Hubungan Pemijatan Perut Pada Saat Masa Kehamilan Dengan kejadian Lilitan Tali Pusat Di BPS Dwi Rezeki,Am.Keb Tahun 2011

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

       Tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk atau individu agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Salah satu tantangan pembangunan Indonesia di bidang kesehatan adalah masih tingginya angka kematian bayi.(1)

       Sebenarnya lilitan tali pusat tidaklah terlalu membahayakan namun menjadi bahaya ketika memasuki proses persalinan dan terjadi kontraksi rahim dan kepala janin turun memasuki saluran persalinan. Lilitan tali pusat bisa bisa menjadi semakin erat dan menyebabkan penurunan utero – placenter, juga menyebabkan penekanan atau kompresi pada pembuluh – pembuluh darah tali pusat. Akibatnya suplai darah yang mengandung oksigen dan zat makanan berkurang dan janin menjadi hipoksia.(2)

       Sebagian masyarakat beranggapan pijat perut saat hamil perlu dilakukan dengan tujuan agar posisi janin tetap pada tempatnya. Hanya saja perlakuan itu tidak sepenuhnya aman, salah dalam pemijatan bisa membahayakan kondisi ibu dan janin. Banyak risiko yang bisa timbul jika

melakukan pemijatan pada perut ibu hamil karena pada bagian perut ada kontak langsung pada janin di kandungan. Pertama posisi janin yang semula sudah bagus malah bisa berbalik menjadi tidak normal, tali pusat bisa melilit hingga mengganggu janin, serta keadaan lain yang bisa membahayakan ibu dan janin. Dalam perut, selain rahim juga ada organ – organ lain seperti usus, lambung dan organ penting lainnya. Kesalahan dalam pemijatan juga bisa mempengaruhi organ itu. Pemijatan yang dilakukan oleh tukang pijat berpengalaman tetap tidak dianjurkan, kalaupun ada keluhan sebaiknya diperiksakan ke dokter.(3)

       Indonesia membuat rencana strategi nasional making pregnancy safer (MPS) untuk tahun 2001 – 2010 untuk menurunkan angka kematian maternal menjadi 125/100.000 kelahiran hidup. Target millenium development goal (MDGs) untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) 118/100.000 kelahiran hidup pada tahun 2014. AKI melahirkan belum dapat turun seperti yang diharapkan. Menurut survey demografi kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 AKI 228/100.000 kelahiran hidup.(1)

       AKI dan angka kematian bayi (AKB) merupakan indikator penting untuk menilai tingkat kesejahteraan suatu negara dan status kesehatan masyarakat. Angka kematian bayi sebagian besar adalah kematian neonatal yang berkaitan dengan status kesehatan ibu saat hamil, pengetahuan ibu dan keluarga dengan pentingnya pemeriksaan kehamilan dan peranan tenaga kesehatan serta ketersediaan fasilitas kesehatan. Setiap tahun diperkirakan terjadi 4,3 juta kelahiran mati dan 3,3 juta kematian neonatal di seluruh dunia. Meskipun angka kematian bayi di berbagai dunia telah mengalami penurunan namun kontribusi kematian neonatal pada kematian bayi semakin tinggi.(2)

       Menurut Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002 – 2003 di antara 15.235 kehamilan ditemukan 147 (0,96%) lahir mati dan 224 (1,48%) kematian neonatal dini sehingga menghasilkan angka kematian perinatal 24/1000 kelahiran. AKP menyumbang sekitar 77% dari kematian neonatal, dimana kematian neonatal menyumbang 58% dari total kematian bayi.(2)

Hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Mahasiswi STIKES Respati Yogyakarta yang bernama Setyaningsih didapatkan hasil bahwa ada hubungan pijat perut pada ibu hamil dengan kejadian posisi sungsang.

Berdasarkan pada hasil Studi pendahuluan dari bulan januari 2010 – Maret 2011 di BPS Dwi Rezeki didapatkan hasil dari 32 persalinan, 16 atau 50% diantaranya mengalami lilitan tali pusat. Dan berdasarkan pra survei pada bulan Maret 2011 di BPS Dwi Rezeki,Am.Keb dari 10 ibu hamil 8 diantaranya pernah melakukan pemijatan perut pada saat masa kehamilan.

       Beberapa penyebab kematian bayi menurut hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001 dapat bermula dari masa kehamilan 28 minggu sampai hari ke 7 setelah persalinan (masa perinatal). Penyebab kematian bayi yang terbanyak adalah karena pertumbuhan janin yang lambat, kekurangan gizi pada janin, kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah yaitu sebesar 38,85%. Sedangkan penyebab lainnya yang cukup banyak terjadi adalah kejadian kurangnya oksigen dalam rahim (hipoksia intrauterus) karena adanya lilitan tali pusat dan kegagalan nafas secara spontan dan teratur pada saat lahir atau beberapa saat setelah lahir (asfiksia) yaitu 27,97%. Hal ini menunjukkan bahwa 66,82% kematian perinatal dihubungkan pada kondisi ibu saat melahirkan.(2)

       Insidensi hasil penelitian angka kejadian penampilan talipusat di jalan lahir oleh Myles dari Royal Maternity Hospital, Belfaast, Irlandia berkisar antara 0,3 sampai 0,6 persen persalinan. Pengalaman Mount Sinai Hospital melaporkan bahwa insidensi lilitan tali pusat pada presentasi bokong murni, janin aterm, adalah 3 kali lebih besar (1,7 persen) daripada presentasi belakang kepala pada janin aterm, sedangkan untuk presentasi bokong kaki dan presentasi kaki insidensi lilitan tali pusat adalah 20 kali lebih besar (10,9 persen) daripada presentasi belakang kepala pada janin aterm.(2)

             Berdasarkan latar belakang diatas menarik untuk diketahui hubungan pemijatan perut pada saat masa kehamilan dengan kejadian lilitan tali pusat di BPS Dwi Rezeki,Am.Keb Tahun 2011.

  1. Perumusan Masalah

       Dari uraian latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah ”Apakah ada hubungan pemijatan perut pada saat masa kehamilan dengan kejadian lilitan tali pusat ?”

  1. Tujuan Penelitian
  2. Tujuan umum

       Menganalisa hubungan pemijatan perut pada saat masa kehamilan dengan kejadian lilitan tali pusat

  1. Tujuan khusus

Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah :

  1. Mengidentifikasi pemijatan perut pada saat masa kehamilan.
  2. Mengidentifikasi kejadian lilitan talipusat
  3. Menganalisis hubungan pemijatan perut pada saat masa kehamilan dengan kejadian lilitan talipusat.
  4. Manfaat Penelitian
  5. Bagi Peneliti

       Menambah pengalaman dan pengetahuan serta memperoleh pengalaman nyata dalam riset tentang hubungan pemijatan perut pada saat masa kehamilan dengan kejadian lilitan talipusat.

  1. Bagi Puskesmas dan Instansi terkait

Dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi puskesmas dan instansi terkait dalam mengurangi kejadian lilitan tali pusat dengan cara menghindari pemijatan perut pada saat masa kehamilan.

  1. Bagi Institusi Pendidikan

Untuk menambah khasanah dalam ilmu kebidanan, dapat digunakan sebagai data dasar untuk melaksanakan penelitian dengan hubungan pemijatan perut pada saat masa kehamilan dengan kejadian lilitan talipusat.

  1. Keaslian Penelitian

Penelitian serupa pernah dilakukan oleh Mahasiswi STIKES Respati Yogyakarta yang bernama Setyaningsih dengan judul penelitian “Hubungan Pijat Perut Pada Ibu Hamil Dengan Kejadian Posisi Sungsang Di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta Tahun 2008”. Dengan variabel bebasnya adalah pijat perut pada ibu hamil dan variabel terikatnya adalah kejadian posisi sungsang menggunakan pendekatan survey analitik. Dengan hasil adanya hubungan pijat perut pada ibu hamil dengan kejadian posisi sungsang.

Adapun perbedaan dari penelitian ini adalah, judul, waktu serta variabel terikatnya yaitu Hubungan Pemijatan Perut Pada Saat Masa Kehamilan Dengan Kejadian Lilitan Tali Pusat Di BPS Sri Rahayu,Am.Keb Tahun 2014. Adapun persamaan penelitian ini dari sebelumnya adalah variabel bebasnya yaitu pijat perut pada ibu hamil dengan pendekatan survey analitik.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

  1. Tinjauan Teori
  1. Pengertian Tali Pusat

Tali pusat atau funiculus umbilicalis adalah saluran kehidupan bagi janin selama dalam kandungan. Dikatakan saluran kehidupan karena saluran inilah yang selama kehamilan menyuplai zat – zat gizi dan oksigen ke janin. Tetapi begitu bayi lahir, saluran ini sudah tidak diperlukan lagi sehingga harus dipotong dan diikat atau dijepit.(1)

Letak funiculus umbilicalis terbentang dari permukaan fetal plasenta sampai daerah umbilicus fetus dan berlanjut sebagai kulit fetus pada perbatasan tersebut. Funiculus umbilicalis secara normal berinsersi di bagian tengah plasenta. Bentuk funiculus umbilicalis seperti tali yang memanjang dari tengah plasenta sampai ke umbilicus fetus dan mempunyai sekitar 40 puntiran spiral.(1)

Ukuran pada saat cukup bulan funiculus umbilicalis panjangnya 40- 50 cm dan diameternya 1 – 2 cm. Hal ini cukup untuk kelahiran bayi tanpa menarik plasenta keluar dari rahim ibu. Tali pusat menjadi lebih panjang jika jumlah air ketuban pada kehamilan trimester pertama dan kedua relatif banyak, disertai dengan mobilitas bayi yang sering. Sebaliknya, jika oligohidramnion dan janin kurang gerak (pada kelainan motorik janin), maka umunya tali pusat lebih pendek. Kerugian apabila tali pusat terlalu panjang adalah dapat terjadi lilitan di sekitar leher atau tubuh janin atau menjadi ikatan yang dapat menyebabkan oklusi pembuluh darah khususnya pada saat persalinan.(1)

  1. Struktur Tali Pusat

      Amnion menutupi funiculus umbilicalis dan merupakan lanjutan amnion yang menutupi permukaan fetal plasenta. Pada ujung fetal amnion melanjutkan diri dengan kulit yang menutupi abdomen. Baik kulit maupun membran amnion berasal dari ektoderm.(4)

Tiga pembuluh darah setelah struktur lengkung usus, yolk sack dan duktus vitellinus menghilang, tali pusat akhirnya hanya mengandung pembuluh darah umbilikal yang menghubungkan sirkulasi janin dengan plasenta. Ketiga pembuluh darah itu saling berpilin di dalam funiculus umbilicalis dan melanjutkan sebagai pembuluh darah kecil pada vili korion plasenta. Kekuatan aliran darah (kurang lebih 400ml / menit) dalam tali pusat membantu mempertahankan tali pusat dalam posisi relatif lurus dan mencegah terbelitnya tali pusat tersebut ketika janin bergerak – gerak. Ketiga pembuluh darah tersebut yaitu :

a). Satu vena umbilicalis membawa oksigen dan memberi nutrien ke sistem peredaran darah fetus dari darah maternal yang terletak di dalam spatium choriodeciduale.

b). Dua arteri umbilicalis mengembalikan produk sisa (limbah) dari fetus ke plasenta dimana produk sisa tersebut diasimilasi ke dalam peredaran darah maternal untuk di ekskresikan.

c). Jeli wharton merupakan zat yang berkonsistensi lengket yang mengelilingi pembuluh darah pada funiculus umbilicalis. Jeli wharton merupakan suatu ubstansi seperti jeli, juga berasal dari mesoderm seperti halnya pembuluh darah. Jeli ini melindungi pembuluh darah tersebut terhadap kompresi, sehingga pemberian makanan yang kontinyu untuk janin dapat dijamin. Selain itu juga dapat membantu mencegah penekukan tali pusat. Jeli wharton ini akan mengembang jika terkena udara. Jeli wharton ini kadang – kadang terkumpul sebagai gumpalan kecil dan membentuk simpul palsu di dalam funiculus umbilicalis. Jumlah jeli inilah yang menyebabkan funiculus umbilicalis menjadi tebal atau tipis.(4)

  1. Fungsi Tali Pusat

Fungsi tali pusat yaitu sebagai saluran yang menghubungkan antara plasenta dan bagian tubuh janin sehingga janin mendapat asupan oksigen, makanan dan antibodi dari ibu yang sebelumnya diterima terlebih dahulu oleh plasenta melalui vena umbilicalis.

Saluran pertukaran bahan – bahan kumuh seperti urea dan gas karbon dioksida yang akan meresap keluar melalui arteri umbilicalis.(5)

  1. Sirkulasi Tali Pusat

     Fetus yang sedang membesar di dalam uterus ibu mempunyai dua keperluan yang sangat penting dan harus dipenuhi, yaitu bekalan oksigen dan nutrien serta penyingkiran bahan kumuh yang dihasilkan oleh sel – selnya. Jika keperluan ini tidak dapat dipenuhi, fetus akan menghadapi masalah dan mungkin maut. Struktur yang bertanggung jawab untuk memenuhi keperluan fetus ialah plasenta. Plasenta yang terdiri dari tisu fetus dan tisu ibu terbentuk dengan lengkapnya pada ujung minggu ke 16.(4)

Pada plasenta banyak terdapat unjuran seperti jari atau vilus tumbuh dari membran yang menyelimuti fetus dan menembusi dinding uterus, yaitu endometrium. Endometrium pada uterus adalah kaya dengan aliran darah ibu. Di dalam vilus terdapat jaringan kapilari darah fetus. Darah yang kaya oksigen dan nutrien ini dibawa melalui vena umbilikalis yang terdapat di dalam tali pusat ke fetus. Sebaliknya, darah yang sampai ke vilus dari fetus melalui arteri umbilikalis dalam tali pusat mengandung bahan kumuh seperti karbon dioksida dan urea. Bahan kumuh ini akan meresap membran dan memasuki darah ibu yang terdapat di sekeliling vilus. Pertukaran oksigen, nutrien dan bahan kumuh lazimnya berlaku melalui proses resapan. Dengan cara ini keperluan janin dapat terpenuhi.(5)

Walaupun darah ibu dan darah fetus dalam vilus adalah begitu rapat, tetapi kedua – dua darah tidak bercampur karena dipisahkan oleh suatu membran. Oksigen, air, glukosa, asid amoni, lipid, garam, mineral, vitamin, hormon dan antibodi dari darah ibu perlu menembus membran ini dan memasuki kapilari darah fetus yang terdapat dalam vilus. Selain oksigen dan nutrien, antibodi dari darah ibu juga meresap ke dalam darah fetus melalui plasenta. Antibodi ini melindungi fetus dan bayi yang dilahirkan dari serangan penyakit.(5)

  1. Kelainan Letak Tali Pusat

Dalam kehamilan trimester akhir atau awal persalinan, talipusat atau bagian – bagian kecil janin (ekstremitas) dapat tampil di jalan lahir melalui bagian terbawah janin atau turun bersama – sama dengannya ke dalam panggul. Prolaps talipusat hendaknya dianggap sebagai suatu keadaan darurat yang cukup serius. Keadaan ini dapat menyebabkan terjadinya penjepitan atau kompresi talipusat, sehingga dapat timbul gangguan sirkulasi utero plasenta. Janin akan kekurangan oksigen atau hipoksia dan dapat mati.(2)

Bilamana yang tampil di jalan lahir itu talipusat, maka dibedakan atas 3 macam kemungkinan kejadian yang disebut :

a). Talipusat tersembunyi (occult), bila jerat talipusat berada di samping bagian terbawah janin, pada ketuban yang masih utuh.

b). Talipusat letak terkemuka (voorliggend), bila jerat talipusat mendahului bagian terbawah janin dan terdapat lebih rendah dari bagian terbawah janin pada ketuban yang masih utuh.

c). Talipusat menumbung (prolaps), bila jerat talipusat mendahului bagian terbawah janin dan menjulur ke dalam vagina sampai kadang tampak di luar vulva, pada kondisi ketuban yang sudah pecah.

Talipusat menumbung pada janin dalam presentasi kepala merupakan penyulit obstetrik yang gawat, karena dikaitkan dengan insidensi kematian perinatal yang tinggi. Begitu diagnosis ditegakkan, secepat mungkin bayi harus dilahirkan. Talipusat menumbung pada presentasi sungsang tidak segawat pada presentasi kepala, kecuali kalau talipusat itu dinaiki oleh janin, karena dengan semakin turunnya bokong, talipusat dapat begitu teregang sehingga dapat mengganggu aliran darah talipusat yang akan berakibat fatal bagi janin. Begitu pula talipusat menumbung pada presentasi bahu tidak segawat pada presentasi kepala, kecuali kalau talipusat itu disandang oleh janin seperti orang sedang menyandang senapan, karena dengan semakin turunnya bahu selain janin sendiri semakin tertekuk di jalan lahir, letak janin yang melintang menjadi kasip, juga talipusat akan sangat teregang dan tertekan, sehingga akan mengganggu aliran darah umbilikal yang dapat berakibat fatal bagi janin.(2)

Pada umunya dapat dikatakan bahwa setiap faktor yang mengganggu adaptasi bagian terendah janin dengan pintu atas panggul akan memberi kecenderungan terjadinya talipusat menumbung.

Tali pusat secara normal berinsersi di bagian sentral ke dalam permukaan fetal palsenta. Namun, ada beberapa yang memiliki kelainan letak seperti :

a). Insersi tali pusat Battledore

Pada kasus ini tali pusat terhubung ke paling pinggir plasenta seperti bentuk bet tenis meja. Kondisi ini tidak bermasalah kecuali sambungannya rapuh.

b). Insersi tali pusat Velamentous

Tali pusat berinsersi ke dalam membran agak jauh dari pinggir palsenta. Pembuluh darah umbilikus melewati membran mulai dari tali pusat ke plasenta. Bila letak plasenta normal, tidak berbahaya untuk janin, tetapi tali pusat dapat terputus bila dilakukan tarikan pada penanganan aktif di kala tiga persalinan.

Tali pusat terlalu panjang memudahkan terjadinya lilitan talipusat, talipusat menumbung dan simpul benar. Lilitan talipusat biasanya terdapat pada leher janin. Lilitan talipusat menyebabkan talipusat menjadi relatif pendek dan mungkin juga menyebabkan letak defleksi. Setelah kepala janin lahir, lilitan perlu segera dibebaskan melalui kepala atau digunting antara 2 kocher.(6)

  1. Penyebab Lilitan Talipusat

Pada usia kehamilan sebelum 8 bulan umumnya kehamilan janin belum memasuki bagian atas panggul. Pada saat itu ukuran bayi relative kecil dan jumlah air ketuban berlebihan (hidramnion) kemungkinan bayi terlilit talipusat.

Talipusat yang panjang menyebabkan bayi terlilit. Panjang talipusat bayi rata – rata 50 – 60 cm, namun tiap bayi mempunyai talipusat berbeda – beda. Dikatakan panjang jika melebihi 100 cm dan dikatakan pendek jika kurang dari 30 cm.(5)

  1. Penyebab Bayi Meninggal Karena Lilitan Talipusat

       Puntiran talipusat secara berulang – ulang ke satu arah. Biasanya terjadi pada trimester pertama dan kedua. Ini mengakibatkan arus darah dari ibu ke janin melalui talipusat terhambat total. Karena dalam usia kehamilan umumnya bayi bergerak bebas. Lilitan talipusat pada bayi terlalu erat sampai dua atau tiga lilitan, hal tersebut menyebabkan kompresi talipusat sehingga janin mengalamin hipoksia atau kekurangan oksigen.(7)

  1. Tanda – tanda Bayi Terlilit Talipusat

Pada bayi dengan usia kehamilan 34 minggu, namun bagian terendah janin (kepala atau bokong) belum memasuki bagian atas rongga panggul. Pada janin letak sungsang atau lintang yang menetap meskipun telah dilakukan usaha memutar janin (versi luar) perlu dicurigai pula adanya lilitan talipusat. Tanda penurunan denyut jantung janin (DJJ) di bawah normal, terutama pada saat kontraksi.(7)

  1. Cara Mengatasi Bayi dengan Lilitan Talipusat

Memberikan oksigen pada ibu dalam posisi miring, namun bila persalinan masih akan berlangsung lama dengan DJJ yang semakin lambat (Bradikardia), persalinan harus segera diakhiri dengan operasi Caesar. Melalui pemeriksaan teratur dengan bantuan Ultra sonografi (USG) untuk melihat apakah ada gambaran talipusat di sekitar leher, namun tidak dapat dipastikan sepenuhnya bahwa talipusat tersebut melilit leher janin atau tidak. Apalagi untuk menilai erat atau tidaknya lilitan. Namun dengan USG berwarna (Coller Doppen) atau USG tiga dimensi, dan dapat lebih memastikan talipusat tersebut melilit atau tidak di leher, atau sekitar tubuh yang lain pada janin. Serta menilai erat tidaknya lilitan tersebut.(5)

Dalam pimpinan persalinan terutama kala dua observasi, DJJ sangatlah penting segera setelah his dan refleks mengejan. Kejadian distress janin merupakan indikasi untuk menyelesaikan persalinan sehingga bayi dapat diselamatkan. Jika talipusat melilit longggar di leher bayi, lepaskan melalui kepala bayi, namun jika talipusat melilit erat di leher lakukan penjepitan talipusat dengan klem di dua tempat, kemudian potong diantaranya, kemudian lahirkan bayi dengan segera. Dalam situasi terpaksa bidan adapat melakukan pemotongan talipusat pada waktu pertolongan persalinan bayi.(5)

  1. Manfaat Pijat Pada Ibu Hamil

Pijat sangat bermanfaat dalam mengurangi stres dan merilekskan badan. Pijat akan membantu meredakan kejang otot dan kram akibat beban ekstra yang harus dibawa oleh perempuan hamil dan perubahan fisik yang terjadi selama kehamilan. Tapi, pastikan menerapkan teknik pijat yang aman untuk perempuan hamil dengan menghindari bagian – bagian tubuh tertentu dan posisi yang berisiko. Pijat berfungsi untuk mengurangi stres dan sekaligus mengajarkan ibu cara rileks. Seperti yang Anda tahu, relaksasi merupakan salah satu kunci utama dalam proses melahirkan. Selain itu, teknik pijat juga membantu menguatkan proses kehamilan dengan cara memperlancar aliran darah, sirkulasi limpa, mengurangi edema, dan membantu menyiapkan kesiapan    mental dan fisik ibu. Selanjutnya, pijat juga berfungsi mengurangi stres persendian akibat beban ekstra dan membantu memaksimalkan kapasitas pernafasan yang sangat diperlukan dalam proses melahirkan.(3)

  1. Bagian Tubuh Yang Perlu Dihindari dari Pijatan

Jika hendak melakukan pijat, pastikan mencari terapis yang ahli dan berpengalaman memijat perempuan hamil. Tubuh, mulai dari dinding lambung, kulit, payudara hingga sistem pernafasan, akan mengalami perubahan saat kehamilan. Jadi, teknik yang digunakan juga harus sesuai dengan kondisi tubuh Anda. Berikut beberapa bagian tubuh yang memerlukan perhatian khusus:

a). Perut : Otot dan kulit pada dinding perut akan mengalami peregangan. Karena itu, hindari melakukan pijatan langsung di area perut.

b). Payudara : Payudara akan membesar dan sensitif sehingga sebaiknya juga dihindari pijatan langsung.

3 Kaki : Ukuran jantung akan membesar, terjadi perluasan pembuluh darah,            volume darah meningkat hingga 30-50%, terjadi peningkatan sel-sel           darah merah dan darah putih. Selain itu, volume cairan interstitial juga akan meningkat sebanyak 40% pada trimester ke-3, sehingga memicu edema. Di samping itu, perempuan yang mengalami masalah jantung juga berisiko paling besar mengalami gagal jantung pada trimester ke-3.

Karena itu, berhati-hatilah saat melakukan pijatan di area kaki karena   bisa meningkatkan pengentalan darah. Otot-otot yang perlu direlakskan adalah otot-otot adductor (otot yang menarik kaki dan tangan ke arah          garis pusat tubuh) sehingga otot-otot panggul juga ikut relaks. Selain itu, pastikan Anda berada dalam posisi menyamping.(3)

  1. Landasan Teori

Tali pusat terlalu panjang memudahkan terjadinya lilitan talipusat, talipusat menumbung dan simpul benar. Lilitan talipusat biasanya terdapat pada leher janin. Lilitan talipusat menyebabkan talipusat menjadi relatif pendek dan mungkin juga menyebabkan letak defleksi. Setelah kepala janin lahir, lilitan perlu segera dibebaskan melalui kepala atau digunting antara 2 kocher.

Ibu hamil lebih cepat mangalami kelelahan dan hal itu membuat badan menjadi pegal – pegal. Banyak risiko yang bisa timbul jika melakukan pemijatan pada perut ibu hamil. Posisi janin yang semula sudah bagus malah bisa berbalik menjadi tidak normal, lilitan tali pusat hingga mengganggu janin, serta keadaan lain yang bisa membahayakan ibu dan janin.(7)

Adapun lilitan talipusat dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor, yaitu diantaranya :

  1. 1. Faktor Predisposisi, yang diantaranya adalah letak janin yang tidak normal, posisi janin belum memasuki pintu atas panggul, kehamilan ganda dan hidramnion.(4)
  2. 2. Faktor Eksternal, yang diantaranya adalah pemijatan perut pada saat masa kehamilan.(1)
  1. Kerangka Teori

Gambar 1 Bagan Kerangka Teori Penelitian

Sumber : Sarwono,2007 dan http://pijat perutpadakehamilan.net/index.php.

  1. Kerangka Konsep

Keterangan :

Diteliti               :

Tidak diteliti     :

Gambar 2 Bagan Kerangka Teori Penelitian

  1. Hipotesis

Ada hubungan pemijatan perut pada saat masa kehamilan dengan kejadian lilitan talipusat.

BAB III

METODE PENELITIAN

 

  1. Rancangan Penelitian

Dalam penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik yaitu menganalisis hubungan pemijatan perut pada saat masa kehamilan dengan kejadian lilitan talipusat dengan model pendekatan Cross Sectional yaitu rancangan penelitian dengan melakukan pengukuran atau pengamatan pada saat yang bersamaan (sekali waktu) antara faktor resiko/paparan dengan penyakit. (8)

  1. Subyek Penelitian
  2. 1. Populasi

Seluruh ibu nifas di BPS Sri Rahayu,Am.Keb

  1. 2. Sampel

Seluruh ibu nifas di BPS Sri Rahayu,Am.Keb pada bulan Februari-April 2014, yaitu 30 responden.

  1. 3. Sampling

                   Teknik yang digunakan untuk pengambilan sampel adalah Accidental Sampling yaitu pengambilan sampel secara aksidental ini dilakukan dengan mengambil kasus atau responden yang kebetulan ada atau tersedia. (8)

  1. Instrumen penelitian

         Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan adalah Check list sebagai pedoman wawancara untuk mengetahui riwayat pemijatan perut pada saat masa kehamilan, dengan menggunakan pertanyaan tertutup. Sementara untuk mengetahui kejadian lilitan tali pusat menggunakan laporan persalinan.

 

  1. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

       Variabel adalah Perilaku atau karakteristik yang memberikan nilai beda terhadap sesuatu (benda, manusia, dll).(9) Dalam penelitian ini variabel yang diteliti adalah :

  1. Variabel independen ( bebas ) : pemijatan perut pada saat masa kehamilan.
  2. Variabel dependen ( terikat ) : kejadian lilitan talipusat.
  1. Definisi Operasional

Tabel 3.1 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

No. Variabel Definisi Alat Ukur Skala Ukur Hasil
Bebas
1. Pemijatan perut pada saat masa kehamilan ·   Kegiatan menekan dengan jari, di bagian perut ibu hamil oleh dukun kampung untuk melemaskan otot sehingga peredaran darah lancar. Check list Nominal 1.      Ya

2.      Tidak

Terikat
2. Kejadian Lilitan talipusat ·   Keadaan dimana tali pusat melilit pada leher atau bagian tubuh lainnya pada janin. Check list Nominal 1.      Ya

2.      Tidak

.

  1. Prosedur penelitian
  2. Persiapan

   Sebelum penelitian ini dilakukan, peneliti melakukan tahap-tahap sebagai berikut yaitu melakukan studi pendahuluan, pencarian literatur, penyusunan proposal, penyusunan instrumen, serta ujian proposal sampai dengan selesainya proposal penelitian.

  1. Pelaksanaan

Sebelum penelitian dilakukan, peneliti mengajukan surat permohonan untuk mendapatkan rekomendasi dari Akbid Kebidanan Martapura dan perijinan penelitian kepada BPS Dwi rezeki, Am.Keb. Setelah mendapatkan persetujuan institusi tempat penelitian, kemudian peneliti melakukan penelitian yang sesuai dengan prinsip-prinsip etis penelitian yaitu meminta persetujuan kepada responden. Kemudian peneliti menjalankan maksud dari penelitian serta dampak yang mungkin terjadi selama dan sesudah pengumpulan data. Pengumpulan data dilakukan dengan cara check list dan melakukan observasi.

  1. Penyelesaian Penelitian/Pembuatan Laporan

   Setelah data terkumpul, kemudian peneliti melakukan tahap pengolahan dan analisis data untuk selanjutnya disajikan dalam bentuk sebuah laporan penelitian.

  1. Teknik Pengumpulan Data

   Pengumpulan data atau sumber data diperoleh dari data primer, dimana data primer diperoleh dengan menggunakan Check list sebagai pedoman wawancara.

  1. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah kegiatan penelitian dengan melakukan analisis data yang meliputi :

  1. Analisis Univariat

Untuk mengetahui apakah riwayat ibu pada saat hamil pernah dipijat atau tidak dapat diperoleh dari hasil wawancara dengan menggunakan Check list.(9)

  1. Ya = 1
  2. Tidak = 0

Mengetahui angka kejadian lilitan talipusat dapat diperoleh dengan wawancara menggunakan alat bantu Check list. (9)

  1. Ya = 1
  2. Tidak = 0
  3. Analisis Bivariat

Analisis ini dilakukan dengan membuat tabel silang antara variabel independen dengan dependen untuk mendapatkan variabel bebas mana yang diduga ada hubungannya pemijatan perut pada saat masa kehamilan dengan kejadian lilitan talipusat. Uji statistik yang digunakan dalam analisis bivariat ini adalah uji chi square untuk menguji kemaknaan hubungan dengan tingkat kepercayaan 95%.

Apabila nilai p £ 0,05 maka nilai hipotesis diterima yang berarti ada hubungan antara pemijatan perut pada saat masa kehamilan dengan kejadian lilitan talipusat dan sebaliknya.(10)

  1. Lokasi dan Waktu Penelitian
  2. 1. Lokasi Penelitian

   Tempat penelitian dilaksanakan di BPS Sri Rahayu,Am.Keb

  1. Waktu Penelitian

Waktu penelitian ini akan dilakukan pada bulan Mei sampai dengan Juli 2011. Pelaksanaan penelitian dimulai dengan penyusunan proposal sampai dengan penulisan laporan penelitian.

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

 

  1. Hasi Penelitian
  2. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Bidan Praktek Swasta (BPS) Sri Rahayu,Am.Keb berlokasi di jalan Budi Karya Loktabat Utara Banjarbaru Kalimantan Selatan. BPS ini berdiri sejak tahun 2007 dengan Surat Izin Praktek 113/2007/DINKES, terletak di daerah Loktabat Utara. BPS Sri Rahayu,Am.Keb merupakan klinik bersalin swasta yang secara teknis bertanggung jawab kepada Puskesmas Loktabat Utara dan teknis operasional bertanggung jawab kepada Dinas Kesehatan Banjarbaru.

BPS Sri Rahayu,Am.Keb mempunyai kapasitas 1 ruang pemeriksaan dan 1 ruang bersalin. Di dalam ruang pemeriksaan terdapat 1 buah timbangan dewasa, 1 buah pengukur tinggi badan,1 buah tempat tidur, 1 buah spignomanometer, 1 buah stetoskop, 1 buah meja, 3 buah kursi, 1 buah lemari obat. Sedangkan di dalam ruang bersalin terdapat 1 buah tempat tidur, 1 buah tabung oksigen, 1 buah tiang infus, 2 partus set, 1 timbangan bayi, dan perlengkapan bayi.

Dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat BPS ini di koordinator langsung oleh bidan Sri Rahayu,Am.Keb. BPS ini melayani pemeriksaan kehamilan, persalinan, imunisasi dan pelayanan KB.

  1. Gambaran Umum Karakteristik Responden

a). Umur Responden

Tabel 4.2 Karakteristik umum responden menurut umur pada ibu nifas di BPS Sri Rahayu,Am.Keb bulan Februari – April 2014.

Kelompok Umur Frekuensi (F) Persentase (%)
£ 20 tahun 5 16,7 %
21 – 25 tahun 11 36,7 %
26 – 30 tahun 10 33,3 %
31 – 35 tahun 3 10 %
> 35 tahun 1 3,3 %
Jumlah 30 100 %

 

Tabel 2 diatas menunjukkan bahwa kelompok umur terbanyak terdapat pada kelompok umur 21 – 25 tahun yaitu sebanyak 11 responden (36,7 %).

b). Paritas Responden

Tabel 4.3 Distribusi jumlah paritas responden pada ibu nifas di BPS Sri Rahayu,Am.Keb bulan Februari – April 2014.

 

Paritas Frekuensi (F) Persentase (%)
Primipara 15 50 %
Multipara 12 40 %
Grandemulti 3 10 %
Jumlah 30 100 %

 

Tabel 3 diatas menunjukkan bahwa paling banyak responden adalah yang primipara yaitu sebanyak 15 responden (50 %).

  1. Analisa Univariat

a). Pemijatan perut pada saat masa kehamilan

Tabel 4.4. Distribusi jumlah pemijatan perut pada saat masa kehamilan pada ibu nifas di BPS Dwi Rezeki,Am.Keb bulan Mei – Juni 2011.

 

Pemijatan Perut Jumlah %
Pijat 22 73,3%
Tidak Pijat 8 26,7%

Berdasarkan tabel di atas mayoritas responden melakukan pijat perut pada saat masa kehamilan yaitu 22 orang (73,3%).

b). Kejadian lilitan tali pusat

Tabel 4.5 Frekuensi kejadian lilitan tali pusat pada ibu nifas di BPS Dwi Rezeki,Am.Keb bulan Mei – Juni 2011.

Lilitan Tali Pusat Jumlah %
Lilitan 19 63,3%
Tidak Lilitan 11 36,7%

Berdasarkan tabel di atas mayoritas responden mengalami lilitan tali pusat saat melahirkan yaitu 19 orang (63,3%).

  1. Analisa Bivariat

Hasil penelitian pada hubungan pemijatan perut pada saat masa kehamilan dengan kejadian lilitan tali pusat dari 30 responden ibu nifas di BPS Dwi Rezeki,Am.Keb bulan Mei – Juni 2011 disajikan pada tabel 5.

  1. Hubungan pemijatan perut pada saat masa kehamilan dengan kejadian lilitan   tali pusat pada ibu nifas di BPS Dwi Rezeki,Am.Keb bulan Mei – Juni 2011.

Tabel 4.6 Tabulasi silang antara melakukan pemijatan perut pada saat masa kehamilan dengan kejadian lilitan tali pusat pada ibu nifas di BPS Dwi Rezeki,Am.Keb bulan Mei – Juni 2011.

 

Pijat Perut Saat Hamil Lilitan Tali Pusat Jumlah
Ya Tidak
Ya 17 5 22
Tidak 2 6 8
Jumlah 19 11 30

 

Dari 22 responden yang melakukan pemijatan perut pada saat masa kehamilan ada 17 responden yang mengalami lilitan tali pusat pada saat persalinan dan 5 responden yang tidak mengalami lilitan tali pusat saat persalinan.

Dari 8 responden yang tidak melakukan pemijatan perut pada saat masa kehamilan ada 2 responden yang mengalami lilitan tali pusat persalinan dan 6 responden yang tidak mengalami lilitan tali pusat saat persalinan.

Tabel 4.7 Tabulasi uji statistic hubungan pemijatan perut pada saat masa kehamilan dengan kejadian lilitan tali pusat pada ibu nifas di BPS Dwi Rezeki,Am.Keb bulan Mei – Juni 2011.

Value Df Asymp. Sig. (2-sided) Exact Sig. (2-sided) Exact Sig. (1-sided)
Pearson Chi-Square 6.903a 1 .009
Continuity Correctionb 4.836 1 .028
Likelihood Ratio 6.850 1 .009
Fisher’s Exact Test .028 .015
N of Valid Casesb 30

 

Berdasarkan analisis data di atas dapat diketahui terdapat 1 cells (25,0%) yang nilai expectednya kurang dari 5, maka digunakan uji Fisher Exact Test dengan nilai p = 0,028 < α = 0,05, maka artinya ada hubungan pemijatan perut pada saat masa kehamilan dengan kejadian lilitan tali pusat.

  1. Pembahasan
  2. Pemijatan Perut Pada Saat Masa Kehamilan

Hasil penelitian dari 30 responden yang terdapat pada tabel 4.3 diketahui bahwa ibu hamil yang melakukan pemijatan perut pada saat masa kehamilan sebanyak 22 responden (73,4 %). Hal ini kemungkinan disebabkan adanya dorongan dari pihak keluarga agar melakukan pemijatan perut pada saat hamil agar posisi janin tetap normal.

Pemijatan pada ibu hamil memang diperlukan untuk merilekskan organ – organ tubuh dan melancarkan peredaran darah, tetapi pijatan pada bagian perut sangat tidak dianjurkan karena dapat membahayakan keadaan ibu dan janin.

Pemijatan sudah menjadi tradisi di masyarakat, untuk ibu hamil harus melakukan pijatan pada perut agar posisi janin tetap normal. Pemijatan ini dipengaruhi oleh faktor sosial budaya dan kebiasaan yang dianut oleh masyarakat setempat. Faktor sosial budaya sangat berpengaruh pada kepercayaan masyarakat, dimana masyarakan lebih mempercayai pada dukun kampung untuk memperbaiki letak janin yang abnormal daripada ke tenaga kesehatan. Pemijatan ini juga dipengaruhi oleh kebiasaan yang dianut keluarga secara turun temurun.(11)

  1. Kejadia Lilitan Tali Pusat

Hasil penelitian dari 30 responden yang terdapat pada tabel 4.3 diketahui bahwa angka kejadian lilitan tali pusat sebanyak 19 responden (63,33 %).

Faktor – faktor yang mempengaruhi terjadinya lilitan tali pusat pada saat persalinan adalah letak janin yang tidak normal, posisi janin belum memasuki pintu atas panggul, kehamilan ganda, air ketuban yang berlebih, pijat pada bagian perut yang bertujuan untuk memutar posisi janin, serta gerakan janin yang lebih aktif.(12)

Pada usia kehamilan sebelum 8 bulan umumnya kehamilan janin belum memasuki bagian atas panggul. Pada saat itu ukuran bayi relative kecil dan jumlah air ketuban berlebihan (hidramnion) kemungkinan bayi terlilit talipusat.(2)

Pijatan pada bagian perut ibu hamil yang bertujuan untuk memperbaiki posisi janin yang abnormal menjadi salah satu penyebab janin terlilit tali pusat karena pijatan yang dilakukan oleh dukun kampung ini benar – benar memutar posisi janin sedangkan dukun kampung sendiri tidak mengetahui dengan pasti apakah posisi janin sudah normal atau belum. Terjadinya putaran pada janin menyebabkan janin jadi terlilit tali pusat dan apabila posisi janin sudah normal menjadi abnormal karena kegiatan memutar janin tersebut.(11)

Hubungan pemijatan perut pada saat masa kehamilan dengan kejadian lilitan tali pusat.

Hasil Uji Chi-Square dapat diketahui terdapat 1 cells (25,0%) yang nilai expectednya kurang dari 5, maka digunakan uji Fisher Exact Test dengan nilai p = 0,028 < α = 0,05, maka artinya ada hubungan pemijatan perut pada saat masa kehamilan dengan kejadian lilitan tali pusat.

Tali pusat terlalu panjang memudahkan terjadinya lilitan talipusat, didukung oleh kebiasaan masyarakat yang sering melakukan pemijatan perut pada saat masa kehamilan bertambahnya angka kejadian lilitan talipusat pada proses persalinan. Pemijatan yang dilakukan oleh dukun kampung mempunyai tujuan untuk memutar posisi janin jadi dapat menyebabkan janin terlilit talipusat. Apabila posisi janin sudah dalam keadaan normal, dilakukan pijatan pada perut dan memutar posisi janin menyebabkan posisi janin menjadi abnormal dan janin terlilit talipusat.(12)

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Setyaningsih (2008). Secara statistik hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara penelitian hubungan pijat perut pada ibu hamil dengan kejadian posisi sungsang (P = 0,005) di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta dengan nilai r (rho) = 0,614 yang berarti kekuatan hubungan kedua variabel penelitian adalah kuat.(13)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

 

  1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat dirumuskan kesimpulan sebagai berikut :

  1. Hasil penelitian dari 30 responden diketahui bahwa ibu hamil yang melakukan pemijatan perut pada saat masa kehamilan sebanyak 22 responden (73,4 %).
  2. Hasil penelitian dari 30 responden diketahui bahwa angka kejadian lilitan tali pusat sebanyak 19 responden (63,33 %).
  3. Hasil Uji Chi-Square dengan nilai p = 0,028 < α = 0,05, maka artinya ada hubungan pemijatan perut pada saat masa kehamilan dengan kejadian lilitan tali pusat.
  4. Saran

Dari kesimpulan di atas, peneliti mengusulkan beberapa saran sebagai berikut :

  1. Bagi Puskesmas dan Instansi terkait

Hasil penelitian ini diketahui bahwa adanya hubungan antara pemijatan perut pada saat masa kehamilan dengan kejadian lilitan tali pusat, sehingga diharapkan pihak Puskesmas dan Instansi terkait dapat memberikan penyuluhan kepada masyarakat agar menghindari pijat pada bagian perut pada saat masa kehamilan.

  1. Bagi Institusi Pendidikan

Dapat menambah khasanah dalam ilmu kebidanan, dapat dijadikan data dasar untuk melaksanakan penelitian dengan hubungan pemijatan perut pada saat masa kehamilan dengan kejadian lilitan tali pusat.

  1. Bagi Peneliti Lainnya

Bagi peneliti selanjutnya, dapat dilakukan penelitian lebih lanjut dengan variabel – variabel lainnya yang berhubungan dengan pemijatan perut pada saat masa kehamilan.

  1. Bagi Masyarakat

Penelitian ini menunjukkan bahwa adanya hubungan antara pemijatan perut pada saat masa kehamilan dengan kejadian lilitan tali pusat maka diharapkan masyarakat dapat menghindari pemijatan pada bagian perut pada saat masa kehamilan.