea rubra berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, verniks kaseosa, lanugo dan mekonium selama 2 hari pasca persallinan

    b)   Lochea sanguinoleta berwarna merah kuning berisi darah, da lender hari ke 3-7 hari pasca persalianan.

    c)   Lochea serosa berwarna kuning, cairan tidak berisi darah lagi, pada hari ke 7-14 pasca persalinan

    d)  Lochea alba cairan putih selama 2 minggu setelah persalinan

    e)   Lochea parulenta terjadi infeksi keluar cairan seperti nanah berbau busuk

    f)    Lochiostapis adalah lochea yang tidak lancer keluarnya

     

    4.      Ligament-ligamen

    Ligament fasia dan diafragama, pelvis yang merenggang pada waktu persalinan setelah bayi lahir  secara berangsur-angsur menjadi menciut, dan pulih kembali sehingga tidak jarang uterus jatuh kebelakang, dan menjadi retrofleksi karena ligamentum rotundum menjadi kendor setelah melahirkan. Tradisis di urut juga dapat menyebabkan retrofleksi, dimana waktu di urut tekanan intra abdomen bertambah lagi. Untuk memulihkan sebaiknya dilakukan senam nifas.

    5.      Serviks

    Bentuk serviks menganga seperti corong, berwarna merah kehitaman konsistensinya lunak, kadang-kadang terdapat perlukaan-perlukaan kecil setelah bayi lahir tangan masih bias masuk ronnga rahim, setelah 2 jam dapat dilalui oleh 2-3 jari dan setelah 7 hari hanya dapat dilalaui 1 jari

    6.      Endometrium

    Mengalami perubahan yaitu timbulya thrombosis, degenerasis da nekrosis di tempat implantasi plasenta.

    7.      Cardivaskuler

    a)      Peningkatan resistensi pada pembuluh darah perifera akibat pembuangan sirkulasi uteroplasenta

    b)      Kerja jantung hipervolemik dan vol plasma kembali normal seperti keadaan sebelum hamil

    c)      Akibat hilangnya vol plasma dan cairan ekstra sel terjadi penurunan berat badan dalam minggu pertama

    d)     Leukositosis granulostik ditemukan pada nifas dini

    e)      Dalam 10 harai pertama terjadi peningkatan factor pembekuan yang di imbangi oleh peningkatan aktivitas fibrinditik

    8.      Endokrinologi

    a)       Kadar hormone human placental lagtogen (HPL) dan hcg turun dengan cepat

    b)      Kadar estrogen dan progesterone turun smapai 7 hari

    c)      Jika menyusui kadar prolaktin naik setelah bayi mulai menyusu

    d)     Jika tidak menyusui kadar estradiol naik sehingga menunjukan perubahan folikuker

    V.     PERUBAHAN PSIKOLOGIS PADA IBU NIFAS

    1.      Terjadi depresi seteklah persalinan

    2.      Perasaan sedih pada masa nifas

    3.      Terapi, rasa pengertian dan penentraman dari keluarga.

    Fase-fase adaptasi psikologi ibu nifas

    a. Fase taking in

    Periode ketergantungan yang berlangsung dari heri pertam asampai haari ke dua post partum. Focus perhatian ibu terutama pada dirinya sendiri. Pengalaman selama persalinan sering diceritakan, mudah marah dan tersinggung karena kelelahan sehingga perlu cukup istirahat, pasif terhadap lingkungan kondisi ini perlu dipahami dengan menjaga kondisi yang baik

    b.     Fase taking hold

    Periode yang berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan, ibu merasa khawatir akan ketidakmampuan dan rasa tanggung jawabnya dalam merawat bayi, perasaannya sangat sensitive jika komunikasinya kurang hati-hati, mudah tersinggung, saat ini merupakan kessempatan yang baik untuk menerima berbagai penyuluhan dalam merawat diri dan bayinya sehingga tumbuh percaya diri.

    c.     Respon orang tua terhadap bayai baru lahir

    1)               Bounding attachman (keterikatan awal/ ikatan batin)

    Adalah suatu proses dimana sebagian hasil dari suatu interaksi terus menerus antara bayi dan orang tua yang bersifat saling mencintai, memberikan keduanya pemenuhan emosional dan membutuhkan.

    Beberapa dasar keterkaitan antara lain:

    Keterkaitan atau ikatan batain tidak dimulai sejak kelahiran tetapi ib telah memelihara bayinya selama kehamilan, baik ibu maupun ayah telah berangan-angan tentang bayi mereka kelak. Hal ini menjadi perasaan positive

    Kelahiran merupakan sebuah moment di dalam kuantum keterkaitan ibu dengan bayinya.

    Hubungan antara ibu dan bayi adalah simbiosis yang saling membutuhkan

     

     

    d.     Post partum blues

    Merupakan gangguan psikologis berupa kesedihan/kemurungan setelah memelihara biasanya hanya muncul waktu sekitar 2 hari sampai 2 minggu sejak kelahiran bayi.

    Tanda dan gejala

    –         Cemas tanpa sebab

    –         Menangis tanpa sebab

    –         Tidak sadar dan percaya diri

    –         Sensitive (mudah tersinggung)

    –         Merasa kurang menyayangi bayinya

    Keadaan ini bisa menjadi serius dan bisa bertahan 2 minggu sampai 1 tahun dan menjadi post partum syndrome. Cara mengatasi yaitu dengan cara melakukan pendekatan komunikasi terauptik, dan peningkatan support mental/ dukungan keluarga.

    e. Fase letting go

    Fase ini merupakan fase menerima tanggung jawab akan peran barunya sebagai ibu, berlangsung 10 hari setelah melahirkan, ibu sudah mulai menyesuaikan  diri dengan ketergantungan bayinya keinginan untuk merawat diri da bayinya.

    f. Sibling rivaly

    – Permusuhan dan kecemburuan antar saudara kandung yang menimbulkan ketergantungandiantara mereka

    – Hal ini wajar pada anak dalam menyesuaikan dengan kondisi yang baru

    g. Depresi post partum

    Depresi setelah pasca persalinan yang terjadi karena kecemasan dalam merawat bayi yang berkelanjutan

    Gejala dari depresi ini yaitu:

    1).    Sulit tidur bahkan ketika bayi sudah tidur

    2)            Nafsu makan hilang

    3)            Perasaan tidak berdaya

    4)            Terlalu cemas/ tidak perhatian sama sekali pada bayi

    5)            Tidak menyukai/ takut menyentuh bayi

    6)            Pikiran yang menakutkan mengenai bayi

    7)            Sulit / tidak ada perhatian terhadap penampilan bayi.

    VI.  PERAWATAN MASA NIFAS

    1.  Mobilisasi

    Setelah persalinan ibu tidur terlentang selama 8 jam pada persalinan, kemudian boleh miring kanan dan miring ke kiri untuk mencegah terjadinya thrombosis dan tromboly. Pada hari ke 2 di perbolehkan duduk dan hari ke 3  jalan, dan hari ke 4, dan hari ke 5 sudah diperbolehkan pulang, mobilisasi diatas mempunyai variasi, bergantung pada komplikasi persalinan, nifas dan sembuhnya luka-luka

    2.  Diet

    Makanan harus bergizi dan cukup kalori, sebaiknya makan, makanan yang mengandung protein tinggi, banyak cairan dan sayur-sayuran juga buah-buahan.

    3. Miksi

    Buang air kecil hendaknya bias dilakukan sendiri secepatnya, kadang-kadang wanita sulit untuk buang air kecil karena sfingter urethra ditekan oleh kepala janin dan spasme oleh iritasi sfingter any selama persalinan juga karena adanya edema kandung kemih yang terjadi selama persalinan biala vu penuh dan belum bias BAK sebaiknya dilakukan katerisasi.

    4.      Defekasi

    Buang air besar dilakukan 3-4 haari pasca persalinan. Apabila masih sulit buang air besar dan terjadi obstipasi, dapat diberikan obat laksans per oral atau per rectal jika belum bias dilakukan klisma.

    5. Perawaan payudara (breast care)

    Dimulai sejak wanita hamil, supaya putting susu lemas, tidak keras dan kering sebagai persiapan untuk menyusukan bayinya, bila bayimeninggal laktasi harus dihentikan dengan cara :

    –         Pembalutan mamae sampai tertekan

    –         Pemberian obat estrogen untuk supresi LH .

    6.  Laktasi

    untuk menghadapi masa laktasi (menyusukan) sejak dari kehamilan telah terjadi perubahan-perubahan pada kelenjar mamae

    a. Poliferasi jaringan pada kelenjar-kelenjar alveoli dan jaringan lemak bertambah

    b. Keluar colostrumberwarna kekuningan

    c. Hipervaskularisasi pada permukaan dan bagian dalam.

    d. Setelah persalinan pengaruh supresi estrogen dan progesterone, hilang maka pengaruh hormone laktogen, atau prolaktin yang akan merangsang air susu. Disamping itu pengaruh hormone oxitoxin menyebabkan miopitel kelenjar sussu berkontraksi, sehingga air susu keluar, produksi akan banyak sesudah 2-3 hari pasxa persalinan

    7.  Cuti hamil dan bersalin

    Cuti hamil bagi  wanita bekerja selama 3 bulan, yaitu 1 bulan sebelum bersalin, dan 2 bulan pasca persalinan.

    8. Pemeriksaan pasca persalinan

    Pemeriksaan persalinan normal dilakuakan 6 minggu post partum namun dengan vwanita dengan persalinan tidak normal harus kembali periksa 1 minggu post partu

    Pemeriksaan post natal  meliputi:

    a.     Pemeriksaan umum (TTV, dan keluhan)

    b.     Keadaan umum

    c.     Payu dara (ASI, putting susu)

    d.     Dinding perut, kandung kemih, rectum, perineum,

    e.     Secret yang keluar misalnya ochea dan fluor albuse

    f.        Keadaan alat- alat kandungan,

    9.  Nasehat untuk ibu post natal

    a.     Fisioterapi post natal sangat baik jika diberikan

    b.     Sebaiknya bayi disusui

    c.     Lakukan senam nifas

    d.     Anjurkan  untuk kb

    e.     Imunisasi untuk bayi

    VII.      PROGRAM NASIONAL MASA NIFAS

    1.      Kunjungan I  6-8 jam setelah persalinan

    Tujuan :

    1)     Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri

    2)     Mendeteksi dan merawat apenyebab lain perdarahan, rujuk bila perdarahan berlanjut

    3)     Memberikan konseling pada ibu, dan salah satu anggot keluarga

    4)     Pemberian ASI awal

    5)     Melaksananakan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir

    6)     Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah terjadinya hipotermi

    2.      Kunjungan II  6 hari setelah persalinan

    Tujuan :

    1)     Memastikan involusi uterus berjalan: uterus berkontraksi, funduss dibawah umbilicus, tidak ada perdarahan

    2)     Menilai tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal

    3)     Memastikan ibu mendapaatkan cukup makanan, cairan da istirahat.

    4)     Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidakk memperlihatkan tanda-tanda penyulit

    5)     Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali pusat, dan menjaga bayi agar tetap hangat.

    3.      Kunjungan III  2 minggu setelah persalinan

    Tujuan :

    Sama dengan kunjungan II  6 hari setelah persalinan

    4.      Kunjungan IV  6minggu setelah persalinan

    Menanyakan tentang penyulit yang ibu dan bayi alami

    Memberikan konseling untuk kontrasepsi secara dini

     

     
  • rikasertiana 6:22 AM on 13 December 2010 Permalink | Balas  

    Kanker serviks dan penanganannya 

    BAB I

    PENDAHULUAN

     

    1.1 Latar Belakang

    Kanker serviks di negara yang sedang berkembang antara lain di Indonesia masih banyak ditemukan, dan berbeda dengan di negara maju di mana program skrinning sudah dilaksanakan sejak beberapa dekade. Dengan skrinning tersebut maka insidens dan mortalitas sudah sangat jauh berkurang. Human Papilloma Virus (HPV) merupakan penyebab utama dari kanker ini, dan dengan adanya deteksi dini infeksi HPV serta pengembangan vaksin virus HPV maka diharapkan kanker ini dapat dikendalikan terutama di negara dimana program skrinning sulit dilaksanakan.

    Peringkat kanker leher rahim di seluruh dunia menduduki urutan ke-2 diantara kanker pada perempuan setelah kanker payudara. Setiap tahun diperkirakan ada 500.000 perempuan ditemukan menderita kanker leher rahim dan setengahnya akan meninggal. Di tingkat dunia diperkirakan setiap dua menit ada seorang perempuan meninggal di Indonesia, berdasar data patologi kanker leher rahim menempati urutan pertama yang diderita perempuan. Diperkirakan setiap jam ada seorang perempuan meninggal akibat kanker.

     

    1.2 Rumusan Masalah

    1. Apakah kanker serviks itu?

    2. Apakah penyebab terjadinya kanker serviks?

    3. Dampak apa saja yang dapat disebabkan kanker serviks?

    4. Bagaimana cara penularan kanker serviks?

    5. Faktor apa saja yang mendukung timbulnya kanker serviks?

    6. Siapa saja yang beresiko terkena kanker serviks?

    7. Bagaimana cara mendeteksi terjadinya kanker serviks?

    8.  Tindakan apa saja yang dapat dilakukan apabila telah terinfeksi kanker serviks?

    9.   Bagaimana cara pencegahannya?

    10. Bagimana cara merngurangi kemungkinan terjadinya kanker serviks ?

     

    1.3 Tujuan Penulisan

    1. Untuk mengetahui pengertian kanker serviks.

    2. Untuk mengetahui penyebab terjadinya kanker serrviks.

    3. Untuk mengetahui dampak yang disebabkan kanker serviks.

    4. Untuk mengetahui cara penularan kanker serviks.

    5. Untuk mengetahui faktor yang mendukung timbulnya kanker serviks.

    6. Untuk mengetahui siapa saja yang beresiko terkena kanker serviks.

    7.  Untuk mengetahui cara mendeteksi kanker serviks.

    8.  Untuk mengetahui tindakan yang dilakukan apabila terinfeksi.

    9.   Untuk mengetahui cara pencegahannya.

    10. Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kanker serviks.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    BAB II

    PEMBAHASAN

     

     

    2.1 Pengertian

    Kanker serviks adalah tumbuhnya sel-sel tidak normal pada serviks (leher rahim).Perubahan menjadi sel kanker memakan waktu 10 hingga 15 tahun

    Virus penyebab kanker serviks tidak hanya menyerang kulit dan saluran genital, tetapi juga dapat menyerang organ-organ lain seperti : mukosa mulut, larings, trakhea, sinonasal, konjungtiva, bronkhus, usofagus.

    Kanker serviks atau kanker leher rahim terjadi di bagian organ reproduksi seorang wanita. Leher rahim adalah bagian yang sempit di sebelah bawah antara vagina dan rahim seorang wanita. Di bagian inilah tempat terjadi dan tumbuhnya kanker serviks.

     

    2.2 Penyebab terjadinya kanker serviks

    Kanker serviks menyerang daerah leher rahim atau serviks yang disebabkan infeksi virus HPV (human papillomavirus) yang tidak sembuh dalam waktu lama. Jika kekebalan tubuh berkurang, maka infeksi HPV akan mengganas dan bisa menyebabkan terjadinya kanker serviks. Gejalanya tidak terlalu kelihatan pada stadium dini, itulah sebabnya kanker serviks yang dimulai dari infeksi HPV dianggap sebagai “The Silent Killer”.

     

    2.3 Dampak yang terjadi

    Apabila seoarang perempuan telah terinfeksi HPV dan menderita kanker , maka akan terjadi gangguan kualitas hidup secara :

    1.  Fisik

    2.  Kejiwaan

    3.  Kesehatan seksual

     

    2.4 Cara penularan HPV

    Penularan tidak terjadi melalui udara tetapi kontak langsung merupakan prasyarat terjadinya infeksi. Pada dewasa genital HPV terjadi melalui kontak seksual. Dapat juga terjadi melalui alat-alat yang dipakai secara bersama-sama seperti laser vaporisasi.

    Sebagian besar kanker serviks berasal dari zona transformmasi. Karena terinfeksi, dalam daerah ini sel-sel endoserviks berbah menjadi lesi prakanker. Infeksi HPV tipe resiko tinggi mengubah lesi prakanker menjadi kanker.

     

    2.5 Faktor yang mendukung timbulnya kanker serviks

    Kanker serviks dapat timbul didukung oleh beberapa faktor, yaitu :

    1. Berganti-ganti pasangan seksual HPV dapat menjangkiti seorang wanita jika pasangan seksualnya mengidap virus tersebut akibat berganti-ganti pasangan.
    2. Merokok. Zat nikotin yang dikandung tembakau   mempunyai kecenderungan mempengaruhi selaput lendir pada tubuh, termasuk selaput lendir mulut rahim, sehingga membuatnya rentan terhadap sel-sel kanker.
    3. Usia pernikahan (kontak seksual pertama kali). Wanita yang melakukan hubungan seksual di bawah 17 tahun rentan terkena penyakit ini
    4. Pria yang tidak disunat. Wanita yang mempunyai pasangan seksual tidak disunat lebih beresiko terkena kanker.
    5. Pemakaian DES (dietilstilbestrol) pada wanita hamil untuk mencegah keguguran (banyak digunakan pada tahun 1940-1970)
    6. Gangguan sistem kekebalan
    7. Pemakaian pil KB
    8. Infeksi herpes genitalis atau infeksi klamidia menahun

     

     

     

    2.6 Yang beresiko terinfeksi HPV

    80% perempuan akan beresiko terinfeksi oleh HPV pada masa hidupnya. 50% diantaranya akan beresiko terinfeksi HPV yang dapat menyebabkan kanker pada masa hidupnya.

    Infeksi HPV berkaitan dengan terjadinya kanker serviks, yang paling beresiko terinfeksi HPV yaitu :

    1. Perempuan dengan mitra seksual multipel, begitu sebaliknya pria dengan mitra seksual multipel

    2. Perempuan yang merokok mempunyai resiko dua kali lebih tinggi untuk menderita kanker serviks daripada perempuan yang tidak merokok.

    3. Perempuan yang kehamilan pertamanya terlambat, beresiko menderita kanker serviks lebih rendah.

    4. Tingkat sosial ekonomi rendah beresiko menderita kanker serviks daripada tingkat sosial ekonomi menengah ke atas.

    5. Penggunaan kontrasepsi oral menunjukkan peningkatan resiko walaupun.

    6. Perempuan / laki-laki dengan riwayat infeksi menular seksual (IMS), meningkatkan resiko menderita kanker serviks.

    2.7 Cara mendeteksi

    Untuk mengetahui apabila seorang perempuan terinfeksi HPV atau tidak, dapat dideteksi dengan cara :

    1.      Pap smear

    Pap smear (juga dikenal test Pap) adalah serangkaian tindakan medis yang mana mengambil sampel sel dari serviks seorang perempuan ( serviks merupakan bagian ujung dari uterus yang masuk ke dalam vagina), kemudian dioleskan pada slide. Sel tersebut diperiksa dengan mikroskop untuk mencari lesi prakanker atau perubahan keganasan.

     

     

     

     

    2.      IVA (Inspeksi Visual Acetat)

    Cara mendeteksi kanker serviks dengan cara sederhana yang efektif dengan cara mengoleskan asam asetat 3-5% ke mulut rahim kemudian melihat reaksi perubahan.

    3.      Biopsi
    Biopsi dilakukan jika pada pemeriksaan panggul tampak suatu pertumbuhan atau luka pada serviks,  atau jika Pap smear menunjukkan suatu abnormalitas atau kanker.
    4.  Kolposkopi (pemeriksaan serviks dengan lensa pembesar)

     

    5.      Tes Schiller
    Serviks diolesi dengan lauran yodium, sel yang sehat warnanya akan berubah menjadi coklat, sedangkan sel yang abnormal warnanya menjadi putih atau kuning.
    Untuk membantu menentukan stadium kanker, dilakukan beberapa pemeriksan berikut:
    a.Sistoskopi
    b.Rontgen dada

     

     

     

     

     

     

     

    2.8 Tindakan yang dilakukan apabila sudah terinfeksi HPV

    Beberapa tindakan yang dapat dilakukan, apabila seseorang telah terinfeksi HPV, yaitu :

    1.                  Surgical treatment

    Yaitu tindakan bedah yang dilakukan untuk mengangkat sel-sel kanker dengan operasi.

    2.                  Radioterapi

    Yaitu suatu terapi dengan menggunakan sinar-x atau radio aktif untuk membunuh sel-sel kanker.

    3.                  Kemoterapi

    Yaitu suatu terapi dengan menggunakan obat-obatan yang khusus untuk kanker. Penggunaan obat-obatan ini dimaksud untuk melawan dan memusnahkan sel-sel kanker yang menyebar

    4.                  Terapi Piliatif

    Yaitu suatu terapi dimana yang difokuskan adalah peningkatan kualitas hidup penderita kanker dengan menghilangkan / mengurangkan rasa sakit karena kanker sudah tidak dapat disembuhkan.

     

    2.9 Cara Pencegahan

    1. Pencegahan primer (vaksinasi)

    Dari studi penelitian menunjukkan bahwa vaksinasi bersama skrinning dapat mengurangi kejadian kanker serviks secara efektif. Vaksinasi saat ini merupakan era baru dalam pencegahan kanker serviks bagi remaja putri dan perempuan dewasa. Vaksinasi diharapkan dapat memberikan perlindungan terhadap infeksi HPV tipe 16 dan 18 yang yang menjadi penyebab utama kejadian kanker serviks. Vaksinasi dapat memberikan perlindungan silang terhadap infeksi HPV lainnya penyebab kanker yakni tipe 45, 31 &amp; 52. Vaksinasi diberikan sedini mungkin (mulai 10 tahun). Rekomendasi dari IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) &amp; HOGI (Himpunan Onkologi Gynekologi Indonesia). Vaksinasi dilakukan dalam tiga tahap dosis pemberian yaitu ke-0, ke-1, dan ke-6.

     

    2. Pencegahan sekunder (pap smear &amp; IVA bagi yang sudah berhubungan seksual)

    a.       Pap smear

    Pap smear (juga dikenal test Pap) adalah serangkaian tindakan medis yang mana mengambil sampel sel dari serviks seorang perempuan ( serviks merupakan bagian ujung dari uterus yang masuk ke dalam vagina), kemudian dioleskan pada slide. Sel tersebut diperiksa dengan mikroskop untuk mencari lesi prakanker atau perubahan keganasan.

    b.      IVA (Inspeksi Visual Acetat)

    Cara mendeteksi kanker serviks dengan cara sederhana yang efektif dengan cara mengoleskan asam asetat 3-5% ke mulut rahim kemudian melihat reaksi perubahan.

    2.10 Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kanker serviks

    sebaiknya:

    1. Anak perempuan yang berusia dibawah 18 tahun tidak melakukan hubungan seksual.
    2. Jangan melakukan hubungan seksual dengan penderita kutil kelamin atau gunakan kondom untuk mencegah penularan kutil kelamin
    3. Jangan berganti-ganti pasangan seksual
    4. Berhenti merokok.

    5.   Pemeriksaan panggul setiap tahun (termasuk Pap smear) harus dimulai ketika seorang wanita mulai aktif melakukan hubungan seksual atau pada usia 20 tahun. Setiap hasil yang abnormal harus diikuti dengan pemeriksaan kolposkopi dan biopsy.

     

    BAB III

    PENUTUP

     

     

    A. KESIMPULAN

    Kanker Serviks yang disebabkan oleh HPV (Human Papilloma Virus) dapat dicegah dengan pencegahan primer (melalui vaksinasi) maupun sekunder (melalui papsmear dan IVA).

     

    B. SARAN

    Dengan dibuatnya makalah mengenai kanker serviks ini, diharapkan

    1.      Para remaja agar menjauhi hubungan seks di luar nikah

    2.      Bagi pasangan suami istri agar tidak berganti-ganti pasanagan dalam berhubungan.

    3.      Bagi perempuan atau laki-laki agar berhenti dan menjauhi rokok.

     

     

    DAFTAR PUSTAKA

     

    http://www.cegahkankerserviks.com

    id.wikipedia.org/kanker_leher_rahim/

    http://www.pembalutwanita.com

    http://parentingislami.wordpress.com
    www. Medicastore.com


    www. Seksfile.wordpress.com

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal